
Gemerlap bintang menghiasi langit yang gelap tanpa kehadiran sang dewi malam. Lampu-lampu di sepanjang jalan menerangi gelapnya malam ini. Mobil putih yang dikendarai Geral melaju kencang di jalan raya, beberapa waktu yang lalu ia mengajak Shasa makan malam di luar dan saat ini sepasang suami istri itu dalam perjalan pulang.
Lagu-lagu pop mancanegara menemani perjalanan mereka berdua. Tidak ada obrolan apapun sejak mobil tersebut melenggang dari restoran. Perdebatan tadi pagi sepertinya masih mempengaruhi mood Geral hingga malam. Wajahnya terlihat murung dengan sorot mata penuh kekesalan.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mobil yang dikendarai Geral sampai di halaman rumahnya. Mereka berdua pun keluar dari mobil dan mengayun langkah menuju kamar.
Geral menghempaskan diri di atas ranjang setelah melepas kaosnya. Ia sedang sibuk mengamati Shasa yang berkutat di depan laptopnya. Geral bisa melihat dengan jelas raut wajah serius sang istri.
"Sha, jangan ngetik mulu! Sini! temenin aku!" protes Geral karena istrinya itu sibuk dengan dunia halunya.
"Iya sebentar lagi, Ge! kurang beberapa kata lagi!" jawab Shasa tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
Geral berdecak kesal setelah mendengar jawaban Shasa. Terkadang ia kesal karena Shasa sering memperhatikan laptopnya ketika malam. Geral tidak suka akan hal itu.
"Sha! Sini!" teriak Geral lagi karena Shasa tak kunjung menutup laptopnya.
"Iya! iya! sebentar lah, Ge!" ujar Shasa seraya menatap Geral.
Shasa segera menutup layar laptopnya sebelum suaminya itu mengamuk dan mengacaukan tulisannya lagi. Ia langsung naik ke atas ranjang untuk menemani sang suami yang sedang galau karena akan mendapat ayah baru.
"Ada apa?" tanya Shasa setelah duduk bersandar di headboard ranjang. Kakinya berselonjor dan Geral pun merebahkan kepalanya di sana.
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua denganmu," jawab Geral dengan suara yang lirih, ia sedang mengamati langit-langit kamar yang terlihat mewah itu.
Shasa memberanikan diri mengusap rambut yang ada di atas pangkuannya. Ia membelai rambut itu dengan segenap rasa yang ia miliki. Kelembutan belaian itu membuat Geral menutup kelopak matanya.
"Mungkin ini waktu yang tepat untuk membahas pernikahan Mami," gumam Shasa dalam hatinya.
Rangkaian kata-kata yang tepat tengah disiapkan Shasa agar Geral memahami perasaan bu Juleha. Ia harus berhasil meyakinkan Geral agar bu Juleha menikah dengan restu putra semata wayangnya. Toh, selama beberapa bulan ini, bu Juleha benar-benar merubah hidupnya seperti seorang ratu.
"Ge," Shasa menatap wajah itu.
__ADS_1
"Apa?" tanya Geral setelah membuka kelopak matanya.
"Kenapa kamu tidak setuju jika mami menikah lagi?" tanya Shasa dengan suara yang lirih.
Geral menaikkan satu alisnya setelah mendengar pertanyaan sang istri. ia menatap wajah cantik yang sedang asyik menatapnya dengan sejuta rasa penasaran.
"Aku tidak suka ada yang menggantikan posisi papi di rumah ini karena sampai kapanpun papi lah ayah yang terbaik!" jawab Geral seraya menatap Shasa.
"Ge, kamu tidak boleh egois. Mami butuh kebahagiaan, Ge. Coba ingat, berapa tahun mami berjuang tanpa seorang suami, berjuang membesarkanmu sampai saat ini. Mami hanya ingin merasakan kebahagiaan di saat kamu sudah bisa mencari kebahagiaanmu sendiri, Ge," ucap Shasa seraya mengusap rambut Geral dengan penuh kasih.
Shasa pun melanjutkan misinya walau Geral terus mendebatnya. Ia terus memberikan pengertian kepada suaminya itu tentang arti mencintai. Ia juga membahas tentang kebaikan pak Rojali saat mengantarnya pulang dulu.
"Pikirkan dengan kepala dingin, Ge! jangan sampai kamu menyesal karena melukai perasaan mami," ucap Shasa dengan iringan senyum yang sangat manis, tentunya tanpa pemanis buatan.
