
"Kok udah bangun sih, istirahat lagi aja nak!" ujar Nada ketika melihat Kinar, sedang menuruni anak tangga.
"Nggak ngantuk bun, oh iya bunda lihat El nggak?" tanyanya.
"Si El ditelpon temennya tadi, sekalian mau beli bingkisan buat jenguk si Dito sama ibunya si Akbar katanya."
"Gitu ya bun?"
"Iya, Kinar kenapa kok wajahnya murung gitu, El bikin masalah?"
Kinar menggeleng, "Nggak bun!"
"Kalau si El buat kesalahan, jangan sungkan cerita sama bunda nak!" ujar Nada sembari menggenggam tangannya.
Kinar kembali menggeleng, "Nggak bun, El baik banget selama ini, justru Kinarlah yang selalu membuat kesalahan, maafin Kinar bun, nggak bisa jadi istri yang baik, Kinar rasa emang kayaknya Kinar nggak pantes buat El, apa lebih baik Kinar menjauh aja bun dari hidup El." ucapnya, bersamaan dengan air matanya yang terjun tanpa izin.
"Kinar, jangan bicara seperti itu nak, setiap masalah pasti ada solusinya, tolong jangan menyerah nak, bunda tahu El sangat mencintai kamu nak, dan bunda yakin dia akan merasa sangat terpukul jika sampai berpisah denganmu, tolong jangan begini, pikirkan baik-baik nak."
"El terlalu baik buat Kinar bun!" Balasnya yang semakin terisak.
"Nggak nak, justru kamu yang terbaik buat El," tanpa sadar Nada pun ikut meneteskan air matanya, lalu memeluk menantu kesayangannya tersebut.
............
"Gimana kabarnya jagoan Venus ban, semoga lekas sembuh ya Dit, si trio kesepian tuh tanpa elo!" ujar El, yang kini tengah berada diruang rawat inap Dito, disebuah Rumah sakit, sembari meletakan parcel yang berisi buah-buahan.
"Thanks bos udah nengokin gue kesini, dan buat lo bertiga juga," ujar Dito, dengan suara lirih, dan sedikit memaksakan senyumnya.
"Jangan lupa makan lo, yang banyak, biar cepet pulih!" ujar Salman menyentuh bahunya.
"Obatnya juga di minum," timpal Alvin.
"Iya iya thanks semuanya!"
"Makasih ya adek-adek udah mampir kesini buat nengokin si Dito!" ujar bu Ningrum ibunya Dito.
"Sama-sama Bu, tapi saya harus pamit sekarang, karena mau keruangan sebelah, jenguk ibunya temen Dito." ujar El sopan, sembari menyerahkan Amplop coklat ketangan bu Ningrum.
"A-apa ini nak?" tanyanya, dengan tangan gemetar.
"Uang sedikit bu, buat Bantu-bantu pengobatan Dito, semoga bermanfaat ya!"
"I-ya iya, silahkan, sekali lagi terimakasih banyak dek!"
"Sama-sama Bu, cepet sembuh Dit!" ujarnya sebelum membuka pintu ruangan tersebut.
.........................
"Gimana Bar, keadaan ibu lo?" ujar El yang diikuti, Alvin, Hilman dan juga Salman dibelakangnya.
"Barusan abis dikasih obat, jadi sekarang lagi istirahat," balas Akbar, dengan raut wajah yang terlihat sangat lelah.
"Berarti Kita nggak bisa nemuin ibu elo ya!"
"Boleh kok kalau lo mau."
"Jangan deh, takutnya kalau kita masuk nanti ganggu istirahat ibu elo, kasihan!" sahut Salman.
"Yaudah gue titip ini aja buat ibu elo ya!" Alvin menyerahkan 1 parcel buah ketangan Akbar.
__ADS_1
"Ini juga ada sedikit uang, buat bantu biaya perawatan ibu lo Bar, semoga lekas sembuh ya!" Ujar El sembari menyerahkan sebuah Amplop ketangannya.
"Makasih banyak lo, gue nggak tahu harus bilang apa?" ujar Akbar penuh haru.
"Sama-sama, yaudah kita pamit dulu ya, titip salam buat ibu lo!" ujar El menepuk pundaknya pelan, seolah mengatakan agar dia harus selalu sabar dan kuat menghadapi ujian hidupnya.
"Makasih banyak kalian udah nyempetin mampir nengokin ibu gue!" ucap Akbar yang diangguki ke empatnya.
.......................
"Ini makanan kesukaan si El, bunda juga suka banget sih sebenernya!" ujar Nada terkekeh pelan, sembari mulai mencuci satu baskom Udang, yang kulitnya telah di kupas bersih.
"Mau dimasak apa bun?"
"Mau dimasak udang asam manis,
Saat ini keduanya tengah memasak untuk acara makan malam nanti.
"Kinar bisa masak udang?"
"Bisa bun, dulu almarhumah ibu juga suka,"
"Eh, beneran bisa, yaudah Kinar aja ya yang masak, kebetulan masakan bunda agak hambar!"
