Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Romantisme di pagi hari,


__ADS_3

"Sha, Shasa!" Geral mengguncang tubuh sang istri beberapa kali.


"Bangun yuk!" ujar Geral saat melihat Shasa mengerjapkan mata.


Senyum yang sangat manis dan tentunya tanpa pemanis buatan, terbit dari bibir Shasa kala melihat wajah tampan yang sangat dekat dengannya itu. Rasa bahagia perlahan hadir karena pada akhirnya Geral datang lebih awal, bukan satu minggu seperti yang dijanjikan ibu mertuanya.


"Ini masih terlalu pagi, Ge! coba lihat, bahkan matahari saja belum bangun!" ucap Shasa seraya menunjuk ventilasi yang ada di atas jendela kamarnya.


"aku laper, Sha! aku belum makan sejak tadi malam," ucap Geral seraya mengubah posisinya duduk bersandar di headboard ranjang.


"waduh! kasian sekali itu cacing di perutmu!" Shasa pun ikut duduk di sisi Geral.


"Maka dari itu ayo kita cari sarapan! masa gak ada sih warung makan atau kedai yang buka jam segini?" tanya Geral seraya menatap Shasa dengan lekat.


Shasa hanya diam, ia sedang memikirkan di mana ada warung yang buka di jam pagi seperti ini. Bibirnya mengerucut serta bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri karena belum menemukan jawabannya.


"Sudahlah! Jangan terlalu banyak mikir! mending kamu mandi terus kita jalan!" ucap Geral seraya menepuk paha Shasa.


"Oke, aku mandi dulu kalau begitu!" Shasa segera turun dari ranjang dan mengayun langkah keluar dari kamar.


Singkat cerita, kini sepasang suami istri itu telah siap pergi berburu sarapan. Siluet kuning mulai terlihat dari ufuk timur tanda sang mentari sudah siap merangkak naik ke peraduan.


"Kita bawa motor aja lah, Ge!" usul Shasa setelah berdiri di depan warung.


"Memang kenapa kalau bawa mobil?" Geral menaikkan satu alisnya setelah mendengar usul dari Shasa.


"biar gak ribet! Sok! buruan dikeluarkan itu motornya!" ucap Shasa seraya menunjuk motor yang ada di dalam warung.


Tanpa banyak bicara, Geral pun mengikuti keinginan sang istri. Ia mengeluarkan motor pak Cipto dari warung. Motor matic dengan body yang tidak seberapa lebar. Mungkin, jok motor itu akan penuh jika Geral dan Shasa memposisikan diri di sana.

__ADS_1


"Wah! Asyik juga ya naik motor berdua sama pasangan!" gumam Shasa setelah Geral mengendarai motor tersebut.


"Memang kamu belum pernah boncengan sama cowok?" tanya Geral seraya menatap Shasa dari kaca spion.


"Enggak pernah! hanya Ayah yang pernah memboncengku!" jawab Shasa dengan pandangan yang tak lepas dari rumah-rumah yang ia lewati.


Geral tersenyum setelah mendengar jawaban dari sang istri. Mungkin dia merasa bahagia karena beruntung memiliki istri yang masih terjaga kemurniannya. Shasa bagaikan sebuah mutiara yang berkilau di antara banyak mutiara yang pernah ia miliki.


"kalau begitu pegangan, Sha! biar romantis!" ujar Geral seraya menarik tangan kiri Shasa agar melingkar di pinggangnya.


Semburat rona merah bersemu di kedua pipi mulus itu. Shasa mengulum senyum setelah mengetahui bagaimana rasanya duduk berdua di atas motor layaknya pasangan muda lainnya. Semua kekesalan dan kemarahan kepada Geral mendadak hilang kala pria itu menunjukkan sikap manisnya.


"Aku tidak tahu apakah kamu sama sepertiku—merasakan debaran aneh yang menggelitik sanubari. Kamu berhasil memporak-porandakan perasaanku, Ge!"


