
Tiga hari telah Shasa lalui dengan kesendirian, terkadang rasa rindu itu hadir kala malam mulai menyapa. Saat tidur sendiri di kamar, wajah Geral selalu menghantuinya. Berada jauh dengan pria menyebalkan itu membuatnya bisa merasakan rindu yang menyiksa.
Seperti yang dikatakan bu Juleha saat itu—saat mengantarnya datang ke rumah ini, Shasa benar-benar mengabaikan Geral. Bukannya merasa istimewa, Shasa hanya ingin suaminya itu sadar dari kesalahannya. Selama tiga hari ini rasanya Shasa seperti seorang gadis lagi.
"Sha, tolong belanja kebutuhan warung ke tokonya ceu Ella, ya!" ujar bu Kokom setelah menghampiri Shasa di kamarnya.
"Siap, Ma! Mama catat dulu saja, setelah ini Shasa ke depan," ucap Shasa tanpa menatap bu Kokom. Ia sibuk menulis ide cemerlang yang muncul di kepalanya.
Bu Kokom keluar dari kamar Shasa. Namun, tidak lama setelah itu, beliau kembali lagi, "kalau ke tokonya ceu Ella ganti baju yang bagus ya, Sha! takutnya kamu nanti bertemu si Luna," ujar bu Kokom sebelum keluar lagi.
Shasa menghentikan aktifitasnya saat ini. Ia tertegun setelah mendengar saran dari ibunya itu. Saran yang di sampaikan bu Kokom membuat Shasa tersenyum smirk kala sebuah ide konyol muncul di kepalanya.
"Hmmm ... pamer sedikit gak masalah dong!" gumam Shasa seraya bangkit dari tempat duduknya. Ia membuka almari untuk mencari sesuatu di sana.
Sebuah midi dress tanpa lengan telah membalut tubuh indah Shasa saat ini. Bahkan istri Geraldi itu memakai semua perhiasan pemberian dari bu Juleha. Kalung, anting, gelang, cincin dan gelang kaki pun terpasang di tubuhnya saat ini. Tak lupa, Shasa menguncir rambutnya, leher mulus itu pun akhirnya terpampang jelas.
"Ceu Ella harus tau perubahanku saat ini, pasti nanti dia laporan tuh sama si Culun!" gumam Shasa sambil menyemprotkan parfum mahal milik Geral yang ia bawa.
Sempurna, ya, mungkin seperti itulah penampilan Shasa saat ini. Terlalu sering mendapat bullyan dari Luna dan antek-anteknya membuat Shasa ingin menunjukkan apa yang dia punya saat ini. Percaya diri yang tinggi semakin membantu Shasa untuk pamer kepada ceu Ella.
"Ma, mana catatan belanjanya?" tanya Shasa setelah berada di warung.
"Aduh ... aduh! Geulis pisan anak Mama satu ini! memang benar kata orang-orang mah, kalau perhiasan bisa menambah kecantikan," ucap bu Kokom saat mengamati penampilan Shasa saat ini.
"Kamu beruntung punya suami dan mertua baik seperti Juleha dan si Kasep," ucap bu Kokom, "ini barang belanjaannya. Ingat! jangan sampai lupa bawa notanya pulang!" ujar bu Kokom karena Shasa sering melupakan nota yang diberikan ceu Ella.
"Kalau begitu Shasa berangkat dulu, Ma!" Shasa meraih kunci motor yang tergantung di dinding warung.
Udara pagi menjelang siang mulai terasa panas, angin pun turut berhembus mesra mengiringi perjalanan Shasa menuju toko ceu Ella. Jaraknya tidak terlalu jauh, cukup dua menit akhirnya Shasa sampai di toko ceu Ella.
__ADS_1
"Ceu ... Ceu Ella! Shasa mau belanja nih, Ceu!" teriak Shasa setelah masuk ke dalam toko yang sedang sepi pembeli itu.
"Iya sebentar," sahut pemilik toko yang tak lain adalah ceu Ella. Mungkin saat ini ceu Ella sedang masak atau apa lah di dalam sana,
"Eh, ada pengantin baru yang belanja!" ucap ceu Ella setelah sampai di tokonya, wanita seumuran dengan Yulia itu menatap Shasa dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Wah ... setelah menikah kamu makin cantik, Neng! makin modis pisan," ujar ceu Ella dengan diiringi senyum merekah seperti bunga di pagi hari.
"Aku harus ngasih kabar ke si Luna nih, pasti dia bisa kebakaran jenggot liat Shasa glow up!" gumam ceu Ella dalam hati.
"Ceu Ella bisa aja nih!" ucap Shasa dengan diiringi senyum yang mengembang indah, "ini catatan belanja dari Mama, Ceu!" Shasa menyerahkan catatan dari bu Kokom kepada ceu Ella.
