
"aku harus melakukan sesuatu!" ujar Shasa setelah turun dari ranjang.
Suara adzan magrib mulai terdengar di sekitar tempat tinggal Shasa. Sebuah tanda bahwa petang telah datang. Kamar pengantin yang sudah di hias dengan indah, sepertinya harus dibiarkan begitu saja. Setelah akad nikah tadi pagi, Geral memutuskan untuk pulang bersama bu Juleha, ia beralasan ada kepentingan yang tidak bisa ditunda. Geral berjanji akan menjemput Shasa nanti malam untuk menginap di lantai dua gedung resepsi yang sudah mereka sewa.
Shasa menggerakkan jarinya di atas keyboard laptop untuk mengetik sesuatu. Pikirannya melayang-layang untuk menerka apa yang sebenarnya terjadi pada Geral. Ia hanya berpikir, bagaimana bisa pengantin baru tidak tinggal bersama?
Beberapa menit kemudian, akhirnya tulisan yang baru saja selesai diketik oleh Shasa tercetak bersama kertas yang keluar dari printer. Shasa membaca hasil tulisannya itu dan setelah selesai, ia menyimpan kertas itu di dalam tas.
"hmmm ... aku lebih cerdik darimu!" gumam Shasa seraya duduk di tepi ranjang. Ia meraih ponselnya setelah mendapat notifikasi pesan dari Geral.
Bersiaplah, aku dalam perjalanan!
"bodo amat!" umpat Shasa. Ia tiba-tiba saja merasa kesal dengan Geral padahal hari ini adalah hari pertama menjadi istri sah dari Geraldi Massio.
Shasa merebahkan diri di atas ranjang. Tubuhnya terasa lelah karena seharian ini tidak bisa istirahat. Beberapa kerabat dan teman satu kampungnya datang untuk mengucapkan selamat dan tak lupa menyerahkan ampao. Wajib dong ya!π
Tidak ada niat untuk segera bersiap. Shasa malah meraih gulingnya, mencari tempat ternyaman untuk berangkat berkelana ke alam mimpi. Shasa pun masih memakai pakaian rumahan yang biasa ia pakai tidur. Tentunya sedikit terbuka.
***
Mobil yang dikendarai Geral berhenti di depan bengkel mertuanya. Ia membuka ponsel untuk melihat balasan dari Shasa. Namun, pesan itu hanya dibaca tanpa dibalas, semua itu bisa terlihat disana ada dua centang berwarna biru.
"Kemana gadis ini!" gerutu Geral seraya menatap pintu masuk ke warung bu Kokom.
Geral memutuskan keluar dari mobil karena hampir lima belas menit menunggu dan tidak kabar dari Shasa. Mau tidak mau ia harus masuk untuk menjemput istrinya itu. Beberapa kali menelfon pun tidak diangkat oleh Shasa.
"Assalamualaikum ...." ucap Geral ketika sampai di depan pintu.
"Waalaikumsalam ...." jawab beberapa orang yang sedang duduk di warung.
Pak Cipto segera berdiri dan mengajak menantunya masuk. Beliau tahu jika saat ini Geral masih sungkan dan belum beradaptasi dengan keluarganya. Tanpa bertanya kepada siapapun di mana keberadaan putrinya, Pak Cipto mengantar Geral sampai di depan kamar Shasa.
__ADS_1
"Masuklah, Nak! mungkin istrimu ada di dalam," ucap pak Cipto seraya menepuk bahu Geral. Beliau tersenyum tipis sebelum meninggalkan Geral seorang diri.
Geral tertegun di depan kamar Shasa. Ia bingung antara langsung masuk ataukah menunggu Shasa membukakan pintu. Beberapa detik kemudian, akhirnya Geral memutuskan masuk saja karena malu jika sampai ada orang yang melihatnya berdiri di depan karena Shasa.
Geral menaikkan satu alisnya ketika melihat Shasa tidur terlentang di atas ranjang. Ternyata ini alasan kenapa Shasa tidak membalas pesannya. Begitulah yang ada dalam pikiran Geral. Pandangan Geral menyapu isi kamar Shasa, walau tak sebesar kamar di rumahnya tapi kamar ini terlihat nyaman. Dekorasi indah layaknya kamar pengantin baru membuat Geral tersenyum simpul.
"lumayan rapi!" gumam Geral saat berjalan menuju ranjang.