"Nanti kalau nggak enak gimana bun?"
"Enak pasti, lagian kalau si El tahu istrinya yang masakin, pasti bakalan dimakan kok!"
"Yaudah Kinar coba ya bun."
"Ok sayang."
"Selesai bun, silahkan di coba!" Kinar bergeser dari depan kompor.
"Kalau dari baunya, kayanya enak banget ini!" ujar Nada, yang mulai mencicipi masakan Kinar.
Kinar memperhatikan raut wajah ibu mertuanya ketika mulai mengunyah masakannya, ia menggigit bibir bawahnya takut jika masakannya tidak sesuai dengan seleranya.
"G-gimana bund, nggak enak ya?" ujar Kinar sembari meringis.
"Euhmz... ini enak banget, sumpah! bunda nggak bohong, enak banget!" ujar Nada yang kemudian kembali memasukan beberapa udang besar tersebut kedalam mulutnya.
"Kalau masakan yang lain Kinar yang masak, keberatan nggak, soalnya bunda emang nggak mahir masak-memasak, bi Odah lagi di pinjem Oma soalnya, katanya bi Salma lagi pulang kampung."
"Bisa aja bun, tapi Kinar takut masakannya nggak enak, apalagi kan buat tamu."
"Bunda yakin semua makanan Kinar enak kok, lagian om Gavin itu lebih suka kalau makanan rumahan kaya gini dibanding beli diluaran."
"Yaudah Kinar coba ya bun!" ujar Kinar yang tidak tega melihat raut wajah bundanya yang terlihat memohon.
"Selamat memasak!" ujar Nada Antusias, sembari mulai membantu mengupas bawang, serta memotong sayuran untuk bahan-bahan memasak nya.
45 menit berkutat di dapur, akhirnya Kinar pun selesai dengan pekerjaan nya.
"Wah, enak-enak semua nih kayaknya, bunda yakin semua orang pasti suka masakannya."
"Tapi Kinar nggak pede bun."
"Udah tenang aja, bunda jamin semuanya suka, eh tapi ngomong-ngomong si El kemana ya, kok belum pulang." ujar Nada sembari menoleh keruang tengah.
__ADS_1
..............
"Hai sayang, udah cantik aja sih istriku!" ujar El sembari menenggelamkan wajahnya di leher Kinar, menghirup dalam aroma Kinar yang sudah menjadi candunya.
"Kok baru pulang sih?"
"Kenapa, kangen ya?" bisiknya.
"Maaf yang, tadi sepulang dari rumah sakit, si trio ngajak mampir ke warung kopi bang Fajar, kangen katanya!"
"Yaudah mandi gih, bunda bilang om Gavin setengah jam lagi sampe sini!"
"Jam berapa sih sekarang?"
"Jam 19:39."
"Yaudah aku mandi dulu ya!"
"Iya,"
"Udah selesai kan?" tanya Kinar, saat melihat El sudah mengenakan pakaiannya, setelah mandi.
"Belum!" balasnya dengan senyum dikulum.
"Apa lagi?" tanya Kinar dengan dahi berkerut.
"Sun dulu!" bisiknya.
"Ihs dasar me sum!"
Akhirnya waktu menuju kebawah pun tertunda selama 10 menit, karena El tak mengijinkan Kinar untuk turun, sebelum keinginannya terpenuhi.
El terlihat begitu bersemangat, dengan wajah ceria, sedangkan Kinar memasang raut wajah sebaliknya.
"Eh, Om Gavin udah datang, katanya setengah jam lagi?" ujar El dan langsung menyalaminya, yang diikuti oleh Kinar.
"Udah 15 menit yang lalu kali, surprise dong! ah dasar pengantin baru ngamar mulu sih!" ujar Gavin sambil terkekeh.
"Cantik banget ya, istrinya El, saya juga mau dong punya mantu begini!" ujar Raya istri Gavin, yang membuat Kinar tersipu.
"Udah, ngobrol nya nanti aja, sekarang pada makan dulu yuk!" ujar Nada menghentikan obrolan mereka.
"Ini siapa yang masak, kok rasanya gimana gitu?" ujar Gavin disaat semuanya sedang menikmati makanannya dalam diam.
"Enak banget ya pa?" sambung Raya.
"Iya bun, kok beda dari biasanya ya!" timpal Ando.
Sedangkan Kinar sudah bergetar, sembari mencengkram kuat sendoknya, khawatir makanan nya tidak sesuai dengan selera mereka.
"Iya, beneran ini tuh enak banget, masakan rumahan tapi gimana gitu, intinya enak banget!" Ujar Gavin yang semakin lahap memakan makanannya, begitupun dengan Raya.
"Udangnnya juga tumben rasanya gurih banget bun!" timpal El, yang juga semakin lahap.
"Ini semua masakan Kinar!" sahut Nada, yang sontak membuat semuanya memandang kearah Kinar.
.
.
__ADS_1
.......