Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Danau hijau


__ADS_3

Sore itu El benar-benar menepati janjinya, untuk menjemput Kinar, dan bahkan ia juga mengajaknya untuk mampir kesuatu tempat.


"Ternyata pemandangan nya lebih indah ya kalau sore." Ujar Kinar, ketika kini telah sampai pada tempat yang di maksud El, gadis itu berlari kepinggir danau dengan wajah ceria.


Kinar berdiri di sekitar danau memandangi air danau yang berwarna kehijauan itu.


Berbeda dengan El, yang sejak tadi hanya memandangi wajah cantik istrinya dari samping.


Sesekali ia tersenyum, saat wajah gadis itu tertutupi oleh rambut panjangnya yang terkena hembusan angin disekitar danau, dan terlihat lebih menggemaskan lagi ketika gadis itu, mulai kerepotan mengumpulkan helai demi helai rambutnya yang terombang-ambing oleh angin yang semakin kencang.


"Ribet banget sih rambut lo!" ujar El.


Setelah melihat tingkah istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan tadi, El pun memutuskan untuk menghampiri Kinar, dan membantunya merapikan rambutnya.


"Bawa iket rambut?" tanyanya yang diangguki oleh Kinar, sembari mengeluarkan ikat rambut dari dalam tas kecilnya.


"Sini gue bantu iketin!" ucap El, dan mulai mengikat rambutnya asal.


"M-makasih El." ucapnya dengan wajah tersipu.


"Hmmm."


"Kamu sering kesini,?"


"Lumayan!"


"Bareng siapa?"


"Ayah!"


"Saya pikir bareng pacar."


"Gue kagak pernah bawa pacar gue ke tempat beginian!"


"Emangnya kamu pernah pacaran El?" tanya Kinar ragu.


"Pertanyaan lo aneh! lo pikir aja, masa cowok seganteng gue kagak pernah pacaran, gila lo!"


dalam hati ia terkekeh geli, harus membuat kebohongan itu di depan Kinar, dengan alasan tak ingin gadis itu Menertawakannya, karena hingga umurnya yang kini menginjak 18 tahun, ia sama sekali belum pernah berpacaran.


Padahal bukan hanya satu dua wanita saja yang selalu mendekatinya selama ini, bahkan banyak sekali diantara mereka yang terang-terangan Mengutarakan perasaan mereka pada El, namun tidak ada satupun dari mereka yang berhasil menyentuh hatinya.


"Yaudah sih, Saya kan nanyanya baik-baik, kenapa kamu jawabnya sewot gitu?" ujar Kinar mencebik kesal.


"Lagian kamu kesambet apaan sih, tumben banget ngajak Saya pergi, biasanya kan harus di ceramahin dulu sama bunda, baru mau!" lanjut Kinar, dengan nada menyindir.

__ADS_1


"Kata siapa tumben, emang ini juga disuruh bunda, ya kali gue mau ngajak-ngajak cewek cengeng model lo pergi-pergian, yang ada nanti gue repot sendiri." padahal ajakan kali ini jelas inisiatif nya sendiri, namun El tak mau mengakuinya, karena masih dengan sebuah alasan yang sama.


"Kamu itu emang nyebelin banget ya, saya salut sama cewek yang pernah pacaran sama kamu, sabar banget!"


"Maksud lo apaan, lo nyindir gue?" menunjuk dirinya sendiri.


"Ihs apaan sih, siapa juga yang nyindir!" Kinar mendelik kesal, lalu mencari tempat nyaman, yang bisa ia duduki.


"Lo sendiri udah pernah kesini sama siapa?" tiba-tiba El sudah duduk disampingnya, membuat Kinar menoleh kearahnya.


"Dulu saya suka kesini bareng ibu, ibu bilang kalau hati kita lagi sedih ataupun galau, disini adalah tempat kedua untuk mencurahkan hati setelah dari yang maha kuasa."


"Sebenarnya, ayah lo dimana sih, sorry sebelumnya kalau pertanyaan gue ini nggak enak di denger."


Kinar menarik nafas, lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Ayah udah bahagia sama keluarga barunya, dan mungkin nama saya udah sepenuhnya terhapus dari ingatannya."


"Selama ini Ayah dan keluarganya nggak pernah nganggap saya ada El, bagi mereka saya cuma sebuah kesialan yang harus disingkirkan jauh-jauh."


