
Tiga puluh menit, itulah waktu yang dihabiskan Shasa hanya untuk menunggu Geral di kamar mandi. Suaminya itu tak kunjung keluar dari kamar mandi, entah apa saja yang sedang dilakukan di dalam sana. Apakah Geral berendam di bathup bersama mainan bebek kuning layaknya balita?
Shasa duduk bersila di sofa cokelat yang ada di sudut kamar. Beberapa kali ia menguap karena rasa kantuk yang menyerang. Namun, ia harus menahan sekuat tenaga karena ada hal penting yang harus ia tunjukkan kepada Geral. Selembar kertas berisi rangkaian kata serta sebuah bulpoint hitam telah siap di atas meja.
"kenapa belum tidur?" tanya Geral setelah keluar dari kamar mandi, ia mengernyitkan kening ketika melihat Shasa di atas sofa.
"Buruan ganti, terus kita bicara!" ucap Shasa seraya menatap Geral.
Tanpa banyak bicara, Geral pun mengikuti kemauan Shasa. Ia mengambil kaos oblong yang tersimpan di dalam koper. Geral pun akhirnya duduk di samping Shasa, ia menatap wajah murung sang istri dengan sejuta pertanyaan.
"katakan! apa yang harus kita bicarakan!" ujar Geral dengan pandangan yang tak lepas dari Shasa.
Shasa menyerahkan kertas yang ada di meja kepada Geral, "bacalah dan katakan, kamu tidak setuju di poin berapa! setelah itu segera bubuhkan tanda tanganmu di situ!" ucap Shasa seraya menatap Geral.
Geral menaikkan satu alisnya karena heran melihat kelakuan aneh istrinya itu. Manik hitam itu akhirnya membaca sebuah surat yang diketik Shasa kemarin sore. Geral mengernyitkan keningnya ketika membaca sebuah surat perjanjian tidak masuk akal itu.
krak ... krak ... krak ... krak ....
Geral merobek-robek surat tersebut di hadapan Shasa. Ia membuang serpihan kertas itu di lantai kamar. Pandangannya tak lepas dari wajah Shasa yang berubah menjadi murung karena surat perjanjian yang dibuat dengan susah payah telah hancur.
"Kenapa suratnya dihancurkan?" tanya Shasa dengan kesal.
"katakan padaku! pernikahan macam apa yang memakai surat perjanjian di dalamnya! kenapa harus ada aturan tentang menyentuhmu dan tinggal di kamar terpisah?" tanya Geral dengan suara yang meninggi, ia sangat kesal dengan keinginan aneh istrinya itu.
"Geral! kita belum pernah mengenal sebelumnya! aku butuh waktu untuk menerima pernikahan ini!" ucap Shasa seraya berdiri dari sofa, "lagian sudah hal yang wajar di dalam sebuah pernikahan ada surat perjanjian, apalagi yang menikah karena dijodohkan seperti kita!" ujar Shasa dengan pandangan yang tak lepas dari Geral.
"kamu sih gak pernah lihat film Hollywood dan baca novel! hal seperti ini banyak terjadi! kalau di film dan novel-novel ada, berarti di dunia nyata pun ada!" lanjut Shasa dengan tatapan yang semakin tajam.
Geral menyatukan alisnya ketika tahu bahwa Shasa mendapatkan ide seperti ini dari film. Konyol, begitulah yang ada dalam pikiran Geral saat ini tentang sikap yang ditunjukkan oleh Shasa. Aiih ... terlalu banyak menghayal ternyata bisa mempengaruhi pikiran Shasa.
__ADS_1
"kalau kita belum mengenal satu sama lain, seharusnya kita berkenalan, berusaha saling mendekat dengan selalu bersama. Bukan memberi jarak dengan sebuah surat perjanjian konyol seperti yang kamu tulis! bagaimana bisa suami istri tidur di kamar terpisah?" Tanya Geral dengan santainya.
Geral bukanlah pria yang tempramental, ia hanya mencoba menahan agar emosinya tidak terpancing. Ia hanya ingin bersikap baik kepada Shasa karena biar bagaimanapun seorang istri adalah tanggung jawab suami.
Shasa menghentakkan kakinya di lantai. Ia sangat kesal kepada Geral saat ini. Surat perjanjian itu adalah sebuah senjata untuknya agar tetap bertahan dalam pernikahan ini.
"Kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal dan tentu saja berakhir saling mencintai," ucap Geral seraya menatap Shasa. Wajah cantiknya bersemu merah, mata indah itu pun mulai berembun. Entah apa yang sedang dirasakan Shasa saat ini.
