
"Tumben lo udah dirumah jam segini,?" ucap El yang kini berjalan kearah meja makan menarik kursi lalu mendudukkan dirinya tepat di samping Satria.
"Udah jadi anak rumahan sekarang dia bang!" sahut Satya, sedangkan Satria hanya diam sembari mengaduk-ngaduk makanannya dengan sangat malas.
"Insyaf lo!" lanjut El, sembari meneguk minuman yang berada di depan Satya.
"Elah, minuman gue itu Bang!" protes Satya.
"Tinggal minta lagi sama bibi sih, ribet banget lo!"
"Ck!"
"Bunda kemana, kok sepi?"
"Ke toko kue, sekalian jemput Cantika katanya."
"Tumben lo maen Bang, biasanya kan lo sibuk sama kerjaan."
"Ck, justru ini mau santai dulu, cape gue 2 minggu kemarin ngebut kerja!"
"Lo pikir balapan apa, ngebut?"
"Tahu ah berisik lo, harusnya sekarang tuh elo berdua udah terjun bantuin gue, nerusin usahanya Ayah, gue juga dulu seusia elo berdua deh pas mulai kerja."
"Gue kagak minat bang, kecuali kalau gue jadi model, secara gue kan cakep!" ucap Satya sembari memberikan senyum terbaik nya.
"Cocok sih lo jadi model emang,"
"Wih, iyalah gue gitu lho!"
"Cocok jadi model iklan oli bekas maksudnya!" balas El yang kemudian beranjak kearah kulkas, mengambil satu botol air mineral dingin dan di teguknya hingga tersisa setengah.
"Anjirr, jahat banget lo bang!"
"Salah lo sendiri pengen jadi model segala, gue kasih tahu ni ya, muka-muka kek lo ini tuh cocoknya di bengkel tahu nggak, sama kek gue!"
"Jangan gue dong, tuh si Satria aja yang bantuin lo bang!"
"Anjirr, kok jadi Bawa-bawa nama gue!" Satria yang sejak tadi hanya diam pun kini mulai melayangkan protesnya.
"Lah emang dari tadi kan bang El bahas kita berdua!" sahut Satya.
"Ogah gue, gue tuh pengen punya perusahaan kek ayah gitu, siapa tahu kan gue entar jadi CEO muda plus cakep, iya nggak sih?"
"Ngimpi!" ucap El dan Satya bersamaan.
__ADS_1
"Ck!"
"Oh iya bang, besok gue nginep ya dirumah elo, lusa kan libur, lo ikut kagak Sat?" menoleh kearah Satria, yang menganggukan kepalanya.
"Serah, tapi jangan lupa lo izin sama bunda, yaudah gue cabut dulu ya, titip salam buat bunda!" ujarnya, yang sudah berjalan kearah luar.
Sepulang sekolah tadi El memang sengaja mampir kerumah bundanya, untuk meminta izin menginap di salah satu Villa ayahnya yang terletak di daerah bogor, minggu depan.
**********
"Kenapa dia, tumben akhir-akhir ini banyak diemnya?" ujar Hardi, yang memperhatikan wajah murung Jihan beberapa hari ini.
"Dia itu lagi pusing pa, papa tahu sendiri kan bentar lagi dia lulus, dia pusing harus menghafal ini dan itu." balas Widia beralasan.
"Ck yang benar saja, mana pernah peduli dia soal sekolah,"
"Papa kok gitu sih, harusnya papa seneng dong cucu papa banyak perubahan sekarang!"
"Sulit di percaya!"
"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Mira yang baru saja datang dengan setoples cemilan di tangannya.
"Ini lho ma, masa papa bilang dia nggak percaya kalau Jihan sekarang banyak berubah."
"Lho kenapa sih pa, bagus dong kalau Jihan banyak berubah, seenggaknya kan dia jadi lebih baik."
**********
"Jadi lo berdua seriusan mau nginep dirumah gue?" ucap El, saat kedua adiknya menerobos masuk ke rumahnya sore ini.
"Elaaah, masa gue bercanda sih bang, beneran lah!" balas Satya yang langsung mendudukkan dirinya diatas sofa, tanpa menunggu pemilik rumah mempersilahkan nya untuk duduk.
