Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Kamu Juleha Kan!


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu sejak Burhan dan keluarganya datang melamar. Kehidupan keluarga pak Cipto kembali seperti sebelumnya karena setelah kejadian malam itu, keluarga harmonis tersebut mendadak menjadi viral dan tranding topik di desanya. Tentu saja, setiap hari Shasa disalahkan bu Kokom karena menjadi penyebab keluarganya menjadi bahan ghibah offline dan online emak-emak.


Bu Kokom hanya kesal karena semua orang menyalahkan putrinya. Kemarahan itu akhirnya dilampiaskan kepada Shasa. Bu Kokom tak bisa berpikir jernih. Beliau tidak terima jika Shasa disalahkan orang lain tapi beliau sendiri menyalahkan Shasa. Kerumitan macam apa ini!


Seiring berjalannya waktu, bu Kokom akhirnya bisa menerima kenyataan yang ada. Beliau akhirnya membiarkan keluarganya menjadi bahan ghibah di semua kalangan. Bersikap masa bodoh sepertinya lebih baik untuk kewarasan yang hakiki. Bu Kokom menutup telinga agar bisa hidup bahagia seperti biasanya.


Angin berhembus kencang kala sang raja sinar menampakkan keangkuhannya. Cuaca panas tengah melanda daerah tempat tinggal Shasa. Terik matahari seakan membuat semua orang memilih untuk bersembunyi di dalam rumah.


"Ceu ... Kang Somad hadir membawa kabar gembira nih!" teriak seorang pria setengah matang yang berdiri di depan warung bu Kokom.


"duh, Kang Somad! kenapa nagihnya siang-siang begini sih!" gerutu bu Kokom saat keluar dari dalam warung untuk menemui Kang Somad yang sedang duduk di depan warung.


"Tenang, Ceu! saya datang kesini bukan untuk nagih kreditan panci! tapi saya hanya ingin memberi Ceu ceu undangan!" ujar Somad seraya menyerahkan undangan berwarna hijau tosca kepada bu Kokom.


"ini undangan apa? undangan khitan?" seloroh bu Kokom saat menerima undangan tersebut.


"Sembarang! nanti habis dong kalau saya khitan lagi!" jawab Somad, "Ceu ceu jangan lupa datang ya, saya nikah sama Tantri itu loh!" bisik Somad yang membuat Bu Kokom membelalakkan mata.


"wah kamu hebat pisan euy! akhirnya bisa menaklukkan dia!" puji bu Kokom sambil menepuk bahu Somad.


Setelah ngobrol beberapa menit, akhirnya Somad pamit pergi, ia akan melanjutkan bagi-bagi undangan kepada warga setempat—khususnya pelanggan perkreditannya selama ini.


"undangan dari siapa, Ma?" tanya pak Cipto seraya duduk di dalam warung atau lebih tepatnya di samping bu Kokom yang sedang mengupas bawang.

__ADS_1


"itu dari si Somad, Yah!" jawab bu Kokom tanpa mengalihkan pandangannya, "Ayah mau dibuatkan kopi?" tanya bu Kokom seraya menatap wajah lelah sang suami yang baru saja menyelesaikan pekerjaan di bengkel.


"Es cincau saja, Ma! pasti seger kalau diminum panas-panas begini!" ucap pak Cipto.


Beberapa menit kemudian segelas es cincau tersaji di atas meja. Rasa dahaga membuat pak Cipto menghabiskan setengah gelas minuman menyegarkan itu.


"Yah, bagaimana ini, Yah?" tanya bu Kokom kepada seraya menatap Pak Cipto.


"bagaimana apanya, Ma? memang kita mau membahas apa?" Pak Cipto menatap heran istrinya.


"Si Shasa, Yah! semua orang kan sudah tau jika Shasa sebentar lagi akan dilamar pacarnya! masalahnya siapa yang akan melamar dia, Yah!" keluh bu Kokom, "Dia standartnya tinggi, sedangkan kita hanya rakyat jelata!" imbuh bu Kokom dengan wajah yang terlihat sedih.