Seperti biasa, Shasa menunggu di depan toko sampai barang belanjaannya selesai disiapkan ceu Ella. Ia duduk di bangku panjang itu sambil bermain ponsel, membuka media sosial miliknya untuk memantau status para musuh bebuyutannya.
"Dih! si Culun norak banget!" gumam Shasa ketika melihat postingan Luna.
Beberapa menit kemudian, Shasa mengalihkan pandangan kala mendengar suara motor yang berhenti di depan toko ceu Ella. Harapannya bertemu dengan Luna akhirnya terwujud saat ini. Seperti dugaannya sebelum berangkat, ceu Ella pasti memberitahu Luna jika dirinya ada di sini.
"Uluh ... uluh ... ada yang kangen sama aku nih! sampai dibela-belain datang ke sini walau cuaca sedang panas! gak takut luntur tuh blush-on nya!" sindir Shasa tanpa menatap Luna, ia kembali bermain ponsel setelah Luna mendekat ke arahnya.
Luna mendengus kesal setelah mendengar ucapan Shasa. Ia mengamati penampilan Shasa dari atas sampai bawah. Rasa iri semakin menggerogoti hati setelah Luna tahu bahwa pakaian yang di pakai Shasa adalah keluaran dari salah satu brand terkenal.
"Ceu, masih lama kah?" Shasa sengaja berdiri karena ia tahu bahwa Luna sedang mengamati penampilannya saat ini.
"Sebentar, Neng! tinggal dihitung!" teriak ceu Ella.
Shasa masuk ke dalam toko tersebut, ia sengaja mengacuhkan Luna agar gadis itu semakin kesal. Shasa tahu bahwa Luna pasti ikut masuk dan mungkin saja gadis itu sedang memikirkan kalimat yang tepat untuk membully Shasa.
"Ngapain kamu pulang ke sini lagi? di usir ya sama mertua kamu?" tanya Luna sambil bersandar di salah satu rak yang ada di dekat Shasa.
__ADS_1
"Aduh! ngomongnya gak usah nge gas dong!" jawab Shasa dengan santai, "aku hanya melepas rindu kepada orang rumah, makanya aku pulang!" jawab Shasa seraya menatap Luna dengan senyum penuh arti.
Shasa kembali membuka ponselnya, ia membuka galeri ponsel itu untuk menunjukkan sesuatu kepada Luna, "coba lihat ini!" Shasa menunjukkan foto kedekatannya dengan bu Juleha, "tidak ada alasan 'kan untuk mertua ku mengusir menantu seperti aku ini!" Shasa membanggakan dirinya di hadapan Luna.
"Hallah! mungkin mertuamu sedang khilaf saat ini! lihat aja sebentar lagi mungkin kamu akan di depak mertuamu!" ujar Luna dengan sinisnya.
"Oh ya, itu perhiasan yang kamu pakai emas sepuhan, ya! gak mungkin kamu bisa beli perhiasan asli karena kamu kan belum genap satu bulan menikah! mana cukup uang belanjamu untuk membeli semua perhiasan itu!" Sungguh, Luna benar-benar terbakar rasa iri hingga lupa batasannya.
Belum sempat Shasa menjawab ejekan Luna, ceu Ella memanggilnya. Semua barang belanjaan sudah selesai dan Shasa harus segera membayarnya. Ia sengaja membuka dompetnya yang sesak napas itu di hadapan Luna.
"Gini ya, Culun! aku rasa tidak perlu menjelaskan apakah ini perhiasan asli atau sepuhan! ya, kamu pikir sendiri aja lah! mungkin gak sih jika mertuaku beli emas sepuhan?" Shasa tersenyum smirk saat menatap Luna, "kamu tahu sendiri 'kan bagaimana megahnya pesta pernikahanku dulu?" sarkas Shasa hingga membuat wajah Luna merona karena menahan kekesalannya.
"Berapa Ceu totalnya?" Shasa mengalihkan pandangan ke arah ceu Ella.
Shasa mengeluarkan beberapa lembar rupiah dari dompetnya. Lagi dan lagi ia sengaja mengeluarkannya di depan Luna, semua itu semata-mata hanya untuk membuat Luna semakin geram kepadanya.
"Gak papa, Ceu! biarkan saja kelebihan uangnya di sini, anggap saja saya sedang mentraktir Luna di toko Ceu Ella!" ucap Shasa saat ceu Ella memberi tahu bahwa uang yang diberikannya lebih satu lembar.
...🌹Selamat membaca🌹...
...FB: Titik Pujiningdyah || IG: @tie_tik...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Hallo Zheyenk 😍 oke kali ini aku mau merekomendasikan karya keren untuk kalian yang suka mafia😍 nih, paket komplit yang bikin kalian panas dingin😎 btw nih ya, latar tempatnya ada di itali loh😎kalian wajib mampir dah😍
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷...