Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Naskah Terhapus!


__ADS_3

Alarm ponsel telah berdering sejak beberapa menit yang laluβ€”tanda fajar telah tiba. Rasa hangat tengah dirasakan Shasa saat ini. Ia semakin membenamkan wajahnya untuk menghirup aroma yang tidak asing di indera penciumannya. Rasa nyaman pun hadir di sana, membuatnya enggan membuka kelopak mata.


Sekali lagi, alarm tersebut berdering. Mau tidak mau Shasa harus membuka mata. Hal yang pertama dia lihat adalah dada bidang berkulit putih. Shasa mengalihkan pandangan ke atas, manik hitamnya tertuju pada bibir yang sedikit terbuka itu.


"Jadi, aku memeluknya saat tidur?" gumam Shasa setelah sepenuhnya sadar dari alam mimpi.


Perlahan Shasa menjauh dari tubuh suaminya itu. Ia duduk bersandar di headboard ranjang sambil mengamati wajah tenang yang masih terlelap, "aku kan lagi ngambek sama dia! kenapa pakai peluk-peluk sih!" gerutu Shasa dengan suara yang lirih.


Shasa meregangkan tubuhnya, ia menguap lebar sebelum turun dari ranjang. Pandangan Shasa tertuju ke arah meja rias, ia ingat jika tadi malam sedang mengetik naskah di laptop dan belum sempat ia simpan.


"Duh! semoga naskahnya gak hilang!" Shasa panik ketika melihat laptopnya tersimpan di laci.


Manik hitam itu fokus pada layar laptop yang menyala terang. Tangannya sibuk bergerak di papan mouse untuk mencari naskah yang kemarin ia ketik. Naskah penuh rasa dengan diksi yang indah, hasil semedi setelah makan malam.


"Geral!" teriak Shasa ketika naskah yang ia ketik hilang. Lebih dari dua ribu kata telah ia selesaikan kemarin malam dan pagi ini hilang entah kemana.


"Geral!" teriak Shasa lagi dengan suara yang bergetar. Shasa pun naik ke atas ranjang karena suaminya itu tak kunjung bangun, ia mengguncang tubuh itu sampai Geral membuka mata.


"Geral! naskahku kemana?" tanya Shasa dengan wajah yang merah karena menahan tangis.


"Apa sih, Sha? aku masih ngantuk!" protes Geral seraya membalikkan tubuhnya dan membelakangi Shasa.


Tangis Shasa pun pecah pagi ini, ia menangis seperti anak kecil yang tidak dapat jatah jajan dari orang tua. Tangannya tak henti memukul lengan Geral karena kesal.


"sakit, Sha!" ucap Geral setelah menangkap tangan Shasa, "kamu ini kenapa? masih pagi udah nangis seperti anak kecil!" tanya Geral seraya menatap Shasa dengan raut wajah penasaran.


Bukannya menjawab, Shasa semakin tergugu. Suaranya menggelegar hingga membuat gendang telinga Geral terganggu. Mungkin karena risih, akhirnya Geral membungkam mulut Shasa dengan telapak tangannya.


"Ya Tuhan ... istriku kesurupan setan mana ini!" gumam Geral seraya menatap Shasa.


Shasa berusaha keras agar tangan Geral terlepas dari mulutnya. Bulir air mata semakin turun deras karena melihat wajah tanpa dosa Geral. Akhirnya, Shasa mencubit paha Geral dengan keras.

__ADS_1


"Aaw!" teriak Geral seraya mengusap pahanya.


"Geral! kenapa naskah ku dihapus!" teriak Shasa seraya menatap Geral dengan mata yang merah dan berlinang air mata.


"Naskah apa sih, Sha? kamu ini kenapa? aku gak paham deh!" Geral belum mengerti kenapa istrinya heboh di saat subuh begini.


"siapa yang nyimpen laptopku di laci?" tanya Shasa.


"ya, aku lah! kamu sendiri tidur tanpa matiin laptopnya," jawab Geral dengan entengnya.


"Huaaaaaa ...." Shasa kembali meraung-raung setelah mendengar jawaban dari Geral.


"Sha! kamu ini kesurupan atau bagaimana? aku jadi takut!" Geral bergidik ketika melihat Shasa menangis histeris.


Bukannya berhenti menangis, Shasa malah memukul lengan Geral beberapa kali. Ia sedang meluapkan kekesalannya kepada tersangka penghapus naskah novelnya. Kehilangan naskah yang sudah ditulis dengan rapi dan diksi yang indah adalah hal menyesakkan bagi penulis novel seperti Shasa.


