
"Wah ... wah ... wah! menantu Mami lagi ngapain di dapur?" Tiba-tiba terdengar suara bu Juleha di ambang pintu.
Shasa membalikkan tubuhnya, ia segera menyambut kedatangan mertuanya dengan senyum yang sangat manis.
"Tadi Shasa nyobain bikin cilok pedas, Mi! Tapi rasanya aneh, kata bu Narti kebanyakan bawang sama penyedap rasa," ucap Shasa dengan suara yang lembut. Ia mengajak bu Juleha pindah tempat ke dekat kompor.
"Biar Mami cobain dulu!" Bu Juleha menusuk cilok tersebut dengan garpu.
Entah mengapa jantung Shasa tiba-tiba berdetak kencang kala melihat bu Juleha mencoba masakan hasil buatannya. Ia takut bu Juleha akan mual atau muntah karena merasakan bawang yang berlebihan.
"Bener kata Narti, tapi memang enak kok! biar besok Mami perbaiki racikan bumbunya!" Bu Juleha menepuk bahu Shasa setelah menghabiskan dua biji cilok, "di mana suamimu?" tanya bu Juleha seraya menatap Shasa.
"sepertinya di belakang, Mi," ucap Shasa setelah teringat jika Geral pergi ke teras belakang.
Tanpa banyak bicara lagi, bu Juleha mengajak Shasa pergi ke tempat Geral. Sepertinya, memang ada hal penting yang ingin disampaikan besan bu Kokom tersebut.
"Dari mana, Mi?" tanya Geral setelah melihat kehadiran maminya di teras belakang. Ia menatap bu Juleha dan Shasa yang duduk di hadapannya.
"Dari KUA!" jawab bu Juleha asal.
Geral hanya berdecak untuk menanggapi jawaban dari sang ibu. Ia kembali menyulut rokok karena keheningan mulai terasa di sana. Bu Juleha menatap ke arah lain, beliau sepertinya sedang memikirkan sesuatu hal yang mengusik pikirannya.
__ADS_1
"Tadi katanya, Mami mau ngomong penting, ada apa, Mi?" Akhirnya, Geral memecah keheningan yang terasa.
Shasa hanya diam, ia hanya bisa menyimak obrolan yang akan terjadi di antara ibu dan anak itu. Ia bisa menebak jika mertuanya itu sedang resah karena sesuatu hal. Namun, tidak lama setelah itu Shasa membelalakkan mata setelah mendengar keinginan bu Juleha.
"Mami akan menikah lagi dengan pak Rojali, Ge! semua surat nikah sudah selesai diurus, minggu depan Mami akan melangsungkan akad nikah!" ujar bu Juleha hingga membuat Geral terkesiap.
Geral mematikan batang rokoknya setelah mendengar apa yang disampaikan oleh ibunya itu. Tentu saja ia terkejut mendengar permintaan konyol sang ibu.
"Mi, jangan ngadi-ngadi! sampai kapan pun Geral tidak akan setuju Mami menikah lagi!" protes Geral dengan pandangan yang tak lepas dari ibunya itu.
"Mami tidak mau tahu! mau tidak mau, kamu harus menerima pak Rojali sebagai ayahmu setelah ini," ucap bu Juleha dengan tatapan tajamnya.
Shasa tidak berani ikut campur tentang masalah ini, ia sendiri tidak keberatan jika ibu mertuanya menikah lagi. Toh, tidak ada yang salah dengan hubungan serius tersebut—pernikahan antara janda dan perjaka tua.
"Geral! Sampai kapanpun Mami tetap mencintai dan menyayangi kamu! Mami hanya ingin menikah dan hidup bahagia dengan suami Mami!" ujar bu Juleha seraya bersedekap, "Lagian di rumah ini ada Shasa yang memperhatikan, menyayangi dan mencintaimu! Mami yakin Shasa pasti bisa melakukan semua itu, Ge!" ucap bu Juleha seraya menatap Shasa.
"Kehadiran Shasa di rumah ini membuat Mami yakin jika menikah lagi adalah pilihan yang tepat! Lagian Mami lihat selama beberapa bulan ini kamu bisa hidup bahagia dengan Shasa, karena itulah Mami memutuskan segera menikah dengan pak Rojali." Kali ini bu Juleha beralih menatap Geral yang hanya diam dengan ekspresi wajah datar.
"Mami juga ingin merasakan hidup bahagia sama sepertimu, Ge! Mami sudah lama hidup kesepian di rumah besar ini! jadi, Mami harap kamu mengerti posisi Mami saat ini!" ujar bu Juleha dengan sorot mata penuh harap.
Geral hanya diam di tempatnya, ia mengalihkan pandangan ke arah lain karena enggan untuk menatap wanita yang sudah melahirkannya itu. Rasa kesal pasti ada dalam hatinya karena keinginan sang ibu.
__ADS_1
"Memang kamu mau Mami hamil di luar nikah kalau tidak secepatnya menikah? apa kamu gak malu nanti jika ada yang menggunjingkan Mami?" tanya bu Juleha dengan ekspresi wajah serius.
Pertanyaan bu Juleha benar-benar membuat Shasa harus menahan tawa. Ia tidak menyangkan jika pertanyaan itu akan terucap dari bibir sang mertua. Sebuah pertanyaan konyol yang berhasil membuat Geral menatap tajam ke arah ibunya.
"Mungkinkah Mami masih bisa hamil? duh! gak kebayang deh, gimana kalau nanti Mami ngidam!" gumam Shasa dalam hatinya.
"Terserah, Mami!" ujar Geral sebelum beranjak dari tempatnya. Ia berlalu begitu saja dari hadapan kedua wanita yang berbeda generasi tersebut.
Bu Juleha hanya bisa menghela napasnya setelah melihat respon putra semata wayangnya. Beliau pun mengalihkan pandangan ke arah Shasa yang sejak tadi tak mengeluarkan suara.
"Kamu setuju 'kan kalau Mami menikah lagi?" tanya bu Juleha saat meraih telapak tangan Shasa untuk digenggam.
"Shasa mendukung keputusan Mami! Shasa hanya ingin Mami hidup bahagia dengan pak Rojali," jawab Shasa dengan iringan senyum yang sangat manis.
Bu Juleha merengkuh tubuh sang menantu ke dalam dekapannya. Beliau bahagia mendengar jawaban Shasa—persetujuan menantunya itu bagai es cincau yang menghilangkan dahaga di saat buka puasa. Bu Juleha sangat bersyukur mempunyai menantu seperti Shasa, pilihannya memang tepat kali ini. Beliau berhasil memilihkan istri terbaik untuk putra semata wayangnya.
"Tolong bantu Mami membujuk Geral, ya, Sha!" ujar bu Juleha penuh harap.
"Pasti Mi, Shasa pasti akan membantu Mami mendapatkan persetujuan dari Geral." Shasa meyakinkan bu Juleha agar tidak resah lagi.
Kedua sudut bibir bu Juleha tertarik ke dalam setelah mendengar jawaban menantunya itu. Beliau percaya jika menantunya itu pasti bisa mengatasi permasalahan ini.
__ADS_1
🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍 Kuy yang punya vote nganggur, boleh di sedekahkan untuk othor gemol ini😍
...🌷🌷🌷🌷...