
"Mami sudah membuatkan janji periksa ke dokter kandungan, Sha. Nanti kamu periksa sama Geral, ya," ucap Bu Juleha setelah mengupas apel untuk Shasa.
Shasa membuka bibirnya ketika bu Juleha menyuapkan potongan apel kepadanya. Ia hanya bisa mengangguk pelan untuk menjawab ucapan sang mertua.
"Mi, di sana gak ada keramaian kan, Mi?" tanya Shasa setelah berhasil menghabiskan apel yang disuapkan bu Juleha tadi.
"Tenang saja, Mami sudah membuatkan janji nanti malam. Dokternya kan praktek dari siang sampai sore aja. Nah, Mami bikin janjinya malam, biar kamu gak pakai antre," ujar bu Juleha.
Ruang keluarga terasa lebih hidup saat bu Juleha berada di sini. TV layar datar itupun terus menyala dari pagi hingga siang hari. Padahal, kedua wanita itu tidak menyaksikan apa yang terputar disana. Mereka sibuk membahas seputar kehamilan.
"Sha, lebih baik kamu istirahat dulu, gih!" ucap bu Juleha setelah melihat jam dinding yang ada di ruangan tersebut.
"Shasa belum ngantuk, Mi," sangkal Shasa sambil sambil menatap bu Juleha.
"Sudahlah, meskipun gak ngantuk, rebahan di kamar biar kamu gak lelah." Bu Juleha masih keukeh dengan keinginannya.
Mau tidak mau Shasa beranjak dari tempatnya. Ia tidak mau masalah tidur siang membuatnya berdebat dengan sang mertua, "Shasa istirahat dulu, Mi," pamit Shasa sebelum melenggang dari ruang keluarga.
Setelah sampai di kamar, Shasa segera merebahkan diri di atas ranjang. Ia meraih ponsel yang ada di atas nakas untuk menghubungi Geral. Entah mengapa siang ini ia begitu merindukan sang suami. Bayang-bayang Geral pulang dengan membawa pempek Palembang membuatnya menelan ludah. Tanpa berpikir panjang, Shasa segera menelfon sang suami.
"Sayang," ucap Shasa dengan suara yang manja setelah panggilan terhubung.
"...."
"Cepat pulang! Aku kangen sama kamu, pengen tidur sambil dipeluk," rengek Shasa, "kalau pulang bawa pempek palembang yang ada di depan Masjid Akbar, ya," ucap Shasa sebelum memutuskan panggilan bersama Geral.
Bayang-bayang aroma timun dan kuah pempek semakin membuatnya tidak sabar menunggu sang suami pulang. Waktu rasanya berhenti berputar jika menunggu sesuatu hal yang sangat diinginkan. Shasa harus sabar menunggu Geral satu jam lagi karena suaminya itu masih ada tamu dari BPOM.
"Lebih baik aku tidur dulu," gumam Shasa setelah meletakkan ponselnya di atas nakas.
***
__ADS_1
Shasa mengerjapkan mata saat merasakan sentuhan lembut di pipinya. Kedua sudut bibir itu mengembang sempurna ketika melihat kehadiran sosok yang sangat dirindukannya sejak beberapa puluh menit yang lalu.
"Ini pempeknya, buruan dimakan keburu dingin," ucap Geral sambil menunjukkan kantong kresek yang ada di genggamannya.
Mata indah itu berbinar setelah melihat sesuatu yang ada dalam genggaman sang suami. Shasa segera duduk dan menerima kantong tersebut. Aroma segar mentimun yang dicampur kuah pempek menyeruak ke dalam indera penciumannya.
"Wah ... pasti enak banget ini!" ujar Shasa sambil menatap kotak putih yang sudah terbuka itu. Irisan pempek, timur dan telur terlihat sangat menggoda.
"Terima kasih, Sayang," ucap Shasa sebelum menikmati pempek yang menggiurkan itu.
Geral tersenyum melihat Shasa begitu lahap saat menikmati pempek tersebut. Ia merasa lega karena setidaknya, sang istri dalam kondisi baik-baik saja, tidak mual atau pun muntah saat makan.
"Sini mendekat, biar aku suapin! Enak loh!" ujar Shasa sambil menatap Geral.
"Kamu saja yang makan, aku tidak suka pempek." Geral menggeleng pelan saat Shasa bersiap menyuapkan sesendok pempek.
