Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Cincin dan Tumbal?


__ADS_3

Sang raja sinar tengah menampakkan keangkuhannya. Semilir angin menjadi melodi yang menemani. Cuaca panas telah melanda kota Bandung saat ini. Pedagang minuman berjajar rapi di pinggir jalan, minuman segar yang terlihat menggoda pun berhasil membuat beberapa orang singgah.


"Sha, coba lihat siapa yang datang!" perintah bu Kokom ketika melihat bagian depan mobil yang berhenti di depan warung. Bu Kokom sibuk membuat bakwan sayur yang biasa tersedia di warung.


Shasa mengalihkan pandangannya dari laptop. Ia berdiri sambil membenarkan kunciran rambut yang asal-asalan. Shasa mengernyitkan keningnya ketika melihat seorang wanita seumuran bu Kokom masuk ke dalam warung diikuti seorang pria di belakangnya.


"Bu Kokom ada?" tanya wanita tersebut setelah Shasa berdiri di balik meja.


"Sebentar saya panggilkan dulu, Bu! silahkan duduk," ucap Shasa dengan suara yang terdengar lembut.


Shasa segera kembali ke dalam untuk memanggil Mamanya. Ia mengatakan jika ada seorang wanita yang mencari beliau. Shasa kembali ke tempat asalnya setelah bu Kokom berdiri dari bangku bambu.


Khayalan Shasa kembali melalang buana ketika melanjutkan cerita yang ia tulis di laptopn. Ia tersenyum manis dengan pandangan yang tak lepas dari layar laptop. Ia tak menghiraukan suara bu Kokom dan wanita yang baru saja datang itu.


"Shasa!" terdengar suara teriakan bu Kokom, hal itu membuat Shasa mengerutkan keningnya.


"ada apa lagi, sih!" gerutu Shasa seraya bangkit dari tempat duduknya.


"ada apa, Ma?" tanya Shasa setelah sampai di depan. Ia bersandar di bingkai pintu seraya menatap bu Kokom.


"kamu tadi udah salim sama calon mertua kamu belum?" tanya bu Kokom seraya menatap Shasa dengan lekat.


Shasa terkesiap setelah mendengar pertanyaan bu Kokom, ia menegakkan tubuhnya dan segera mengalihkan pandangan ke arah wanita paruh baya berambut merah maroon itu. Senyumnya merekah seperti bunga di pagi hari tapi tak lama setelah itu senyuman Shasa langsung pudar, kala pandangannya tertuju pada sosok pria yang duduk di sisi wanita berambut merah tersebut.


"Ini kah calon suamiku? oh my god! apa-apaan sih Mama ini! dia lebih hancur dari Burhan!" gerutu Shasa dalam hati.


"Wah ini kah anakmu yang jadi calon menantuku, Kom?" tanya bu Juleha setelah mengamati Shasa dari ujung rambut sampai ujung kaki, "Sangat cantik meski tanpa make up!" gumam bu Juleha.


"Sha, salim dulu gih! kok malah bengong!" bu Kokom menepuk pundak Shasa karena putrinya itu masih berdiam diri di tempatnya.


Shasa segera meraih tangan bu Juleha, ia mengecup punggung tangan bu Juleha dengan takdzim. Shasa terpaksa mengembangkan senyumnya kepada pria yang ada di samping bu Juleha.


"Mari masuk ke ruang tamu, Tante!" ucap Shasa setelah berdiri di depan bu Juleha.


"tidak usah! di sini saja, Sayang!" ucap bu Juleha seraya tersenyum manis, "jangan panggil tante dong, panggil Mami aja sama seperti Geral!" ucap bu Juleha.

__ADS_1


"Iya, Mi!" Shasa mengembangkan senyumnya.


"Kom, sekarang bersiaplah! kedatanganku kesini untuk mengajak kamu dan Shasa pergi belanja untuk mencari seserahan dan cincin lamaran!" ucap bu Juleha.


"Maaf ya, Sha! calon suamimu tidak bisa ikut karena dia ada urusan penting!" ucap bu Juleha seraya menatap Shasa.


"terus yang di samping Tante, eh Mami, itu siapa?" tanya Shasa penasaran.


"ooh! ini keponakan Mami, sepupunya Geral!" ujar bu Juleha setelah menatap pria kopi susu yang ada di sampingnya.


Shasa menghela napasnya lega setelah tahu bahwa pria tersebut bukanlah calon suaminya, "alhamdulillah!" ucap Shasa dengan suara yang lirih.


...πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ ...


