Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Naik Ojek Online saja!


__ADS_3

Pagi telah datang menyibak selimut gelap di cakrawala. Sang mentari tersenyum penuh arti hingga semua merasakan semangatnya. Meskipun begitu, semua warga si Bubur hadir memenuhi undangan dari pak Cipto. Tenda hajatanpun terpasang di sana agar tamu undangan bisa duduk dengan nyaman tanpa harus terkena panasnya sinar mentari.


Acara syukuran atas kehamilan Shasa telah dimulai. Namun, sang empu malah terkurung di kamar karena tiba-tiba saja kepalanya pusing dan merasakan mual, sudah lebih dari tiga kali ia harus bolak-balik ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


"Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Geral sambil mengusap punggung Shasa.


"Aku seperti orang mabok perjalanan, Ge! Semuanya tiba-tiba saja berubah saat berada dalam keramaian," keluh Shasa sambil menatap Geral dari pantulan cermin yang ada di kamar mandi.


"Apa itu wajar terjadi pada ibu hamil?" tanya Geral lagi.


"Entahlah! Aku kan baru hamil sekarang!" Shasa berdecak setelah mendengar pertanyaan sang suami.


Tak berselang lama, Shasa kembali membungkukkan tubuhnya di wastafel karena merasakan mual yang begitu hebat. Tubuhnya menjadi lemas karena semua makanan yang baru saja masuk harus keluar kembali.


"Aku gak mau keluar kamar, Ge! Serius, aku pusing saat melihat keramaian. Rasanya sama seperti kemarin, saat aku menghadiri pernikahan Burhan," keluh Shasa lagi.


"Kalau begitu biar aku saja yang keluar, ya," ucap Geral dengan tangan tak henti mengusap punggung sang istri.


Shasa hanya mengangguk pelan. Kondisi tubuhnya memang sedang tidak baik-baik saja karena melihat banyaknya tamu undangan yang datang. Sungguh, keadaan ini benar-benar menyiksanya.


Sepertinya, acara berjalan dengan lancar. Itulah keadaan yang dipantau Shasa dari kamarnya. Ia mendengar setiap kata yang terdengar dari sound yang disediakan di sana. Ia tidak menyangka jika mertuanya akan membuat acara dadakan seperti ini.


...πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ ...


Dua hari telah berlalu, kini, Geral dan Shasa harus kembali ke Cibiru karena banyak pekerjaan yang harus dikerjakan Geral di pabriknya. Ketiga anggota keluarga pak Cipto mengantar sepasang suami istri itu sampai di teras rumah.


"Tidak usah terlalu ngebut, Nak! Apalagi, di jam-jam seperti ini jalanan pasti masih sepi," tutur pak Cipto sambil menepuk bahu Geral.


"Iya, Yah." Geral tersenyum simpul saat mendengar penuturan ayah mertuanya itu.


Setelah selesai pamit dan ngobrol beberapa menit. Akhirnya, sepasang suami istri itu masuk ke dalam mobil dan sesaat kemudian, mobil putih itu melenggang dari kediaman pak Cipto.

__ADS_1


"Masih gelap ya, Ge," gumam Shasa ketika mengamati situasi di luar mobil.


"Pasti lah, matahari masih tidur, Sha! Ini masih subuh!" jawab Geral tanpa mengalihkan pandangan ke arah Shasa. Ia sedang fokus mengemudi.


Langit gelap mulai pudar seiring berjalannya waktu. Mobil yang dikendarai Geral mulai memasuki kawasan industri, di mana biasa terjadi kepadatan arus lalu lintas di jam kerja seperti ini. Shasa pun mulai mengeluh ketika terjebak macet di kawasan industri tersebut.


"Aduh, Ge! Gak ada jalan lain apa?" protes Shasa dengan mata yang terpejam.


"Tidak ada, Sha! Sabar ya, sebentar lagi kita akan keluar dari zona ini kok!" Geral mengalihkan pandangan sekilas ke arah sang istri. Ia tahu pasti istrinya itu sedang menahan rasa tidak nyaman.


Beberapa saat kemudian, Shasa membuka dashboard mobil untuk mencari kresek hitam yang sudah ia siapkan di sana dan tidak berselang lama, Shasa mengeluarkan isi perut seperti biasa.


"Minggir dulu, Ge!" ujar Shasa dengan suara yang lirih.