"Lo punya minuman apa bang, tenggorokan gue kering haus nih gue!" ujar Satria, sembari berjalan menuju dapur rumahnya.
"Sekalian dong, bikinin gue coklat panas ya, air nya jangan banyak-banyak." timpal Satya.
"Anjirr, tamu kagak ada akhlak emang lo berdua!" El mendengus, namun ia ikut melangkah mengikuti Satria.
"Inget, tamu adalah raja bang!" lanjut Satya yang masih terdengar jelas ditelinga El.
"Seriusan lo udah kagak pacar-pacaran lagi?" tanya El, saat keduanya kini sudah berada di dapur, dengan Satria yang sibuk mengubek-ubek isi kulkas El, dan El yang sibuk menyeduh coklat panas untuknya dan Satya.
"Ya kalau buat sekarang sih mungkin iya, tapi gue kagak bisa jamin kalau udah masuk SMA, secara kan ceweknya cakep-cakep, bohai juga!" balasnya sambil terkekeh.
Pletakk.. El menyentil kening Satria, "Otak lo emang bener-bener musti di cuci keknya, parah lo!"
__ADS_1
"Gue jadi ngebayangin nikah muda tahu nggak sih bang, enak kali ya, tiap malem ada yang ngelonin, ada yang merhatiin, ah gue jadi pengen nikah juga bang!" ucapnya, sembari memejamkan mata membayangkan indahnya memiliki seorang istri.
Pletakk.. Lagi-lagi El menyentil keningnya, membuyarkan semua lamunan sang adik.
"Belajar yang bener, mikirin nikah-nikah, udah bisa apa lo ngomong mau punya bini segala!"
"Ck, gue udah ngerti kali bang caranya bikin an_"
"Udah udah, kedepan gih bosen gue denger celotehan lo!" potong El, seraya mendorong tubuh Satria, menuju ruang tamu, dimana Satya sedang menunggunya.
"Elah, gue kan belom selesai ngomong bang?" protesnya.
"Nggak peduli gue, dan nggak mau denger!"
"Ck, kagak seru banget sih lo bang!"
"Serah!"
"Eh ada kak Kinar, makin cakep aja lo kak?" ujar Satria, sedangkan Kinar yang ingin membuat teh hangat pun hanya mengulum senyum.
"Kagak usah modusin bini gue!" protes El.
"Elahh, siapa yang mau modusin coba, laki lo posesif banget ya kak?"
"Jadi nginep disini?" tanya Kinar, untuk menghindari obrolan absurd kedua adik kakak yang berada disamping nya itu.
"Jadi dong, masa udah nyampe sini mau balik lagi, kan sayang!"
"Udah dikasih tahu kamarnya yang mana, sama abang?" lanjut Kinar, setelah selesai membuat teh hangat untuk dirinya sendiri.
"Belum kak, mana ada bang El seperhatian itu sama adek-adeknya, paling nanti disuruh gelar tikar tidur diruang tamu, ia nggak Sat?" ujar Satria, saat melihat Satya datang menghampiri ketiganya.
"Iya iya apaan, ngomongin apa sih lo!" balas Satya sekenanya, karena memang tidak mengerti apa-apa.
"Ck, ni bocah kagak ada ahlak banget sih, kagak bisa banget diajak kerja samanya." Satria menoyor kepala Satya dengan perasaan kesal.
"Enak aja diruang tamu, orang gue mau nyuruh lo berdua tidur di gudang nemenin mbak Ti kok!"
"Mbak Ti siapa bang, pembantu baru?" tanya Satya polos.
"Mbak Tikus!" balasnya, lalu ngeloyor pergi.
"Anjirr, cakep banget panggilannya, gue pikir nama orang tahu nggak sih, eh tahunya makhluk unyu!" Satya menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Omongan abang kalian ggak usah dianggap, yuk keatas kakak anterin ke kamar kalian!" Kinar pun menggiring keduanya, menuju kamar yang telah ia siapkan untuk kedua adik kembarnya itu.
__ADS_1
.
.