Mobil putih yang dikendarai keponakan bu Juleha akhirnya melaju di jalan raya menuju pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota. Shasa hanya diam sambil mendengarkan bu Kokom dan bu Juleha yang sedang bernostalgia tentang masa lalu.


"Kom, bagaimana kalau pernikahan anak-anak kita diajukan saja! ya, dua minggu setelah lamaran gitu!" ujar bu Juleha yang membuat bu Kokom dan Shasa saling pandang.


"jangan dong, Jul! aku belum ada persiapan!" elak bu Kokom.


"aduh ... kalian tidak usah memikirkan soal biaya! nanti semua biaya resepsi biar jadi urusanku!" ujar bu Juleha dengan yakin.


"Tapi Mi, emm tapi ...." ucapan Shasa harus terputus karena dipotong oleh calon mertuanya itu.


"Kamu gak usah ragu karena Geral yang meminta semua ini! dia tidak mau terlalu lama menunggu!" ucap bu Juleha seraya tersenyum tipis.


Shasa hanya diam setelah mendengar penuturan calon mertuanya itu. Pikirannya mulai menerka apa kiranya yang membuat calon suaminya ingin mempercepat pernikahan ini.


"Jangan-jangan dia duda? atau dia ada misi tersembunyi? hmmm apa mungkin dia menikahiku hanya untuk sebuah status? oh my god ... bagaimana jika setelah menikah aku hanya menjadi pajangan dan dia tetap menjalin hubungan dengan pacarnya?" gerutu Shasa dalam hatinya


Lamunan Shasa hilang seketika tatkala bu Kokom menepuk pahanya. Shasa mengedarkan pandangan ke depan dan ternyata mobil yang ia tumpangi sudah sampai di tempat parkir emol yang ada di pusat kota.


"Tante, saya di sini saja, ya!" ucap keponakan bu Juleha setelah ketiga wanita itu turun.


"terserah kamu saja!" ucap bu Juleha.

__ADS_1


Akhirnya, ketiga wanita tersebut berjalan menuju gedung yang menjulang tinggi itu. Toko perhiasan, tempat pertama yang dikunjungi oleh bu Juleha. Kilau permata yang indah berjajar rapi memanjakan mata. Bu Juleha mengajak Shasa ke tempat display cincin.


"kamu mau cincin yang mana, Sha?" tanya bu Juleha tanpa menatap Shasa, beliau sibuk menatap satu persatu deretan cincin emas yang berkilau indah.


"Saya pasrah saja, Tan ... eh, Mi!" jawab Shasa, ia bingung jika disuruh memilih perhiasan-perhiasan itu apalagi memilih bersama wanita yang baru ia kenal.


Andai saja bu Kokom atau Yulia yang menawarinya, pasti Shasa akan memilih cincin bermata putih yang terlihat sangat indah di mata.


"Non, saya mau lihat yang ini!" ujar bu Juleha kepada pegawai toko tersebut setelah menemukan perhiasan yang cocok untuk calon menantunya itu.


"Waw! bagus sekali!" mata bu Juleha berbinar kala melihat model cincin yang baru saja dikeluarkan dari etalase.


"Coba dulu, Sha!" ucap bu Juleha seraya menatap Shasa.


"gimana, Kom? cocok gak?" bu Juleha ingin tahu pendapat dari calon besannya itu.


"cocok, sih, Jul!" bu Kokom menatap cincin yang tersemat di jari putrinya, "tapi itu terlalu indah, Jul! pasti harganya mahal!" lanjut bu Kokom dengan suara yang lirih.


"tenang! aku bahkan akan membelikan Shasa lebih dari ini!" ujar bu Juleha yang membuat Shasa menaikkan satu alisnya.


Pikiran negatif tiba-tiba saja bersarang di kepala Shasa setelah mendengar ucapan calon mertuanya. Ia mencoba menerka dari mana sebenarnya kekayaan calon mertuanya itu. Shasa bergidik ngeri saat membayangkan sesuatu yang menggelitik hati dan pikirannya.


"Jangan-jangan kekayaannya hasil pesugihan!"


"Aiiih! jangan bilang kalau saat ini bu Juleha ini lagi cari tumbal!"


"OMG!! aku gak mau berakhir jadi tumbal!"


Ya, begitulah isi pikiran Shasa saat ini. Pikiran negatif dan tak beralasan itu telah bersarang dalam otak kecil yang ada di kepalanya. Sungguh, konyol pemikiran gadis berparas cantik itu!


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍β™₯️🌹


...FB: Titik Pujiningdyah || IG: @tie_tik...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2