"Bagaimana bisa kita saling mencintai sedangkan di hatimu masih ada nama wanita lain! kamu menyebut namanya dalam tidurmu. Sepanjang malam. Eren ... Eren ... Eren dan Eren!" akhirnya Shasa mengeluarkan uneg-unegnya bersama bulir air mata yang ikut luruh.
Geral terkesiap setelah mendengar semua kalimat yang diucapkan oleh Shasa. Ia terkejut karena hal itu. Rasa bersalah perlahan menelusup ke dalam hati nya. Geral meraih pergelangan tangan Shasa dengan sigap tatkala istrinya itu bersiap melangkah pergi.
bruk!
Shasa terjerembap ke belakang atau lebih tepatnya jatuh di atas pangkuan Geral. Pandangan keduanya pun saling bersirobok dengan waktu yang cukup lama. Perlahan Geral mendekatkan wajahnya dengan Shasa. Namun, Shasa segera berpaling saat bibir itu akan menyentuh bibirnya.
"Eren itu siapa? apa dia pacarmu? atau mantan istrimu?" tanya Shasa seraya menatap Geral.
"Eren itu mantan pacarku, dia pergi beberapa hari sebelum tunangan bersamaku!" ucap Geral tanpa menatap Shasa. Ia tidak mau menatap manik hitam yang sedang terpaku ke arahnya.
Shasa tersenyum getir mendengar jawaban Geral. Kini ia tahu kenapa Geral menyebut nama wanita itu dalam tidurnya. Hati suaminya ternyata masih terpatri pada sang pemilik nama 'Eren'.
"lalu, sampai kapan kamu menyimpan nama itu? jika suatu saat dia ingin kembali padamu, apakah kamu akan meninggalkan aku?" raut keseriusan terlihat jelas di wajah cantik itu.
Geral mengalihkan pandangannya. Ia menatap manik hitam Shasa dengan lekat. Entah mengapa ia sendiri menjadi bingung karena pertanyaan itu. Kenapa harus ada nama Eren di saat malam pertamanya.
"aku tahu, tidak mudah menghapus namanya di hati tapi untuk kembali bersama orang di masa lalu, bukanlah prinsipku!" ucap Geral dengan pandangan yang tak lepas dari Shasa.
Percaya dan tidak percaya. Mungkin itulah yang dirasakan Shasa saat ini. Ia bingung harus bersikap bagaimana tapi pada kenyataannya, ia tidak suka jika Geral masih memikirkan wanita itu.
__ADS_1
"Ceritakan bagaimana kisah cintamu dulu!" ujar Shasa seraya menatap Geral penuh harap.
"baiklah jika itu maumu! turunlah dari pangkuanku!" ucap Geral seraya menepuk sofa yang ada di sisinya.
"Kamu sendiri yang meminta, jadi kamu harus menerima apapun yang kamu dengar setelah ini!" ucap Geral seraya mengubah posisi duduknya
Shasa mempersiapkan hati dan telinganya untuk mendengar kisah hidup sang suami. Mungkin inilah yang disebut dengan perkenalan. Malam ini adalah waktu terpanjang yang dipakai suami istri itu berbicara. Rasa canggung mulai terkikis di antara keduanya, obrolan ringan terjadi di sana dan Shasa terus mengulik informasi tentang suaminya itu. Geral pun tidak keberatan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Shasa. Ia menceritakan tentang kisah asmaranya dulu sebelum mengenal Eren.
"Aku sudah menceritakan asmaraku! sekarang, aku juga ingin tahu bagaimana kisah cintamu dulu! apa pria yang tadi hadir bersama wanita adalah pacarmu?" tanya Geral.
"Sha ... Shasa!" Geral memanggil Shasa karena suasana mendadak sunyi sepi.
"malah tidur!" gerutu Geral ketika melihat Shasa tidur dengan kepala yang menengadah.
Cukup lama Geral mengamati wajah cantik itu, ia tersenyum tipis ketika mengingat kelakuan aneh Shasa, ia seperti tertantang untuk menyelami perasaan gadis yang ada di hadapannya saat ini. Geral berdiri dari sofa untuk mengambil bantal dan selimut. Ia memutuskan tidur di sofa bersama Shasa karena ranjangnya masih dipenuhi kelopak mawar.
"good night, gadis aneh!" ucap Geral seraya membenarkan posisi Shasa.
...πΉSelamat MembacaπΉ...
...π·π·π·π·π·...
ββββββββββββββββ
Hallo reader kesayangan othor, nih ada rekomendasi karya keren untuk kalian, kuy kepoinπ
...
__ADS_1
π·π·π·π·π·...