"Ya ... semoga saja dia cepat menemukan jodohnya, Ma!" jawab pak Cipto dengan entengnya, "dia belum pulang, Ma?" tanya Pak Cipto karena tidak melihat motor matic yang biasa terparkir di depan warung.


"belum, Yah! tadi kan dia pamit pulangnya sore karena ikut seminar gratis bersama penulis. Entahlah penulis mana yang dia maksud!" ucap Bu Kokom seraya menyandarkan diri di dinding warung.


"Iya, Mama jadi sedih nih kalau mengingat masa kecil Shasa. Maka dari itu Mama tidak mau berkomentar saat Shasa ditolak beberapa perusahaan. Mama tiga tega, Pa! biarkan saja dia dirumah bantu Mama jaga warung sama itu nulis-nulis di laptop!" gumam bu Kokom dengan mata yang berembun.


Suasana di dalam warung mendadak melow karena kenangan pahit di masa lalu. Sepasang suami istri itu ngobrol santai sambil menunggu pelanggan yang datang.


"tapi ya, Yah! Mama suka kesel kalau lihat Shasa ngomong inggris atau koreyah saat setelah melihat film di laptopnya. Mama jadi heran ... kok bisa ya kita punya anak seperti Shasa! khayalannya kadang gak masuk akal! ngidam apa ya Mama dulu?" keluh bu Kokom seraya menatap suaminya.


Pak Cipto tergelak setelah mendengar pertanyaan istrinya itu. Beliau sendiri sebenarnya juga heran kenapa Shasa bisa seperti itu, "mungkin Mama dulu ngidam pengen naik gajah kali!" seloroh pak Cipto yang membuat bu Kokom tak menghentikan tawanya.

__ADS_1


"Permisi ...."


Sepasang suami istri itu segera mengalihkan pandangan saat mendengar suara seorang pria di depan warung. Pak Cipto bergegas keluar dari warung setelah melihat pria gagah, berkulit putih dan berwajah tampan seperti orang luar negeri berdiri di depan warung.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Cipto seraya menatap pria tersebut.


"saya mencari pemilik bengkel yang ada di sebelah," ucap pria tersebut seraya menunjuk bengkel pak Cipto, "mobil saya ban nya kempes di sana, saya lupa tidak membawa dongkrak," lanjut pria tersebut.


"saya yang punya bengkel, mari kita ke mobil anda! saya ambil dongkraknya dulu," ucap Pak Cipto sebelum keluar dari warung tersebut.


Pria itu mengikuti langkah pak Cipto menuju bengkelnya dan mereka berdua segera berjalan menuju mobil putih yang terparkir di bahu jalan, tak jauh dari bengkel, hanya beberapa meter saja.


"wah ini mungkin agak lama!" ucap pak Cipto setelah melihat keadaan ban cadangan yang ada di sisi mobil, "lebih baik anda singgah di warung tadi bersama keluarga yang di dalam, kasihan kalau disini ... cuacanya lagi panas!" ucap pak Cipto tanpa menatap pria tampan tersebut.


Setelah berbicara dengan seorang wanita paruh baya yang ada di dalam mobil, akhirnya pria tersebut mengikuti saran pak Cipto. Ia berjalan bersama wanita paruh baya yang seumuran dengan bu Kokom menuju warung.


"Geral! Mami tidak mau tahu! setelah ini kamu harus menikah atau Mami saja yang menikah dengan Kang Sobri!" gerutu wanita paruh baya tersebut sebelum sampai di warung.


"Iya Mam!" jawab pria tersebut pasrah.


Keduanya akhirnya sampai di warung tersebut. Kedatangan mereka disambut bu Kokom dengan sebuah senyuman yang indah merekah. Namun, beberapa detik kemudian senyum itu pudar kala melihat wanita tersebut melepas kaca mata hitamnya. Bu Kokom terlihat berpikir keras seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah wanita tersebut.


"Sepertinya saya tidak asing dengan wajahmu!" ujar Bu Kokom, "ah saya ingat, kamu Juleha 'kan! iya kamu Juleha Sarita ya!" ujar bu Kokom dengan antusias ketika mengingat siapa wanita yang ada di hadapannya.

__ADS_1


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍🌹


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2