
"Ada apa yah?" ujar Andra, saat memasuki ruangan sang Ayah, setelah di beri tahu sekertaris ayahnya, agar segera keruangannya saat ini juga.
"Duduk dulu!" ujarnya, menunjuk sebuah kursi yang berada dihadapannya.
"Kayanya serius banget ni yah?"
Surya memejamkan matanya, lalu menghela nafas, dan menghembuskan nya perlahan.
"Begini Ndra, ayah sudah pikirkan Baik-baik hal ini, bahkan sudah selama 2 tahun kebelakang."
"M-maksud ayah?"
"Ayah ingin berhenti Ndra, ayah ingin menghentikan kehidupan ayah yang tidak bermakna ini."
"Andra nggak ngerti yah." Andra menggeleng keras.
"Ayah rasa kamu sudah cukup pantas untuk menggantikan posisi ayah disini, ayah harus pergi Ndra."
"Ayah bercanda?" tanya Andra tak percaya.
"Kamu masih inget nggak Ndra, dengan cerita ayah dulu."
"Cerita ayah yang mana?"
"Soal anak dari istri masa lalu ayah."
"I-iya yah Andra ingat!"
"Ayah ingin mencari dia Ndra sampai ketemu,"
"Lalu bagaimana dengan ibu yah?"
"Kamu yang paling tahu hubungan ayah dan ibumu seperti apa akhir-akhir ini, coba kamu pikir Ndra, apa masih ada harapan setelah semuanya seperti ini." ucap Surya yang seketika membuat Andra bungkam.
"Dari awal pertemuan kami, kami berdua memang tidak memiliki kecocokan sama sekali, dan melanjutkan hubungan ini semakin jauh, adalah sebuah kesalahan, yang seharusnya tidak ayah lakukan sejak dulu."
"Untuk itu ayah akan pergi untuk membebaskan diri, serta memberi kebebasan juga untuk Ibumu."
"Tapi yah?"
"Terimakasih sudah menjadi anak ayah yang berbakti selama ini, Ayah bangga sekali padamu."
"Ayah nggak bisa begini yah?" ujar Andra terisak, tak kuasa menahan tangis.
Namun Surya tetap pada pendiriannya, untuk meninggalkan semuanya demi putri dari masa lalunya.
.....
"Kamu sudah gila?" ujar Adiguna setelah puas menampar wajahnya, hingga membuat ujung bibirnya robek.
Rupanya Surya benar-benar sudah memantapkan hatinya untuk meminta izin secara langsung tentang keinginannya.
"Cih, kamu lebih memilih meninggal kan semuanya demi anak tak berguna itu, silahkan, kamu sendiri yang akan rugi!" ujar Adiguna sarkas.
"Dan satu lagi, jangan pernah gunakan fasilitas yang berasal dari keluarga ini, silahkan pergi dengan tangan kosong."
__ADS_1
"Baik yah!" balas Surya tenang, lalu melangkah kan kakinya pelan, meninggal kan Adiguna yang menatapnya dengan rahang mengeras.
"Anak sialan, nggak tahu diri!" umpat Adiguna.
..............
Surya memandangi kopernya yang sudah terisi penuh oleh beberapa helai baju ganti, serta kebutuhan lainnya, yang ia masukan ke dalam sana.
Kemudian senyum seorang gadis yang baru ia temui sebanyak dua kali itu, melintas dalam ingatannya, membuat Surya menunda sebentar keberangkatan nya hari ini, demi membayangkan sejenak, senyum manis menenangkan seorang gadis tersebut.
"Oh jadi pergi juga rupanya?" ucap Yuniar sinis, saat melihat Surya keluar dari kamarnya dengan menarik sebuah koper besar miliknya.
"Secepatnya akan saya urus surat perceraian kita!"
"Bagus kalau begitu, tapi apa kamu Yakin, nggak akan menyesal meninggalkan keluarga ini, kamu sanggup hidup diluar sana?"
"Sanggup atau tidak, itu bukan urusan kamu Yuniar." balas Surya dengan amarah yang mulai menguasai, cukup sudah selama ini dia menjadi bahan hinaan Yuniar maupun keluarga nya sendiri.
"Baiklah, silahkan!"
Surya keluar dari rumah tersebut, lalu memesan sebuah Taxi, untuk mengantarnya ke sebuah tempat yang sudah ia siapkan beberapa tahun belakangan ini, karena sebelumnya ia sudah mengantisipasi akan hal-hal yang akan terjadi kedepan nya.
