
Satu minggu kemudian ....
"Aduh!"
Shasa meringis kesakitan saat merasakan kontraksi. Ia mencengkram lengan Geral dengan kuat saat rasa sakit itu kembali menyerangnya. Bu Juleha dan bu Kokom pun tidak bisa tenang melihat Shasa kesakitan seperti itu.
"Sayang, udah ya! Aku mau bilang ke dokter Tia jika kamu operasi saja!" ujar Geral dengan wajah paniknya.
"Diam! Gak usah aneh-aneh deh!" sungut Shasa dengan pandangan yang tak lepas dari wajah tampan yang ada di sisinya.
Shasa semakin kesal mendengar hal itu karena sudah lebih dari lima kali Geral menyarankan Shasa agar melahirkan dengan cara operasi. Putra bu Juleha itu tidak tega melihat sang istri merintih kesakitan sejak kemarin sore.
Ya, kemarin sore Shasa mulai merasakan kontraksi dan ternyata setelah diperiksa oleh dokter Tia, Shasa sudah pembukaan satu. Mengingat masih di awal pembukaan, dokter Tia menyarankan agar Shasa dibawa pulang saja karena dokter Tia menyarankan agar keesokan harinya saja Shasa dibawa ke rumah sakit tempat beliau praktek.
Seperti saat ini, sejak pukul delapan pagi Shasa sudah masuk ruangan rawat inap. Ia sudah berada di pembukaan enam. Rasa sakit yang datang semakin sering dan tak tertahankan.
"Sayang, mana yang harus aku pijit?" tawar Geral setelah melihat Shasa sedang mengatur napasnya.
"Kaki!" ujar Shasa tanpa menatap Geral.
Bu Kokom sendiri sangat panik melihat putrinya merintih kesakitan merasakan kontraksi. Bagaimanapun juga, Beliau tidak tega melihat Shasa berjuang sama seperti beliau dulu.
__ADS_1
"Aduh Leha! Kenapa aku ikut mules lihat Shasa kesakitan! Aku gak tega dah melihat anakku melahirkan! Lebih baik aku sendiri yang lahiran!" gerutu bu Kokom dengan pandangan yang tak lepas dari Shasa.
"Sama aja atuh! Dari tadi rasanya aku ikut kontraksi! Andai saja bisa aku yang mewakili, pasti aku bersedia mewakili menantuku melahirkan, Kom!" Bu Juleha tak kalah panik melihat menantunya meringis kesakitan.
"Heh Leha! Jangan ngadi-ngadi dah! Meskipun kita panik, otak harus tetap berjalan lancar! Mana bisa atuh melahirkan diwakilkan?" Bu Kokom berdecak melihat kekonyolan besannya itu.
"Ah sudahlah! Kita tidak usah menggerutu! Lebih baik kita berdoa saja!" ujar bu Juleha.
Shasa kembali mencengkram Geral, kali ini bukan lagi lengannya tapi rambutnya. Tentu saja hal itu membuat Geral meringis kesakitan karena merasakan tarikan kuat sang istri.
"Aduh! Ancur dah rambutku!" batin Geral. Ia tidak berani protes karena takut emosi sang istri menjadi tidak stabil.
Menjelang siang, air ketuban Shasa sudah pecah. Kini, ia dipindahkan ke ruang bersalin karena pembukaan akan mencapai sempurna. Dokter Tia dan beberapa perawat sudah bersiap menjalankan tugasnya. Tinggal menunggu beberapa menit lagi tugas mereka akan segera dimulai.
Beberapa menit kemudian, keringat dingin mulai keluar dari tubuh pria tampan yang sedang menyaksikan sang istri berjuang. Geral tidak tega saat mendengar suara teriakan kesakitan sang istri. Ia jadi tahu bagaimana perjuangan seorang ibu yang sesungguhnya.
"Ayo, Sayang! Kamu pasti bisa! Kamu hebat!" ucap Geral agar Shasa tak kehilangan semangat walau rasa sakit semakin mendera.
Dokter Tia kembali memberi arahan agar Shasa mengatur napasnya karena sebentar lagi perjuangannya akan selesai. Kata-kata semangat terus terdengar di ruangan itu agar Shasa tidak patah semangat.
Sementara itu di depan ruang bersalin kedua wanita setengah abad itu mondar-mandir di depan ruang bersalin. Rasa panik semakin menguasai bu Kokom dan bu Juleha. Mereka berdua sangat takut terjadi apa-apa dengan Shasa.
__ADS_1
"Ma, duduk dulu! Jangan panik seperti itu!" ujar pak Cipto. Beliau pun ikut bingung melihat sang istri mondar-mandir di depan tempatnya saat ini.
"Iya, Ayang. Benar apa kata besan, kita duduk tenang sambil berdoa saja! Neng Geulis pasti bisa melewati semua ini!" Kali ini pak Rojali ikut menenangkan sang istri.
Mendengar hal itu kedua wanita yang sedang berdiri itu, berdecak kesal. Bukan karena apa-apa tapi pak Cipto dan pak Rojali terus mengatakan agar mereka berdua tetap tenang.
"Aduh!! Ayah itu belum tau sih bagaimana rasanya melahirkan!" sungut bu Kokok sambil menatap sang suami.
"Tau nih! Tuh, Akang tau sendiri kan bagaimana proses melahirkan! Coba bayangin dah, jika Leha hamil, kira-kira apa masih bisa mengejan!" ujar bu Juleha dengan pandangan yang tak lepas dari wajah sang suami.
Suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin membuat bu Juleha dan bu Kokom saling pandang. Mereka berdua bernapas lega karena pada akhirnya Shasa berhasil melahirkan bayinya ke dunia ini. Keduanya sama-sama tersenyum dengan air mata bahagia yang sudah menggenang di pelupuk mata.
"Kom! Gelar kita bertambah! Kita jadi Nenek, Kom!" ujar bu Juleha seraya memeluk bu Kokom yang sedang menangis.
🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍 Maaf ya kemarin othor sibuk jadi gak sempat up novel ini🙏 Sambil nunggu novel ini update, yuk merapat di novel baru othor😍🌹
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Hallo selamat pagi guys😍Akoh ada rekomendasi karya yang cocok untuk kalian baca di hari senin yang cerah ini, karya super keren dari author Nunuk Pujiati dengan judul Mendadak Nikah. Nah, kan! Judulnya aja udah bikin penasaran😁Nih aku spiil blurbnya👇
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...