Geral mengernyitkan kening ketika melihat banyak poster dan beberapa foto aktor dan aktris Hollywood tertempel di pintu almari Shasa. Ia melihat aktor tersebut berpose sexy dengan memamerkan bentuk tubuh yang atletis. Geral harus menahan tawanya ketika melihat foto berukuran 10R yang ada di atas meja di sisi ranjang Shasa. Apa yang dilihatnya saat ini benar-benar menggelitik hati. Ia melihat foto hasil editan, di mana Shasa sedang berpose bersama aktor tersebut.
"Jadi nama artisnya Jamie Dornan dan Dakota Johnson?" gumam Geral setelah membaca beberapa tulisan di foto yang tertempel di pintu almari.
"rupanya dia fans fanatik artis itu!" Geral berdecak.
Setelah selesai melihat isi kamar Shasa, Geral duduk di tepi ranjang. Ia harus membangunkan gadis yang sedang terlelap itu tapi ia sendiri bingung bagaimana caranya. Haruskah ia menyentuh tubuh itu ataukah memanggil namanya. Hmmm membingungkan!
"Maisha!" akhirnya Geral memutuskan untuk memanggil nama Shasa.
"kenapa bibirnya menggoda sekali?" gumam Geral dalam hati.
Tatapan mata Geral turun ke bawah, ia melihat leher mulus itu lagi setelah terakhir melihatnya saat lamaran dulu. Tatapannya terus turun hingga sampai di dua gundukan yang lumayan besar ukurannya hingga membuat Geral menelan ludah.
"cukup menggemaskan!" gumamnya lagi tanpa sadar.
Geral menggelengkan kepala agar segera sadar dari pikiran kotor yang hadir di kepalanya. Ia harus kembali fokus membangunkan Shasa agar bisa berangkat menuju kota tetangga.
"Maisha!" kali ini Geral memberanikan diri menyentuh lengan Shasa. Beberapa kali Geral menepuk lengan itu hingga Shasa membuka matanya.
Shasa mengedipkan mata beberapa kali, senyumnya mengembang begitu saja kala melihat sosok yang duduk di sisinya. Shasa segera duduk dan memeluk tubuh Geral tanpa permisi.
"Jamie Dornan! kenapa kamu ada di kamarku!" ujar Shasa seraya mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"oh my God! aku kira tadi hanya mimpi! ternyata bukan ya!" ujar Shasa lagi dengan suara yang lantang.
Geral bingung menghadapi situasi saat ini. Ia hanya diam dan membiarkan Shasa memeluknya sambil berceloteh menyebut nama Jamie Dornan. Akhirnya, Geral paham jika saat ini Shasa belum sepenuhnya kembali dari alam mimpi.
"Hey! aku bukan Jamie Donat!" ujar Geral hingga membuat Shasa terdiam.
Perlahan Shasa mengurai tubuhnya setelah mendengar suara itu. Kesadarannya mulai pulih setelah mengamati kamarnya berubah menjadi kamar pengantin bernuansa putih. Shasa mulai mengurai tubuhnya dengan kelopak mata yang tertutup.
"buka matamu dan lihatlah aku!" ucap Geral dengan suara yang lirih.
"yaaah! bukan Jamie Dornan ternyata!" sesal Shasa dengan bibir yang mengerucut.
Shasa kembali merebahkan diri. Namun, tubuhnya kembali duduk setelah ditarik oleh Geral. Shasa terkesiap, ia baru sadar jika Geral sudah sampai di dalam kamar.
"Eh ... sejak kapan kamu masuk ke kamarku? bukannya tadi masih di jalan?" tanya Shasa seraya menatap Geral dengan intens.
"Jadi yang aku peluk tadi bukan Jamie Dornan tapi dia! OMG! malu banget rasanya!" gerutu Shasa dalam hati.
"sekarang cepat ganti bajumu! kita harus cepat berangkat!" ujar Geral seraya menatap Shasa.
Shasa hanya diam sambil mengamati wajah tampan yang ada dihadapannya. Ini adalah pertama kalinya Shasa melihat Geral dari dekat dan dengan waktu yang cukup lama. Jujur saja, ia kagum dengan wajah kebulean suaminya itu. Perasaan Shasa menjadi meleleh setelah melihat bibir Geral yang berbeda tipis dengan Jamie Dornan.
"Bagaimana rasanya bibir itu? apakah seperti cotton candy yang biasa aku tulis di novel?" gumam Shasa saat membayangkan adegan yang pernah ia tulis.
...πΉSelamat membacaπΉ...
ββββββββββββββββ
Hallo semua reader kesayangan othor, nih othor punya rekomendasi karya keren, kuy mampirπ
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...