Selama 1 jam menempuh perjalanan, akhirnya ia sampai ditempat tujuannya, yaitu di sebuah rumah sederhana yang dikelilingi berbagai macam tanaman disekitarnya.
Disinilah sekarang ia akan tinggal dan memulai hidup barunya.
Ditempat lain Adiguna membanting semua barang, yang berada diatas meja kerjanya, tak terima bahwa Putra kebanggaan satu-satunya kini meninggalkan nya.
..........................
"Lho kok udah pergi lagi, baru juga sampe?" tanya Kinar heran.
"Mau ketemu si Bian sama Yoga, bentaran doang kok!" balasnya sembari menyampirkan jaket di bahunya, dan mencium keningnya sekilas.
"Dah sayang!" El mengusap kepalanya lalu kemudian bergegas pergi.
Setelah kepergian El lima menit yang lalu, kemudian sebuah mobil yang Kinar kenali terparkir dihalaman rumahnya.
"Bunda?"
"Ikut bunda yuk sebentar!"
"Kemana bun?"
"Ada aja pokoknya, nanti bunda jelasin didalam mobil!"
"Tapi Kinar belum ganti baju bun."
"Udah nggak apa-apa, udah cantik ini kok!"
Akhirnya Kinar pun hanya bisa pasrah dan menaiki mobil bundanya tersebut.
"Jadi gini nak, besok itu hari ulang tahunnya si kembar yang ke 15,"
"Oh jadi Satria sama Satya ulang tahun bun, kok nggak bilang dari kemarin, Kinar kan belum beli kado buat mereka."
__ADS_1
"Justru itu nak, bunda juga baru ingat tadi siang!" ujarnya yang kemudian terkekeh.
"Yaampun."
"Terus sekarang kita mau kemana?"
"Ke toko handphone, bantuin bunda milih ya nak!"
"Iya bun!"
...........
"Jadi gimana El, kita boleh nongkrong lagi kerumah?" tanya Bian yang saat ini sedang berada di sebuah Cafe sederhana, di samping sekolahnya.
"Sekalian nginep aja boleh nggak tuh?"
El terdiam sejenak, tidak mungkin juga ia kembali mengajak Teman-temannya kerumah, karena dengan begitu ia harus terus menyembunyikan istrinya di hadapan mereka. batinnya.
"Entar gue coba tanya ke nyokap dulu ya!"
"Siip!"
"Gimana Bi, lo berhasil deketin si Revi anaknya bu Rima itu?"
Ucap El mengalihkan pembicaraan.
"Ck, boro-boro, sekalinya deket, yang dia tanyain siapa coba?"
"Elo!" lanjut Bian dengan wajah memberengut, yang membuat Yoga tergelak keras.
"Sabar bro, gue udah sering ngalamin kok, intinya kalau lo punya gebetan di sekolahan tuh, harus banyak bersabar hati, karena yang ditanyain mereka itu si El terus." timpal Yoga yang merasa senasib dengannya.
"Bener banget tuh, padahal selama ini banyak banget cewek yang ngejar lo El, kalau gue jadi lo udah gue manfaatin tuh situasi kek gitu, banyak keuntungan nya tahu nggak sih?" sambung Bian antusias.
"Itu sih mau elo, bagi gue cukup satu cewek aja buat selamanya." balas El yang tanpa sadar tersenyum sendiri membayangkan wajah cantik istrinya.
"Dih ngapa tuh bocah, tumben banget lo senyum-senyum sendiri, kesambet lo ya!" ujar Bian sembari mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah El.
"Udah gila tuh si El, perlu obat keknya." timpal Yoga terkekeh geli.
Kemudian ketiganya dikagetkan dengan kedatangan jihan, yang tiba-tiba langsung memeluk tubuh El dari belakang.
"Deuuhh, nih titisan dewi ular main nyosor aja!" ucap Bian dengan suara lirih.
"Kagak ada ahlak emang tuh cewek, cantik sih tapi kelakuannya nggak banget!" timpal Yoga, yang terlihat muak.
El menghela nafasnya kasar, kemudian beranjak, menyentak tubuh Jihan hingga terhuyung ke belakang.
Namun seakan tak ada kata menyerah, Jihan pun dengan sigap memeluk tubuhnya.
Bersamaan dengan 2 wanita yang berbeda generasi datang, sembari menatapnya dengan tatapan yang sulit di Artikan.
"El?"
.
__ADS_1
.