Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Eksperimen?


__ADS_3

Hari-hari bahagia telah dilalui oleh Shasa. Selama menjalani pernikahan dua bulan ini, Geral bersikap sangat baik kepadanya walau kata cinta belum pernah terucap secara langsung. Shasa tidak mempermasalahkan hal itu karena baginya sikap yang ditunjukkan Geral kepadanya sudah cukup membuktikan bahwa suaminya itu tidak mungkin memiliki wanita lain.


Setiap Geral pergi ke rumah produksi cilok, Shasa selalu ikut. Tidak ada yang Shasa lakukan di sana selain duduk di samping Geral. Biasanya, Shasa membawa laptop untuk menyelesaikan naskah-naskah novelnya dan Geral tidak keberatan akan hal itu.


Beberapa waktu yang lalu, Shasa diajak Geral keliling Cibiru untuk melihat di mana saja outlet cilok milik suaminya itu. Ada tiga puluh lima gerobak dan outlet yang tersebar di Cibiru dan ada beberapa di kota sebelah.


Terkadang, Shasa menggantikan Geral menghandle setoran para Kang cilok saat Geral ada keperluan di luar. Bu Juleha lah yang mendampinginya selama Geral berada di luar.


"Ge, Mami tadi ngirim pesan ke aku, katanya nanti Mami mau bicara penting," ucap Shasa tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.


"Tumben! memang ada apa?" tanya Geral seraya mengalihkan pandangan ke arah Shasa.


"Entahlah! Mami cuma bilang itu aja!" jawab Shasa, ia masih fokus dengan tulisan di laptopnya.


Geral kembali fokus menghitung jumlah setoran kemarin sore. Tentunya setelah semua Kang cilok berangkat ke outlet masing-masing. Selama ini cilok yang diproduksi Geral laris manis diserbu penggemarnya. Rasa yang pas di lidah membuat para pelanggannya tidak bisa berpaling ke cilok lain.


"Ge, kenapa kamu gak mengembangkan rasa cilok dengan varian rasa yang lain?" tanya Shasa setelah menutup laptopnya karena naskah-naskahnya sudah selesai diunggah di aplikasi.


"Aku belom ada ide, Sha," jawab Geral tanpa menatap Shasa.


"Coba deh kamu bikin cilok yang dibumbuin seperti seblak gitu, pasti laris manis!" usul Shasa dengan antusias, "aku liat di group-group kuliner, cilok bumbu pedas sedang viral loh!" lanjut Shasa seraya menatap Geral.


"Oke, nanti kita bicarakan sama mami, karena semua bumbu itu racikan mami," ujar Geral seraya menutup buku besar yang biasa menemaninya di pagi hari seperti saat ini.


Shasa beranjak dari tempat duduknya. Ia masuk ke dalam rumah produksi untuk mengambil sesuatu di dalam sana. Beberapa menit kemudian ia kembali lagi ke depan dengan membawa dua pack cilok frozen.


"Aku nanti mau nyoba bikin di rumah, Ge," ucap Shasa seraya meletakkan cilok tersebut di atas meja.


"Memangnya kamu bisa?" Geral tidak yakin jika Shasa bisa berkutat di dapur.

__ADS_1


"Bisa lah! tinggal lihat di entup resepnya!" ujar Shasa dengan percaya diri.


"Semoga berhasil!" ucap Geral seraya menepuk pantat Shasa.


Setelah selesai mengurus tugasnya di pagi hari, Geral mengajak Shasa pulang. Kali ini mereka berdua naik motor, sesuai permintaan Shasa. Sejak kemarin menantu bu Juleha itu merengek ingin dibonceng naik motor matic.


"Ge, mampir ke warung sayur yang ada di depan komplek ya," ucap Shasa setelah Geral melajukan motornya keluar dari halaman luas rumah produksi.


...♦️♦️♦️♦️...


Penunjuk waktu berada di angka sepuluh pagi tepat saat Geral dan shasa sampai di rumah. Shasa segera masuk ke dalam rumah, meninggalkan Geral seorang diri di depan. Menantu bu Juleha itu langsung ke dapur untuk mengeksekusi cilok seperti yang ia lihat di entub.


"Non, mau ngapain di dapur?" tanya bu Narti setelah melihat Shasa membuka rak bawah untuk mencari bumbu.


