Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Joenatan Khail Massio


__ADS_3

Suara tangis bayi menggema dalam ruang inap VVIP yang di tempati Shasa. Kelopak mata itu terbuka seketika saat mendengar tangis kencang sang putra. Ia tersenyum manis ketika melihat bu Kokom berjalan ke arahnya dengan menggedong putranya yang sedang menangis.


"Uluh ... uluh ... Pasti haus ya, Nak!" ucap Shasa saat menerima putranya.


Geral ikut terbangun karena keadaan kamar inap sang istri mendadak berisik. Ia belum terbiasa mendengar suara putranya sendiri yang lahir beberapa jam yang lalu. Namun, bibir itu mengembangkan senyum tatkala melihat pemandangan indah yang ada di atas bed sang istri. Ia melihat bagaimana Shasa menenangkan putranya.


"Kenapa Joe menangis, Sayang?" tanya Geral seraya bangkit dari tempatnya saat ini.


Joenatan Khail Massio. Itulah nama yang diberikan Geral untuk putra pertamanya.


"Mungkin laper kali," ucap Shasa tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Geral. Ia sibuk menatap wajah mungil yang ada di atas pangkuannya itu.


Bu Kokom tersenyum melihat binar bahagia yang terlukis di wajah cantik sang putri. Beliau tak henti mengucapkan syukur atas anugerah terindah yang diberikan oleh Sang Pencipta. Melihat rumah tangga putrinya yang rukun dan bahagia, itu sudah cukup bagi bu Kokom.


"Nak, kalian berdua sudah menjadi orang tua. Mama harap kalian lebih dewasa dalam menyikapi segala hal yang akan kalian hadapi nanti. Jangan mengikuti emosi karena itu akan merugikan kalian nanti," tutur bu Kokom seraya menatap anak dan menantunya bergantian.


"Iya, Ma, terima kasih sudah mengingatkan kami," jawab Geral dengan diiringi senyum yang manis.

__ADS_1


Semua kembali tidur saat Joe sudah tenang karena saat ini langit masih gelap gulita. Bahkan, subuh belum datang menyambut pagi. Geral tidur di sofa dan bu Kokom tidur di bed penunggu pasien. Bu Juleha, pak Rojali dan Cipto pulang ke rumah Geral karena tidak mungkin bukan jika ruangan itu ditempati dua keluarga.


...♦️♦️♦️♦️♦️...


Tiga hari kemudian,


Ruang keluarga yang biasa terasa sunyi sepi, kini menjadi ramai dengan suara tangisan bayi. Shasa telah pulang dari rumah sakit sejak kemarin sore. Tidak ada hal yang serius pasca melahirkan, ia dan bayinya sehat dan tidak kekurangan apapun. Asi untuk Joe pun lancar tanpa kendala. Hanya saja, Shasa harus sering mengisi perutnya karena Joe selalu merengek saat sumber kehidupannya kurang menyimpan asupan.


"Joe ini mirip siapa sih! Hobinya kok nangis terus, hmmm!" gumam Shasa seraya menatap putranya yang ada di pangkuan.


"Mirip Bapaknya itu!" sahut bu Juleha yang baru keluar dari dapur sambil membawa segelas susu untuk menantunya.


"Tapi kan kamu pasti suka nyusu!" jawab bu Juleha asal hingga membuat Shasa tergelak.


Wajah tampan itu bersemu merah. Geral malu mendengar candaan mesum ibunya sendiri. Ia hanya melengos untuk menyembunyikan rasa malunya. Suara dering ponsel, membuat Geral beranjak dari sana. Ia harus menerima telfon penting dari rekan bisnisnya.


Selang beberapa menit, Geral kembali ke ruang keluarga. Ia duduk di sebelah bu Juleha dengan memasang wajah yang serius. Sepertinya, ada perihal penting yang harus Geral sampaikan kepada ibunya itu.

__ADS_1


"Mi, ini tadi Geral dapat telfon dari teman, katanya dia ingin tanam modal di rumah produksi cilok. Kira-kira bagaimana pendapat Mami?" tanya Geral sambil menepuk paha ibunya.


Bu Juleha diam beberapa menit. Beliau sepertinya sedang mempertimbangkan tawaran dari teman Geral. Tak lama setelah itu, bu Juleha menatap sang putra dengan serius.


"Mami tidak setuju, Ge! Biarkan rumah produksi cilok menjadi milik kita berdua karena dari hasil usaha cilok kita bisa memiliki semua ini. Pabrik GMP pun ada karena dari cilok," ucap bu Juleha.


"Biarkan rumah cilok seperti itu. Kita harus tetap menjalankan usaha itu tanpa adanya campur tangan orang lain karena hanya itu peninggalan almarhum papimu. Usaha cilok ada karena uang pemberian keluarga papimu, Nak!" Bu Juleha tersenyum seraya menatap putranya.


Meskipun berat, Geral harus mengikuti keputusan ibunya. Mungkin setelah ini lebih baik ia membesarkan pabriknya saja agar mendapat penghasilan semakin besar karena tanggung jawabnya juga semakin bertambah.


"Ya sudah, Mi. Geral setuju dengan keputusan Mami. Mohon doanya saja agar pabrik yang Geral kelola semakin maju," ucap Geral seraya mengembangkan senyumnya.


...🌹SELAMAT MEMBACA🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

__ADS_1


Hallo epribadeh, ada rekomendasi karya keren untuk kalian😍 Jangan lupa kepoin ya karya dsri author Zafa dengan judul Sahabat jadi Menikah. Hayuk atuh gercep tengok karyanya😍



__ADS_2