Mobil putih itu akhirnya berhenti di depan mini market setelah berhasil beberapa menit terjebak kemacetan. Jujur saja, Geral sangat prihatin melihat keadaan sang istri saat ini.


"Ge, aku pulang naik ojek online saja, ya!" ujar Shasa setelah keadaannya mulai membaik.


"Jangan! Nanti kalau keadaanmu semakin parah bagaimana?" Geral menggeleng pelan setelah mendengar permintaan sang istri.


Geral melenguh ketika melihat sorot mata penuh harap sang istri. Ia tidak tega jika membiarkan Shasa harus naik ojek online karena perjalanan masih kurang tiga puluh menit lagi.


"Bagaimana kalau aku saja yang membonceng kamu, biar Kang ojolnya yang mengendarai mobil ini," usul Geral tanpa berpikir panjang.


Mata indah itu melebar sempurna setelah mendengar ide konyol yang diucapkan oleh Geral. Tentu saja Shasa tidak setuju dengan ide itu. Ia tidak percaya jika orang lain yang mengendarai mobil mahal sang suami.


"Jangan aneh-aneh, deh!" protes Shasa, "Udahlah lebih baik kamu ikuti saja saran dariku! Toh, nanti kalau aku gak kuat pasti menghubungi kamu!" Shasa memasang wajah cemberut.


Pada akhirnya, mau tidak mau, Geral pun mengikuti kemauan sang istri. Ia segera membuka ponselnya untuk memesan ojek online dan tidak lupa Geral mencari Kang ojek yang sedikit berumur. Pantang untuknya memesan ojek yang muda. Aiih! Bilang saja kalau cemburu.


"Tunggu sebentar lagi, Kang ojeknya masih dalam perjalanan," gumam Geral tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, di depan mobil Geral ada seseorang Kang ojek online berjaket hijau berhenti. Putra semata wayang bu Juleha itu segera keluar dari mobil untuk berbicara dengan kang ojek tersebut.


"Duh! Ngapain pakai ngobrol segala, sih!" gerutu Shasa sebelum keluar dari mobil.


"Aku mau pulang sekarang!" ucap Shasa setelah berdiri di samping sang suami.


Geral segera melepas jaketnya. Ia memakaikan jaket tersebut di tubuh sang istri. Sungguh, Shasa seperti memakai karung karena jaket tersebut kedodoran di tubuhnya.


"Jangan protes atau aku tidak akan membiarkan kamu pulang naik ojek!" Sergah Geral ketika melihat Shasa bersiap protes.


Geral kembali melanjutkan obrolannya kepada Kang ojek itu. Banyak hal yang disampaikan Geral kepada pria berusia hampir setengah abad itu, "Tolong hati-hati ya, Pak! Istri saya sedang hamil muda," ucap Geral kepada Kang ojek itu sebelum membawa istrinya.


"Papay Daddy ...." Shasa melambaikan tangannya saat motor matic tersebut mulai melenggang.


Wajah murung yang sempat menyelimuti wajah cantik itu kini mulai memudar berganti ceria. Rasa tidak nyaman perlahan sirna setelah wajah itu diterpa udara sejuk di pagi hari. Rasa nyaman mulai dirasakan ibu hamil itu.


"Pak, kenapa jalannya sangat pelan?" tanya Shasa setelah melihat speedometer motor tersebut berada di angka tiga puluh.


"Kata Akang tadi, saya disuruh pelan-pelan saja, Neng," jawab Kang ojek tersebut.


"Lebih cepat lebih baik, Pak!" ujar Shasa.


Setelah melalui berdebatan alot, akhirnya Kang ojek tersebut mau melakukan keinginan Shasa. Laju motorpun semakin cepat seperti yang diinginkan oleh Shasa. Bahkan, suara gelak tawa Shasa mengiringi perjalanan tersebut.


Sungguh aneh kelakuan istri crazy rich Cibiru ini.


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka β™₯️😍 Maaf ya kemarin enggak up, ada kepentingan mendadak nih😍


βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–


Hay hay hay ... othor gemol datang lagi mau merekomendasikan karya keren untuk kalian nih😍 Yuk, kepoin pasti kalian suka dengan karya dari author Senja_90 dengan judul Dikhianati karena tak kunjung hamil. Nih coba baca blurbnyaπŸ‘‡πŸ‘‡

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2