Geral beranjak dari ranjang empuk itu, ia membiarkan Shasa makan sendirian. Sementara itu, ia berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum istirahat.
Sepuluh menit kemudian, Geral keluar dari kamar mandi. Ia melihat Shasa duduk bersandar di headboard ranjang sambil bermain ponsel. Setelah memakai pakaian santai, Geral segera naik ke atas ranjang. Ia merebut ponsel di tangan Shasa dan diletakkan di sisi bantal.
"Ah Ayang ...," teriak Shasa sambil menghambur ke dalam dekapan Geral.
"Ck! Jangan memanggilku dengan sebutan itu! Aku geli!" Geral berdecak kesal mendengar Shasa menyebut kata 'Ayang' saat memanggilnya.
Shasa tergelak karena berhasil menggoda sang suami. Ia suka melihat wajah kesal Geral saat mendengar kata 'Ayang' disebut. Dekapan hangat dari Geral membuat Shasa menghentikan tawanya. Ia menikmati setiap usapan lembut di beberapa titik tubuh yang membuatnya merasa nyaman.
...π π π π ...
Waktu terus berlalu, menggulung langit cerah hingga menjadi gelap. Bintang bertaburan karena sang dewi malam enggan untuk menampakkan kecantikannya. Semilir angin menambah syahdunya malam ini.
"A ... Neng betah menginap di sini," gumam Luna tanpa mengalihkan pandangan dari pemandangan indah yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Kenapa begitu?" tanya Burhan sambil memandang wajah sang istri dari samping.
"Karena di sini pemandangannya indah! Eneng bisa melihat pantai kapanpun Eneng mau!" jawab Luna dengan diiringi senyum yang sangat manis. Sikapnya saat bersama Burhan sangatlah berbeda ketika bertemu dengan Shasa.
Kucing manis, mungkin seperti itulah Luna ketika berada di dekat Burhan. Ia sangat kalem dan anggun. Entah itu sikap aslinya atau sekedar untuk menunjukkan diri, bahwa ia layak menjadi istri seorang kepala desa.
"Yang indah pemandangannya atau bule-bule yang berjemur di sana! Itu yang Bule yang gak punya celana!" sarkas Burhan dengan tatapan tak suka.
"Ih ... Aa kok gitu!" protes Luna saat mengalihkan pandangannya ke samping, ia menatap Burhan dengan menaikkan satu alisnya, "Aa cemburu, ya, kalau Eneng liat bule tampan?" selidik Luna dengan pandangan yang tak lepas dari wajah manis sang suami.
Burhan menatap Luna sekilas, lalu tidak lama setelah itu ia berlalu dari balkon kamar jendela besar yang menghadap ke pantai. Ia menghempaskan diri di atas ranjang king size bersprei putih itu.
Luna menyeringai ketika sebuah ide muncul di kepalanya. Ia segera menyusul Burhan ke atas ranjang dan tidak lupa ia melepas peignoir ungu yang menutupi tubuhnya. Chemis satin dengan belahan dada rendah yang dipakai Luna malam ini akhirnya terlihat begitu menggoda.
"A ... Aa! Emmm ... Aa gak pengen seperti kemarin malam kah?" tanya Luna dengan suara yang lirih.
Burhan membuka kelopak matanya ketika mendengar pertanyaan Luna. Ia mengernyitkan keningnya ketika melihat sang istri berpose sexy di sisinya layaknya seorang model majalah dewasa yang menjalani pemotretan. Luna pun beberapa kali mengerlingkan matanya hingga membuat Burhan semakin heran.
"Eneng kesambet di mana?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Burhan.
"Aa!" Luna mendengus kesal melihat respon sang suami. Ia tidak menyangka jika Burhan melontarkan pertanyaan itu.
Sepertinya, rencana menghabiskan malam yang indah terancam batal karena Luna terlanjur kesal melihat suaminya itu. Ia segera turun ranjang dan kembali memakai peignoirnya.
"Eneng kesel sama Aa!" sungut Luna sebelum naik ke atas ranjang.
...πΉSelamat membacaπΉ...
ββββββββββββββββ
Hallo besti ... othor gemol datang lagi nihπ Di hari minggu yang cerah ini, othor mau merekomendasikan karya keren untuk kalian semua dari author Rahayu Ningtiyas Bunga Kinanti dengan judul Mr. Arogant. Yuk, kepoin biar gak penasaranπ
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...