Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Pil kontrasepsi part 2


__ADS_3

"El, saya bisa jelasin!" ujar Kinar sembari menunduk, setelah membersihkan luka El, serta menutupi lukanya menggunakan perban.


Tanpa mengatakan apapun, El bergegas keluar, berjalan menuju garasi, lalu mengendarai mobilnya.


Sedangkan Kinar, Lagi-lagi hanya bisa menangis, sembari memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Maafin saya El," ucapnya dengan suara lirih, lalu kembali ke kamarnya, untuk membersihkan kekacauan yang dibuat El tadi.


Setelah selesai membereskan semuanya, Kinarpun berpamitan pada bi Rumi untuk pergi keluar, kalau-kalau El pulang lebih dulu nantinya, dan bertanya tentang keberadaan nya.


....


Disinilah, Kinar kini, Berjongkok di samping makam sang ibu tercintanya.


"Ibu Kinar kangen, kangen banget!" ucapnya, seraya memeluk papan nisan sang ibu.


"Seharusnya hari ini Kinar datang sama El bu, tapi El nya lagi marah, dan semuanya karena Kinar!" ucap Kinar semakin terisak.


Kinar melihat jam di pergelangan tangannya yang kini menunjukkan pukul 17:03, akhirnya ia pun memutuskan untuk segera pulang, dan berharap El pun sudah berada dirumah, dan mau mendengarkan penjelasannya.


Saat Kinar sedang menunggu Taxi yang di pesannya, tiba-tiba seseorang memanggilnya dari dalam mobil.


"Kinar, ketemu lagi kita, kayanya kita emang jodoh deh!" ucapnya seraya terkekeh, sedangkan Kinar hanya diam meringis, saat ini ia terlalu malas untuk sekedar ngobrol atau pun bercanda dengan siapapun, karena kini isi kepala dan hatinya hanya di penuhi El seorang.


"Mau kemana sih?" tanyanya, saat sudah turun dari mobilnya.


"M-mau pulang kak,"


"Yaudah ayok, saya Antar!"


"Eh nggak kak, saya udah pesen Taxi online, bentar lagi juga nyampe."


"Cancel ajalah, biar saya yang antar kamu!"


"Eh jangan kak kasian, lagian saya sedang ada urusan kak!"


"Ok, nggak masalah, tapi kapan-kapan harus mau ya!"


"I-iya kak!"


"Kinar Kinar, kamu itu manis banget sih!" ucapnya seraya mengusap kepalanya, tanpa sempat Kinar cegah.


"Kamu umur berapa sih Nar,?"


"Bulan depan 18 tahun kak!"


"Masa sih, saya pikir umur kamu baru 15 lho!" balas Andra sambil tergelak.


"Saya 23 tahun Nar, nggak ketuaan kan buat kamu?"


"M-maksud kak Andra?" tanyanya bingung.

__ADS_1


"Nanti juga kamu ngerti!" Lagi-lagi ia tergelak sendiri.


"Bagaimana keadaan om Surya kak?"


"Ayah, cie perhatian banget sih!"


"Ayah baik kok." Kinar pun mengangguk-anggukan kepala.


"Saya dengar, kak Andra punya adik yang lain selain Bayu kak?"


"Iya, kok kamu tahu?"


"Ya pernah denger aja!"


"Punya Nar, Vita namanya, saya sayang banget sama dia, umurnya 2 tahun lebih muda dari kamu, tapi saya rasa dia dilahirkan di keluarga yang salah."


"M-maksud kak Andra?"


"Entahlah Nar, mungkin kalau saya ceritain tentang keluarga saya, nggak akan selesai dalam satu hari, terlalu ribet dan berbelit-belit aja menurut saya."


"Intinya kakek besar kami tidak mau memiliki seorang cucu perempuan."


Deg!


"Dengan mbak Kinar?" ucap seseorang yang berasal dari dalam Taxi dari arah belakang.


"Betul pak saya!"


"Yaudah Hati-hati cantik!"


"I-iya kak!"


...............


Kinar melangkahkan kakinya dengan gontai menuju kamarnya, hari ini baik hati maupun raganya terasa lelah dan berkecamuk.


"Ck, jadi gitu ya kelakuan kamu kalau diluar, ketemuan sama cowok lain, mesra-mesraan di pinggir jalan, enak banget ya, hebat kamu Nar, pantes aja nggak mau ngandung anak aku ternyata kamu memang masih mengharapkan cowok lain kan?" Ucap El yang berdiri didepan jendela kamarnya.


