
"Gimana Run, lancar semua kan?" tanya Surya ketika pagi ini tengah mengontrol beberapa warung makan miliknya, yang ia buat secara diam-diam, tanpa sepengetahuan ayah maupun mantan istrinya.
"Lancar pak, tambah rame malah!" balas Harun, seraya mempersilahkan nya untuk duduk, dan menikmati hidangan yang ada disana.
"Saya dengar kamu baru bercerai dengan istrimu Run, benar?" tanyanya sembari mulai menikmati makanan nya.
"Ayo makan bareng Run, temani saya!"
"Maaf Pak, saya baru aja selesai, masih kenyang!" balasnya seraya mengusap pelan perutnya.
"Benar pak, rupanya gosip nya sudah menyebarkan begitu cepat ya!" balasnya seraya terkekeh kecil.
"Kita bernasib sama Run."
"A-apa, maksud bapak?"
"Saya juga baru bercerai 2 minggu yang lalu,"
"Lah k-kenapa pak!"
"Ya begitulah Run, saya rasa karena diantara kami berdua sudah tidak ada kecocokan dalam diri masing-masing, dan mungkin untuk sekarang dan kedepannya saya memilih untuk hidup sendiri saja."
"Lalu bagaimana dengan anak-anak bapak?"
"Dia lebih memilih bersama ibunya, ya mungkin karena tahu saya ini nggak punya apa-apa Run, mereka itu nggak akan sanggup hidup susah, karena sedari kecil mereka sudah dimanjakan dengan limpahan harta."
Harun pun mengangguk-angguk mengerti.
Surya menghentikan aktifitas makannya, mendorong piring kearah depan, lalu meminum satu botol air mineral hingga tersisa setengah.
"Mungkin ini semua adalah balasan atas Dosa-dosa saya di masa lalu Run, kau tahu sebelum menikah dengan Yuniar mantan istri saya yang ini, saya sudah pernah memiliki istri dan anak dulu."
Harun melebarkan matanya, mencerna semua yang dikatakan Surya.
"Saya sedang berusaha mencarinya Run, tapi rasanya untuk menemukan mereka itu sangat sulit, karena saya tidak memiliki petunjuk apapun saat ini."
"Saya do'akan semoga lekas bertemu dengan mereka ya pak!"
"Aamiin Run, saya berharap secepatnya."
..........
Di tempat yang berbeda, siang ini El sepulang sekolah bergegas mengganti pakaiannya, karena ia akan berangkat untuk melaksanakan kegiatan nya seperti biasa.
"El?" ucap Kinar lirih, lalu bergegas menghampirinya, untuk membantu mengancingkan kemejanya.
"Kenapa sayang, kok mukanya kaya Bt gitu sih?"
"Pengen keluar, bosen dirumah terus." balasnya seraya mengerucutkan bibir, hingga membuat El tidak tahan untuk tidak menge cupnya.
"Mau ikut, tapi panas lho yang, aku mau ke proyek soalnya." ujar El, dengan sebelah tangan mengelus sisi wajahnya.
"Nggak apa-apa dari pada dirumah terus, bosen banget, boleh ya, please!"
__ADS_1
Kalau sudah begini, bagaimana bisa seorang El-syahki untuk tidak goyah, saat istrinya memohon dengan gaya yang begitu sangat manis menurutnya.
"Yaudah boleh, tapi kalau nanti kepanasan, diem aja di mobil ya!"
"Kamu mau bawa mobil?"
"Iya lah, nggak rela dong bidadariku kepanasan nanti!" ucapnya dengan senyum menggoda, yang sontak membuat Kinar lagi-lagi tersipu untuk yang kesekian kalinya.
"Yaudah aku ganti baju dulu ya!'' balasnya sumringah.
" Iya sayang, inget ya jangan yang Ngetat-ngetat jangan yang pendek juga, disana cowok semua lho."
"Iya iya!" balas Kinar dengan suara setengah berteriak karena sudah memasuki kamar mandi.
"Masih jauh tempatnya?" tanya Kinar, saat keduanya kini sudah berada di dalam mobil dan sudah menempuh perjalanan selama beberapa menit.
"Deket kok, bentar lagi nyampe, nah itu dia!" El menunjuk bangunan yang sudah setengah jadi didepannya.
"Mau turun?" tawarnya saat El kini sudah menepikan mobilnya dengan jarak beberapa meter dari area pembangunan pabrik.
