
"Jangan gugup, dan jangan menunduk nak, jangan memperlihatkan sikap aslimu didepan keluarga Aditama." bisik Ando, ketika mereka sudah berada di pintu ruang VVIP, yang ditunjukan oleh salah seorang pelayan perempuan yang sengaja ditugaskan keluarga Aditama untuk menyambutnya, di restaurant tersebut.
"Iya yah!"
"Sebentar lagi mereka datang." Ando kembali berbisik.
Bersamaan dengan pintu ruangan tersebut yang kembali terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya dan 2 anak muda dibelakangnya, yang seketika membuat tubuh Kinar membeku.
"Hallo selamat malam, dengan pak Ando ya?" ujarnya, menghampiri Ando, kemudian menjabat tangannya.
"Betul pak, apa ini dengan pak Surya?" Ando kembali bertanya sembari tersenyum ramah.
"Betul pak betul, rupanya pak Ando ini masih sangat muda ya!" Surya tertawa sumbang.
"Pak Surya, bisa aja!"
"Kalau ini, siapanya?" Surya memicingkan matanya menatap Kinar.
"Putri saya pak." Ujar Ando, sembari merangkul bahu Kinar.
"Luar biasa, ayahnya tampan, anaknya juga cantik, pasti mirip ibunya ya?"
"Betul pak, mirip ibunya." balas Ando, seraya tersenyum.
Sedangkan Kinar, ia menatap sedih pada sosok Laki-laki dihadapannya, benarkah kalau Laki-laki itu ayahnya? batin Kinar.
"Oh iya, kenalkan juga ini kedua putra saya, Andra dan Bayu."
Kemudian mereka pun saling berjabat tangan, memperkenalkan diri mereka masing-masing.
"Jadi begini pak Ando, saya dan kedua anak saya ini, mewakili ayah saya pak Aditama, beliau tidak bisa hadir, karena ada hal mendadak, yang tidak bisa ditinggalkan." Ujar Surya, setelah mereka selesai memakan makan malamnya.
"Baik pak sama sekali tidak masalah, lagi pula mengenai pak Aditama yang tidak bisa hadir, dia sudah memberi tahu saya sebelumnya."
"Jadi bagai mana pak Ando?"
"Seperti kesepakatan awal saya dengan beliau, saya memutuskan untuk bekerja sama."
Hanya itu obrolan yang Kinar tangkap dengan jelas, selebihnya ia tidak ingat, karena kini hatinya sedang berkecamuk, disisi lain ia merasa bahagia bisa melihat wujud ayahnya secara langsung.
Namun disisi lain ia merasakan sakit yang tak tergambarkan, terlebih saat melihat ayahnya mengenalkan kedua putranya dengan sorot mata yang terlihat sangat membanggakannya.
Mereka terlihat begitu rukun dan bahagia dimata Kinar.
.....
Ditempat lain, di sebuah ruang keluarga, seorang perempuan yang memasuki usia kepala 4, tampak memijit dahinya berulang-ulang.
"Kamu ngapain sih El, mondar-mandir terus, bunda pusing tahu nggak sih!" protes Nada, yang melihat putra sulungnya begitu gelisah sejak kepergian istrinya.
"Tahu ihs abang, kaya tukang galon deh bolak-balik aja!" timpal Cantika yang sedang memainkan rambut barbie pemberian dari Kinar, yang sontak membuat Satria dan Satya pun mendongakan wajahnya menatap El.
"Tahu, kenapa sih lo bang, lo tenang aja, kak Kinar kagak bakalan kemana-mana lagi, orang perginya sama ayah." Ujar Satya.
"Biar kagak Bt mending maen game deh bang, sini!" Satria menepuk sofa disebelahnya.
El bergeming, namun detik kemudian ia berjalan memasuki kamarnya, mengambil benda pipih miliknya, lalu mencoba untuk menghubungi Kinar.
Namun, setelah beberapa kali ia mencoba menghubunginya, Kinar tak sekalipun menerima telponnya, membuat El berdecak, dan bertambah uring-uringan, terlebih saat ini jam sudah menunjukan pukul 21:47 malam.
__ADS_1
El menghembuskan nafasnya kasar, melemparkan benda pipih tersebut keatas kasur, meraih gitar yang tergantung di pojok kamarnya, lalu membuka pintu yang menembus balkon yang berada tepat didepan kamarnya tersebut.
. .
"Kak Kinar!" Cantika berlari sembari merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Kinar.