"Semua ini gara-gara kamu! naskah novelku terhapus dan hilang! kamu harus mengembalikan semuanya, Geral!" cerocos Shasa dalam tangisnya, ia belum berhenti menyerang Geral.


"Sha, aku tidak tahu jika yang aku lakukan kemarin malam adalah menghapus tulisanmu!" kilah Geral setelah Shasa berhenti memukulinya.


"Setidaknya kamu kan bisa menyimpannya dulu!" sungut Shasa.


"Aku tidak tahu, Sha!" sesal Geral, "aku minta maaf deh," ucap Geral dengan diiringi senyum yang manis.


Shasa kembali menghempaskan diri di ranjang, ia menangis lagi tapi dengan suara yang pelan. Hari ini Shasa benar-benar galau karena naskahnya hilang. Ia terus menangis sambil berguling-guling di atas ranjang. Geral pun dibuat heran karena melihat tingkah laku Shasa saat ini.


"lebih baik aku mandi dan bersiap kerja! melihat tingkah laku Shasa saat ini bisa membuatku jadi gila!" gerutu Geral seraya turun dari ranjang. Geral pun pergi ke kamar mandi, meninggalkan Shasa seorang diri.


Shasa menarik selimutnya lagi, ia terus menangis sambil mengingat apa saja yang sudah ia tulis kemarin malam. Rasa frustasi kembali hadir dalam jiwanya karena tidak bisa mengingat rangkaian kalimat indah yang kemarin sudah tersusun rapi.


"Ayo turun, kita sarapan!" ajak Geral setelah rapi dengan pakaian semi formal.

__ADS_1


"Gak mau! aku lagi galau! jangan ganggu aku!" teriak Shasa tanpa membuka selimutnya.


Geral mengernyitkan keningnya ketika melihat penolakan dari Shasa. Heran, ya, itulah yang dirasakan Geral saat ini, ia tidak habis pikir dengan tingkah laku kekanak-kanakan istrinya itu. Geral segera keluar dari kamar tanpa mengatakan sepatah katapun.


"selamat pagi, Mi ...." sapa Geral setelah sampai di ruang makan, di mana ada bu Juleha yang sudah duduk di sana.


"pagi, Kasep!" bu Juleha tersenyum seraya menatap Geral, "kemana istrimu?" tanya bu Juleha karena tidak melihat Shasa turun bersama Geral.


"lagi nangis di kamar, Mi! katanya lagi galau dan gak mau di ganggu," jawab Geral seraya duduk di kursi.


"kenapa bisa begitu? pasti kamu jahatin dia, ya!" tuduh bu Juleha seraya menatap Geral dengan tatapan tajamnya.


"Loh! Mami kok menuduh Geral, sih!" Geral tidak terima dengan tuduhan maminya itu, "bahkan Geral sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dia inginkan!" sangkal Geral sebelum menghela napasnya dalam.


Geral pun menceritakan permasalah yang membuat Shasa Galau, hal itu membuat bu Juleha tergelak karena merasa gemas dengan tingkah laku menantunya. Bu Juleha pun menyalahkan Geral atas apa yang terjadi kepada Shasa saat ini.


"nanti sore setelah kamu pulang dari pabrik, ajak Shasa jalan-jalan, biar dia bahagia," ucap bu Juleha seraya menatap Geral, "pagi ini, biar Mami yang mengurus setoran cilok, kamu langsung berangkat saja biar nanti bisa pulang cepat!" lanjut bu Juleha sebelum menuang air putih di gelasnya.


"Lihat nanti saja, Mi," ucap Geral tanpa menatap bu Juleha.


Ibu dan anak itu akhirnya sarapan berdua saja, mereka membiarkan Shasa menenangkan diri di kamar. Kegalauan yang membuat bu Juleha ingin tertawa karena melihat tingkah lucu menantunya itu.


"Setelah ini kamu berangkat saja, biar Mami yang membawakan sarapan untuk Shasa," ucap bu Juleha setelah melihat Geral selesai sarapan.


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka β™₯️😍🌹


βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–


Hallo gengs😍 aku ada rekomendasi karya keren untuk kalian nih, kuy kepoin sah satu karya dari temen othor yang pemes iniπŸ‘‡πŸ‘‡


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2