"Maksud kamu apa sih El,?" Kinar mengepalkan tangannya sekuat tenaga, berharap air matanya tidak keluar saat ini.


"Nggak usah pura-pura polos deh, kamu pikir aku nggak tahu, aku tadi ada disana juga, ngeliat semua kelakuan kamu sama cowok brengsek itu!"


"Kamu salah El, itu semua nggak seperti yang kamu pikirin,itu semua nggak bener."


"Terus apa hah?" bentak El.


"Itu kak Andra, anak tirinya ayah saya, saya kan udah pernah cerita sebelumnya."


"Dan kamu pikir aku percaya hah?"


"El?"

__ADS_1


"Apa sih kelebihan dia, sampai kamu bela-belain cowok brengsek itu, uang, saham, atau mobil mewah, apa yang dia kasih?"


"El, cukup!" akhirnya air mata yang sejak tadi ditahannya, kini tumpah seketika, tak terbendung lagi.


"Kamu jahat banget tahu nggak, sampai mikir sejauh itu, kamu pikir saya perempuan apaan El."


Kinar membuka tasnya, mengambil pil yang sempat ia simpan tadi saat El melemparkan nya didalam kamarnya, dengan tergesa.


"Kamu lihat ini baik-baik El, kamu hitung ada berapa pil yang kosong, dan setelahnya ada berapa pil yang masih utuh, coba lihat El." ucap Kinar dengan tangan bergetar.


El memperhatikan selembar pil tersebut, dan sesekali menatap Kinar bingung.


"Hanya 7 pil yang kosong El, dari hari pertama hingga ke 7 itu, kamu nggak bilang sebelumnya kan kalau kamu mau saya hamil, karena saya juga berpikir mana mungkin anak laki-laki remaja seusia kamu udah berpikir sampai kesitu."


"Dan setelah hari ke 7 itu, kamu minta saya agar segera hamil, dan dari situ saya udah ketakutan karena selama 7 hari itu saya terlanjur minum pil kontrasepsi, tapi coba kamu lihat El, pil nya utuh kan, karena sejak hari itu saya nggak pernah meminumnya lagi."


"Dan juga saya sempat trauma mengingat masa lalu saya, kamu tahu El ibu saya di usir dari rumah saat saya berusia satu hari, kamu nggak bisa bayangin kan rasanya seperti apa,"


"Ibu saya harus keluar menggendong saya dengan keadaan yang masih lemah, tanpa diberi uang sepeserpun, salah kah El jika saya memiliki rasa takut saat ini."


El pun terdiam, dengan mata yang masih memandangi pil di genggamannya, ia membenarkan ucapan Kinar, karena disana juga jelas tertera hari maupun tanggal terakhir Kinar meminumnya, yang bahkan kini sudah lewat 8 hari.


"Kamu percaya kan El?" lanjut Kinar dengan suara lirih.


"Nggak!"


"El, saya minta maaf?"


"El jangan kaya gini, saya minta maaf!" ucapnya memeluk tubuh El dari belakang, saat laki-laki itu hendak kembali keluar.


Tubuh El menegang, hawa panas seketika menjalar diseluruh tubuhnya, ini pertama kalinya Kinar mau memeluknya atas inisiatif nya sendiri.


"Saya janji El, saya akan ikutin apapun mau kamu, saya akan berusaha jadi istri yang penurut!"


"Nggak bisa!" El mati-matian menahan perasaannya yang ingin balas memeluk kekasihnya itu, ia ingin melihat sejauh apa gadis itu akan mempertahankannya.


"El, saya minta maaf!"


"Ok, tapi ada syaratnya!"


"S-syaratnya apa?"


"Yang pertama, kamu harus berhenti bekerja, dan yang kedua, kamu harus siap untuk segera mengandung anak aku."


"Tapi El!"


"Pilihan ada ditangan kamu!" ucap El dan dalam satu kali tarikan kedua tangan Kinar terlepas dari pinggangnya, lalu El pun kembali melanjutkan langkahnya.


"Saya setuju dengan kedua syarat yang kamu kasih El!" ucap Kinar, yang seketika membuat langkah El kembali terhenti.


.

__ADS_1


.


__ADS_2