"Hei sayang, kok belum tidur sih, udah malem lo ini?" Kinar balas memeluk adik ipar bungsu kesayangannya itu.
"Ihs, Tika kan nungguin kakak, kemarin kan Tika belum sempet cerita ke kak Kinar, waktu Tika di bandung."
"Oh iya, coba kakak mau denger, Tika mau cerita apa?"
"Tika, ayo tidur nak ini udah malem, kasian kak Kinarnya kan cape baru pulang." ucap Ando, sembari memegang tangan Cantika, untuk Mengantakannya ke kamar.
"Tapi kan Tika mau cerita dulu yah."
"Besok aja ya nak, besok sore kan kak Kinar ada di rumah, dan Tika bisa mengobrol sepuasnya."
"Yaudah deh, selamat bobo kak!" Cantika melambaikan tangan sembari berlari kecil menuju kamarnya.
"Gimana, udah ketemu sama ayah kandung kamu nak?" ujar Nada, menghampirinya.
Kinar mengangguk, "Udah bun!" balasnya sembari tersenyum kecut.
"Dia ngenalin kamu?"
"Nggak bun, mana mungkin dia mengenali saya, kalaupun iya, mana mungkin juga dia mau menganggap saya."
"Sudah nak, tidak perlu dipikirkan, bunda ngerti betul sama perasaan kamu, yang penting Kinar sudah tidak penasaran lagi kan dengan sosok ayah?"
"Iya bun." balas Kinar, sambari memaksakan senyum nya.
"Siapa bun?" tanya Kinar, yang memang tidak mengerti dengan maksud ucapan ibu mertuanya tersebut.
"Yaampun, siapa lagi kalau bukan suami kamu itu nak, bunda bilang juga apa, dia itu udah jatuh cinta sama kamu, cuman dia itu gengsi aja yang digedein." bisik Nada sambil terkekeh.
"Yaudah sana, istirahat, bunda juga udah ngantuk!"
"B-baik bun."
..
Kinar membuka pintu kamarnya pelan, khawatir El sudah tertidur dan akan membangunkannya, namun saat ia melirik keatas ranjang, tidak ada siapa pun disana, bahkan kasurnya pun nyaris tak tersentuh, masih tertata rapi seperti saat ia hendak pergi tadi.
Dan ketika ia hendak membersihkan make up diwajahnya, samar-samar ia mendengar seseorang bernyanyi sambil bermain gitar, dibalkon kamarnya.
..
Pertama, kurasakan getaran
Yang kerap goyahkan rasa
Serasa sentuhan baru
Sinari hari-hariku
Pertama, diriku pun tergoda
Kilaunya matamu
__ADS_1
Runtuhkan angkuhnya dinding hati
Koyakkan batas sepiku, dinginku
Reza_pertama
..
"Suaranya bagus, saya nggak nyangka kalau ternyata kamu bisa nyanyi El!" Ujar Kinar, yang sudah duduk sejak tadi, mendengarkannya hingga selesai bernyanyi.
"lo, sejak kapan lo disini?" balas El, yang terlihat sedikit syok, mendapati Kinar sudah ada disampingnya, tanpa ia sadari.
"Baru aja!"
"Kamu kenapa belum tidur, besok kan harus sekolah?"
"Gue belum ngantuk!"
"Kata bunda tadi kamu nungguin saya, beneran?"
"Ck, siapa bilang!"
"Bunda."
"Nggak, jangan percaya bohong itu."
"Masa sih?" lanjut Kinar, dengan senyum dikulum.
"Serah, kalau lo nggak mau percaya!"
"Iya deh iya!"
"Gimana, lo udah ketemu sama bokap lo tadi?"
Kinar mengangguk, dengan tatapan lurus kedepan.
"Udah!" balasnya dengan suara lirih.
"Lo nggak seneng ketemu bokap lo?"
"Jujur, saya nggak tahu El, entah harus seneng atau sedih, bagi saya dia terlihat seperti orang asing,"
"Dan saya rasa ini cukup melihat dia untuk pertama dan terakhir kalinya."
"Nar?"
El pun menarik tubuh Kinar kedalam pelukannya.
"Barusan nyanyiin buat siapa sih, kayanya dalam banget," ujar Kinar, yang masih membenamkan wajahnya di dada El.
"Pikir aja sendiri!"
"Ihs, kamu tuh bisa nggak sih, kalau ngomong tuh nggak usah judes-judes!" Kinar menegakan tubuhnya, dengan bibir mengerucut.
"Nggak bisa, kecuali kalau lo cium!"
"Mesum!"
..
__ADS_1