"Terkadang kamu bersikap menyebalkan dan seperti tidak membutuhkan aku. Namun, adakalanya kamu menunjukkan sikap manis seperti saat ini. Aku tidak tahu apakah ini wujud dari perasaanmu ataukah hanya sekedar drama saja,"


"kita makan bubur ayam saja, Sha!" ucap Geral setelah memutar kunci motor.


"Oke, gak masalah!" ucap Shasa setelah turun dari motor.


Geral menghampiri Shasa yang duduk di salah satu bangku panjang yang ada di taman, itu pun setelah pesan dua porsi bubur ayam. Ia duduk di samping Shasa yang sedang menatap ke arah lain.


"Apa yang kamu lihat saat ini?" tanya Geral seraya mengikuti arah pandang Shasa, "kamu melihat anak-anak yang tertawa itu atau ayunannya?" lanjut Geral.


"Ayunan itu mengingatkanku pada masa kecilku dulu, Ge!" ucap Shasa tanpa mengalihkan pandangan, "aku dulu pernah menangis hampir sehari penuh karena meminta ayunan kepada ayah! Semua itu karena aku tidak berani bermain bersama teman-temanku seperti mereka," ucap Shasa seraya menunjuk beberapa anak kecil yang sedang tertawa lepas di dekat ayunan.


"kenapa seperti itu?" tanya Geral penasaran.


"Aku dulu dikucilkan, dibully dan sering dimaki. Dari situ aku jadi takut untuk bersosialisasi, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama kak Yulia," jawab Shasa seraya menatap Geral.

__ADS_1


Cerita itupun harus terhenti kala penjual bubur ayam mengantar pesanan Geral. Mereka berdua pun mulai menikmati bubur yang masih hangat. Sarapan berdua ditempat terbuka dengan udara yang masih segar membuat sepasang suami istri itu bahagia. Beberapa menit kemudian, mereka berdua telah selesai menikmati bubur ayam tersebut.


"mau main ayunan dulu?" tanya Geral setelah membayar bubur ayamnya.


Shasa tertegun mendengar tawaran itu dari Geral. Ia pun segera berdiri kala Geral menarik tangannya. Lagi dan lagi rona merah muncul di pipi Shasa kala merasakan kehangatan sikap sang suami.


"duduklah! aku akan mendorongmu!" ucap Geral dengan senyum yang tak pudar dari wajahnya.


Shasa tersenyum bahagia kala Geral mulai mendorong ayunan itu. Shasa tertawa lepas karena kebahagiaan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Mereka tidak perduli walau banyak mata yang memandang ke arahnya. Hari ini dunia serasa milik sepasang suami istri yang sedang di mabuk asmara itu.


"Stop, Ge! perutku rasanya seperti diaduk!" ujar Shasa sesaat sebelum Geral menghentikan ayunannya.


"Ya sudah, kita duduk di sana saja!" Geral menunjuk bangku kosong yang ada di sudut taman.


Mereka berjalan dengan bergandeng tangan—berjalan mengitari taman bermain yang tidak terlalu ramai. Mereka pun duduk berdampingan di bawah pohon yang rindang.


"Sha, tujuanku datang ke sini adalah untuk menjemputmu pulang!" ucap Geral beberapa detik setelah mereka berdua duduk di bangku tersebut.


"Aku janji ... aku tidak akan mengulang kesalahan seperti kemarin. Aku akan bersikap lebih baik kepadamu," ucap Geral seraya meraih tangan kanan Shasa.


Shasa masih diam, ia sibuk mengamati pancaran manik hitam yang ada di hadapannya itu. Shasa hanya ingin mencari sebuah keseriusan di sana. Shasa pun bisa melihat harapan besar yang terpancar dari sorot mata itu. Rasanya, hati yang sempat mengobarkan kemarahan, hilang seketika berganti dengan bunga-bunga asmara.


"Aku minta maaf, Sha! aku sudah lalai memberimu nafkah. Aku menyesal pernah melakukan semua hal yang membuatmu lelah, kecewa dan mungkin menangis." Geral menatap dalam manik hitam sang istri, "Aku benar-benar menyesal karena semua itu," lanjut Geral.


...🌹Selamat membaca 🌹...


...FB: Titik Pujiningdyah || IG: @tie_tik...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2