
"Aa! kenapa tidak masuk?"
Luna tersenyum kepada Burhan, ia seakan lupa amarah yang sempat berkobar dalam dirinya. Kedatangan Burhan seperti angin segar yang membuat rasa iri itu musnah.
Langkah demi langkah telah Luna lalui hingga sampai di tempat Burhan berada. Ia menatap Burhan dengan segala rasa yang ia miliki, hatinya berdesir setelah melihat Burhan tersenyum manis kepadanya. Luna pun sangat bahagia, ia seperti mendapatkan hadiah gelas cantik dari sabun colek.
"Kamu mau ikut Aa sebentar?" tanya Burhan seraya menatap Luna dengan tatapan penuh harap.
Luna tertegun setelah mendengar pertanyaan dari Burhan. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup Luna mendapat tawaran dari Burhan. Benar-benar kesempatan emas!
"mau Aa! mau banget!" ucap Luna tanpa bertanya kemana anak pak KADES itu membawanya pergi.
"Ya sudah, kau begitu ayo berangkat sekarang!" ucap Burhan seraya memutar kunci motor piciex nya, "Bu, saya izin mengajak Luna sebentar, ya. Mungkin tidak sampai satu jam," ucap Burhan seraya menatap ibunya Luna.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, akhirnya Luna naik ke atas motor piciex itu. Luna sangat bahagia, ia tidak pernah menyangka dapat rezeki nomplok di siang bolong seperti saat ini.
"Aa ... kita mau kemana?" tanya Luna saat motor piciex merah itu mulai melaju.
"nanti kamu pasti tahu!" ucap Burhan.
Bibir berwarna merah muda itu melengkung indah, bunga-bunga cinta merekah dalam dada karena rezeki dari Sang Pencipta. Tanpa sadar, Luna melingkarkan tangannya di perut Burhan. Namun, tak lama setelah itu, Burhan berusaha melepaskan tangan itu dari perutnya.
"Malu dilihat orang!" ujar Burhan seraya menatap Luna dari kaca spion. Burhan risih karena Luna duduk terlalu dekat dengannya.
"Andai yang memelukku Neng Shasa! pasti gak akan aku biarkan terlepas!" gumam Burhan dalam hatinya.
Luna membelalakkan mata ketika motor yang dikendarai Burhan berhenti di depan bengkel ayahnya Shasa. Luna masih bingung untuk apakah Burhan mengajaknya kesini.
"Aa! kenapa kita datang kesini?" tanya Luna setelah turun dari motor merah Burhan.
__ADS_1
"Aa mau melihat langsung jika Neng Geulis benar-benar tunangan!" ujar Burhan seraya merapikan rambutnya.
"Tapi Aa ... acaranya sudah selesai, mungkin yang di dalam itu tinggal kerabatnya saja!" ujar Luna sebelum Burhan melangkahkan kakinya, "kalau hanya memastikan status Shasa, kenapa Aa mengajak saya?" tanya Luna dengan wajah yang merona karena menahan tangis.
"Biar saya ada temennya! kamu kan teman sekolahnya Shasa, jadi gak masalah 'kan kalau kamu hadir untuk mengucapkan selamat," jawab Burhan tanpa memikirkan perasaan Luna.
Sedih dan patah hati. Mungkin itulah yang dirasakan Luna saat ini. Setelah terbang membawa harapan bahagia, ia kembali dihempaskan ke dalam dasar jurang yang terjal. Perasaannya hancur berkeping-keping setelah mendengar jawaban dari Burhan.
"saya gak mau ikut masuk!" ujar Luna yang berhasil menghentikan langkah Burhan.
Burhan tak mau banyak bicara lagi, ia menarik pergelangan tangan Luna hingga membuat gadis itu terpaksa mengikuti langkah kakinya. Patah hati yang dialami Burhan, benar-benar menghapus rasa malunya. Ia datang setelah pesta pertunangan Shasa hanya untuk memastikan status pujaan hatinya.
"Assalamualaikum!" ucap Burhan setelah masuk ke dalam warung bu Kokom yang disulap menjadi indah.
"Waalaikumsalam!" jawab serentak semua orang yang ada di sana. Semua mata memandang ke arah dua orang tamu yang baru saja hadir di saat acara selesai.