"Saya mau bikin bumbu cilok, Bu," jawab Shasa tanpa menatap bu Narti, "tempat bumbunya di mana ya, Bu?" Shasa membalikkan tubuhnya, ia menatap bu Narti yang ada di balik tubuh.


"Aduh, Non! biar saya aja atuh yang masak! nanti Nyonya besar marah kalau saya membiarkan Nona berkutat di dapur," ucap Bu Narti seraya menatap Shasa.


Selama tinggal di rumah ini, Shasa belum pernah menyentuh bumbu apapun di dapur. Bu Juleha benar-benar melarangnya melakukan pekerjaan tersebut. Namun, terkadang Shasa harus berkutat di dapur kala Geral memintanya untuk membuat kopi atau susu hangat.


Beberapa bumbu sudah disiapkan oleh Shasa—bawang merah, bawang putih, cabe rawit, cabe kriting, kencur dan merica. Semua bumbu dimasukkan ke dalam blender dan setelah halus, Shasa menuang semua bumbu tersebut di dalam penggorengan. Daun jeruk purut pun dimasukkan ke dalam bumbu yang sedang ditumis itu, hingga membuat aroma sedap tercium di dapur.


"Aduh sampai lupa bumbu yang lain!" Shasa menepuk keningnya. Ia mencari garam, gula dan penyedap rasa sebagai pelengkapnya.


Setelah memastikan rasa bumbu tersebut pas, Shasa memasukkan cilok-cilok yang ia bawa dari rumah produksi. Senyumnya mengembang seketika kala berhasil membuat cilok pedas ala chef Shasa.


"Sha, aromanya tercium sampai depan!" ujar Geral setelah masuk ke dapur. Ia menghampiri Shasa yang berkutat di depan kompor.


"Cobain dulu, Ge! sepertinya enak nih!" ucap Shasa seraya mencari garpu untuk mengambil cilok buatannya, "Jangan lupa ditiup dulu!" ucap Shasa setelah menyerahkan garpu tersebut kepada Geral.

__ADS_1


Geral mencicipi cilok tersebut. Ia hanya diam sambil menikmati rasa yang enak tapi agak aneh di lidahnya. Ia tidak bisa menyimpulkan bagaimana rasanya bumbu eksperimen istrinya itu.


"Gimana rasanya? enak gak?" tanya Shasa dengan sejuta rasa penasaran yang terukir di wajahnya.


"Emmm ...." Geral bingung harus menjawab apa karena rasanya tidak bisa disimpulkan.


"Enak, Sha! Tapi ada yang kurang pas!" jawab Geral seraya menatap Shasa. Ia tidak mau sampai mengecewakan istrinya itu.


Shasa meninggalkan Geral di dapur, ia pergi ke belakang untuk mencari bu Narti agar mencicipi hasil eksperimennya. Shasa berharap bu Narti bisa memberi penilaian yang tepat.


"ini mah kebanyakan bawang sama penyedap rasa, Non!" ucap bu Narti setelah mencicipi bumbu racikan Shasa, "memangnya Non Shasa ngasih bawangnya berapa siung?" tanya bu Narti.


"Oh, kalau kebanyakan bawang jadi gak enak ya, Bu? Tadi saya pikir semakin banyak bawang sama penyedap rasa maka rasanya lebih gurih gitu!" ujar Shasa seraya menatap bu Narti.


"Tadi saya mengupas bawang satu bungkul, Bu!" jawab Shasa dengan entengnya.


Geral harus menahan tawanya ketika mendengar jawaban dari sang istri. Pantas saja jika rasanya menjadi aneh. Sebelum Geral mengacaukan mood sang istri, ia memilih pergi dari dapur dengan beralasan ingin merokok di teras belakang.


"Shasa ... Shasa! Bawang satu bungkul dimasukkan semua! Apa gak sekalian satu kilo dipakai semua!" gerutu Geral saat mengayun langkah menuju teras belakang.


...🌹Selamat membaca🌹...


...FB: Titik Pujiningdyah || IG: @tie_tik...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Hallo, Zheyenk😍 aku mau merekomendasikan karya keren untuk kalian nih😍 yuk kepoin biar gak penasaran😎

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2