"Mau!"
"Yaudah Ayo!"
"Udah mau jadi ya pabrik nya, padahal kan kemarin kamu baru cerita kalau pabriknya baru dibangun beberapa hari."
"Ini udah lebih dari sebulan sayang, lagian setelah ini prosesnya masih lama, ini tuh baru berdiri aja, belum berbentuk apapun."
"Hati-hati dong sayang jalannya," El semakin mengeratkan genggamannya.
"Om?"
"Eh El, aduh siape nih cakep-cakep dibawa ketempat beginian?"
"Kenalin ini Kinar, istri saya bang!"
"Aduduh, jadi seriusan yang dbilang si Gavin itu, kalau lo udah married El, bener-bener sulit dipercaya!" ujar Gerry menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kinar Om!" ujar Kinar sembari mengulurkan tangannya.
"Gerry, temen baek bapaknya si El, deuh emang bisa banget ya si El nyari bini cakep banget begini, kagak beda jauh pokoknya dah sama bapaknya dulu." ucap Gerry seraya membalas uluran tangan Kinar.
"Om bisa aja!"
"Yaudah nyari tempat yang aman gih, yang ademan dikit, kasian bini lo El."
"Yaudah saya kesana dulu bentar ya om!"
"Ok ok."
"Nunggu di tempat warung makan bu Lastri mau?" tanya El sembari mengusap bulir-bulir keringat yang mulai bermunculan di dahi Kinar.
"Yang mana?"
__ADS_1
"Tempatnya agak kedalem sih, tapi disana tempatnya enak, adem juga, terus kalau siang warungnya lumayan rame."
"Yaudah boleh!"
Keduanya pun bergegas berjalan melewati gang sempit menuju warung bu Lastri, warung sederhana yang menjual nasi serta berbagai macam masakan khas Sunda.
"Rame banget El!" ujar Kinar, memegangi ujung kemeja yang di kenakan El, saat keduanya kini memasuki warung makan bu Lastri.
El menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari-cari bangku yang tersisa untuk mereka berdua, karena dari 12 bangku yang tersedia sudah terisi penuh oleh para pengunjung yang kebanyakan para pekerja dari pabrik sebelah.
"Kita tunggu sebentar ya yang, udah pada mau selesai kok mereka."
Kinarpun mengangguk kecil, sembari memperhatikan keadaan sekitar.
"Ayo duduk, udah ada yang kosong tuh!" ujar El sembari menarik tangannya pelan menuju meja yang berada di paling pojok.
"Emang disini selalu rame ya,?" ujar Kinar sembari menarik kursi untuk ia duduki.
"Iya, apalagi kalau jam istirahat, karyawan pabrik pasti ngantri makan disini!"
"Emangnya nggak ada lagi tempat makan selain disini?"
"Banyak kok, tapi katanya disini itu paling enak plus paling murah, jadi kebanyakan ya larinya pada kesini semua."
"Bentar ya, aku pesen makanan nya dulu!" lanjut El sembari beranjak dari duduknya.
"Ini dia, silahkan tuan putri!" ucap El yang sudah kembali membawa 2 piring nasi serta 2 ekor ikan mujair goreng, sambal, serta lalapan.
"Lebih enak kalau makannya pake tangan yang!" lanjut El sembari mencuci tangannya didalam baskom kecil yang berisi air bersih, yang kemudian diikuti oleh Kinar.
Keduanya pun memakan makanannya dengan lahap, hingga tandas dalam waktu singkat.
"Yang nggak apa-apa kan kalau aku tinggal dulu disini, aku mau ngecek bangunannya sebentar, nggak lama kok!"
"Kan aku bisa sekalian ikut?"
"Panas yang, kotor juga, bentar aja ya, abis itu aku langsung balik lagi kesini,"
"Yaudah deh!" balasnya lesu.
"I love you bidadari ku!" tanpa rasa malu ia pun mengecup lembut keningnya, dan bergegas pergi.
Sedangkan Kinar hanya mengulum senyum, memandangi punggung suaminya hingga menghilang dalam pandangan nya.
Untuk mengurangi rasa bosannya selagi menunggu El, Kinarpun iseng-iseng mengirim pesan chat pada Mia sahabatnya.
Hingga seseorang yang baru saja datang mengalihkan perhatiannya.
"Kinar kan?"
.
.
__ADS_1