"Silahkan masuk, Nak Burhan!" ujar bu Kokom seraya berdiri dari tempat duduknya. Beliau ingin menyambut kehadiran calon kepala desa periode selanjutnya. Itupun kalau terpilih.
"loh Bubur!" ujar Shasa ketika melihat kehadiran Burhan di sana. Ia baru saja kembali dari kamar mandi, mengantar Geral.
"Neng Geulis! Neng ...." Burhan menghentikan ucapannya karena melihat wajah pria yang berdiri di samping Shasa.
Luna semakin membelalakkan mata kala melihat secara langsung wajah tampan calon suami Shasa. Hatinya kembali terbakar oleh rasa iri dan dengki. Ia benar-benar tidak terima jika nasib Shasa lebih beruntung darinya.
"Tumben datangnya sam si Cul—eh Luna?" hampir saja Shasa keceplosan di depan calon mertuanya.
Burhan hanya diam, rasanya ia tak bisa mengeluarkan rangkaian kata lagi. Kali ini Burhan benar-benar patah hati apalagi ketika melihat binar bahagia dari sorot mata Shasa. Jalan untuknya merebut hati Shasa sepertinya benar-benar buntu.
"Iya, Neng! daripada Aa datang sendiri gak enak!" ucap Burhan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cantik Shasa.
__ADS_1
"Aa kesini mau mengucapkan selamat atas lamaran Neng geulis. Besok Aa tidak boleh datang ke rumah siapapun karena sudah masuk hari tenang." Burhan menatap Shasa semakin intens.
"Biarpun hari tenang tapi hati Aa tak bisa tenang memikirkan Neng Shasa yang menjadi milik orang!" ujar Burhan yang berhasil membuat semua mata menatap ke arahnya.
Geral memicingkan matanya setelah mendengar ucapan Burhan. Ia penasaran siapakah pria manis yang ada di hadapannya itu. Mungkinkah dia mantan pacar Shasa? begitu pertanyaan yang ada dalam pikiran Geral.
"Aa! jangan malu-maluin napa!" sahut Luna dengan tatapan tak suka. Ia mendengus kesal setelah melihat sendiri kebucinan Burhan.
Shasa menatap sekilas ke samping, di mana ada calon suaminya saat ini. Ia tersenyum tipis setelah melihat ekspresi wajah Geral yang tak biasa setelah mendengar ucapan Burhan.
"Mungkinkah dia cemburu? apakah dia sudah jatuh cinta kepadaku? seriusly? oh my God! aku tidak percaya!" gumam Shasa dalam hatinya.
Bu Kokom sendiri kaget mendengar ucapan Burhan, beliau sempat melirik bu Juleha karena tidak enak hati. Bu Kokom takut jika bu Juleha salah paham dan berpikir negatif tentang putrinya.
"Nak Burhan, silahkan makan dulu bersama Luna. Silahkan memilih sendiri makanan yang Nak Burhan mau!" ujar bu Kokom untuk memecah keheningan yang ada, "Luna, ajak nak Burhan makan dulu gih!" bu Kokom beralih menatap Luna.
"Ih Najis! sampai kapan pun aku gak akan pernah makan di sini!" umpat Luna dalam hati.
Luna hanya menggeleng pelan saat menatap bu Kokom sebagai jawaban jika tidak mau makan. Sebenarnya, Luna ingin sekali mencaci maki Shasa karena status yang menyindir dirinya tapi Luna tidak punya nyali jika di hadapan semua keluarga Shasa apalagi di dekatnya ada Burhan.
"Maaf Bu, saya tidak berselera makan! saya benar-benar patah hati!" jawab Burhan tanpa mengalihkan pandangan dari Shasa, "Lebih baik saya pamit pulang, Bu!" ucap Burhan dengan suara yang lirih.
Burhan dan Luna pamit Pulang dengan sejuta perasaan sakit di dalam hati. Jalan yang ditempuh Burhan benar-benar buntu. Meskipun tidak rela, ia wajib merelakan Shasa menjadi milik orang lain.
"Neng geulis, Aa pulang ya! jaga diri Neng baik-baik!" ucap Burhan sebelum keluar dari pintu warung.
🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍🌹
...FB: Titik Pujiningdyah || IG: @tie_tik...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...