"Bahkan seumur hidup saya, saya tidak pernah sekalipun bertatap muka dengannya, selain di dalam foto yang ibu kasih 3 tahun yang lalu." ucap Kinar, menundukan wajahnya dalam.


El yang semula penasaran dengan ayah mertuanya tersebut, kini merasa sangat menyesal telah menanyakannya langsung pada Kinar, terlebih saat melihat wajah gadis itu mulai berubah sendu.


Tak menyangka di balik keceriaan yang gadis itu tunjukan, ternyata ada begitu banyak luka yang gadis itu sembunyikan.


Sedangkan Kinar, ia mulai menangis dalam pelukan El, seolah sedang mengeluarkan beban yang selama ini menghimpit tubuhnya.


"Lo bisa nangis sepuasnya di pelukan gue," lanjut El sembari mengusap-usap punggung istrinya.


Entah berapa lama Kinar menangis dalam pelukan laki-laki itu, hingga membuat kaos yang di kenakan El basah, bahkan cairan itu terasa hangat menembus kulit di bagian depannya.


"Saya minta maaf El," Kinar menyentuh baju El yang basah karena air matanya, "terserah kalau kamu mau bilang Saya cengeng, itu fakta kok!"


El terkekeh pelan, kemudian membantu Kinar mengusap sisa-sisa air mata yang menempel di kedua pipinya.


"Padahal tadinya gue udah nggak mau ngatain lo cengeng lho, tapi keknya elo sendiri yang minta."


"Nyebelin!" Kinar memukul pelan dadanya, yang membuat El tergelak.


Dan detik kemudian, keduanya saling pandang, dengan jantung yang berdetak tak karuan.


"El," ucap Kinar, saat merasakan wajah El, dengan wajahnya hanya berjarak beberapa centi.


"Eh, keknya udah mau gelap, Ayo kita pulang!" ujar El gelagapan, lalu berjalan mendahului Kinar.

__ADS_1


...


"Ngapain sih lo berdua kekamar gue,?" El hendak memarahi kedua adik kembarnya, namun tertahan, saat Kinar menatap El, sembari menggelengkan kepalanya.


"Gue kesini mau minta tolong kak Kinar, buat belajar matematika, bunda bilang kak Kinar jagonya, iya kan Sat?" Ujar Satya, yang diangguki oleh satria.


"Tapi bisa kan ketuk pintu dulu!" Sambung El, dengan nada suaranya yang lebih rendah.


"Iya deh, sorry bang lupa!" balas Satya.


"Bukan lupa, tapi kebiasaan!"


Keduanya pun meringis, lalu menyengir kuda.


"Gimana nih kak, mau kan bantuin kita berdua?" Satria buru-buru menghampiri Kinar dan memegang tangannya.


"Belajar ya belajar aja, nggak usah pegang-pegangin tangannya segala!" ucap El, sembari menjauhkan tangan Satria dari tangan istrinya.


"Elaahh, pelit banget sih lo bang, orang cuma megang doang!" gerutu Satria.


"Udah-udah, kalian bertiga ribut melulu sih, sekarang Satria dan Satya ikut saya, kita belajar di ruang keluarga aja, biarin El sendiri disini." ucap Kinar sembari melirik El dengan wajah masam, membuat kedua adik Kembarnya tersenyum senang.


"Wlee! emang enak, ditinggal sendiri!" Cibir Satya, lalu bergegas mengejar Satria dan Kinar yang sudah berjalan menuju ruang keluarga terlebih dulu.


Sedangkan El terus mengumpat, Mengucapkan sumpah serapah pada kedua adiknya tersebut.


..


Hampir 2 jam El menunggu akhirnya Kinarpun kembali masuk ke kamar, dengan membawa segelas susu ditangannya.


"Saya bawain susu hangat." menyodorkannya kehadapan El.


"Buat?" tanyanya dengan kening berkerut.


"Ya buat di minumlah, masa buat nyiram tanaman."


"Tumben banget, bawain gue susu."


"Saya kan lagi belajar jadi istri yang baik buat kamu El, bunda bilang kunci untuk mendapat kan keluarga harmonis itu, harus di mulai dari hal-hal kecil."


"Ya mungkin salah satunya seperti sekarang ini!"


Tanpa Kinar sadari El tersenyum tipis sembari terus memperhatikannya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2