Obrolan terus berlanjut, sepertinya Geral akan menyetujui pernikahan ibunya. Tentu saja, semua itu karena usaha keras Shasa, ia harus bisa meyakinkan suaminya bahwa pernikahan diantara bu Juleha dan pak Rojali tidak ada yang salah.
"Sepertinya, aku butuh penyegaran agar bisa berpikir jernih dan mengambil keputusan yang tepat!" ujar Geral seraya mengubah posisinya duduk di samping Shasa.
"Ya sudah, ayo kita keluar!" Shasa bersiap turun dari ranjang. Namun, tangannya ditahan oleh Geral.
Shasa langsung paham apa yang dimaksud sang suami setelah melihat tatapan matanya. Penyegaran yang dimaksud Geral adalah penyegaran di atas ranjang. Kegiatan panas itu pun akhirnya berlangsung di atas ranjang king size tersebut. Lagi dan lagi, penyelesaian masalah berakhir dengan pertempuran di atas ranjang.
***
Udara pagi yang segar masuk begitu saja kala Geral membuka jendela kamar. Ia menghirup udara pagi setelah selesai mandi dan bersiap menuju rumah produksi. Ia sedang menunggu Shasa yang sedang mengeringkan rambutnya.
"Ge, jangan lupa nanti kamu harus bicara sama mami!" Shasa mengingatkan suaminya tentang keputusan tadi malam.
"Iya, nanti waktu selesai sarapan!" jawab Geral tanpa mengalihkan pandangan. Is sedang sibuk memperhatikan burung-burung yang berterbangan dengan kawanannya.
Usaha yang dilakukan Shasa sepertinya membuahkan hasil. Geral luluh setelah mendengar kata-kata manis yang disampaikan oleh Shasa. Misi meluluhkan hati suami berhasil ditaklukkan oleh Shasa.
__ADS_1
Pagi ini, Shasa tidak bisa ikut ke rumah produksi cilok karena ia harus pergi bersama bu Juleha belanja untuk keperluan pernikahan minggu depan. Shasa pun sudah memberi kabar kepada keluarganya agar datang ke Cibiru untuk menghadiri pernikahan mertuanya.
Shasa mengalihkan pandangan dari cermin ketika mendengar notifikasi pesan di ponselnya. Ia mengernyitkan keningnya karena tidak biasanya ada SMS masuk di jam pagi seperti ini.
"Hah! serius nih?" Shasa membelalakkan mata setelah melihat siapa yang mengirim pesan.
"Oh My God!" teriak Shasa seraya berdiri dari tempatnya. Tatapan matanya tidak beralih dari layar ponsel tersebut, "Aku gak nyangka! aku pikir semuanya hoax, ternyata asli!" ujar Shasa lagi seraya mendekap ponselnya.
Geral terlihat bingung melihat sikap sang istri. Ia penasaran apa sebenarnya yang membuat Shasa sebahagia itu. Rasa penasaran yang besar membuat Geral beranjak dari tempatnya saat ini, ia mendekat ke tempat Shasa untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa, Sha?" tanya Geral saat berada di hadapan Shasa.
"Coba lihat ini, Ge!" Shasa menyerahkan ponselnya kepada Geral, ia menunjukkan SMS banking dari bank BRO, di situ tertulis tentang laporan ada transferan masuk dari PT. Entun dengan nominal tiga juta rupiah.
"Ternyata novel yang aku tulis menghasilkan uang, Ge! aku juga dapat reward level loh! Ya ampun aku gak nyangka kalau penghasilan di aplikasi Entun memang nyata!" Shasa memeluk Geral karena kebahagiaan yang ia dapatkan pagi ini.
Penghasilan dari Entun adalah gaji pertama yang diterima Shasa setelah menulis selama ini. Beberapa lapak telah ia lalui, tapi karyanya sepi pembaca, padahal genre yang ia pilih cukup menarik tapi nasib novelnya tidak seberuntung itu. Mencoba mengadu nasib di aplikasi entun ternyata membuahkan hasil, karyanya disambut dengan antusias oleh pembaca dan semua perjuangan beberapa bulan ini akhirnya membuahkan hasil.
"Ck! dapat uang transferan segini aja kamu seneng banget! masih banyak uang jajan dari aku juga!" jawab Geral saat menyerahkan ponselnya kepada Shasa.
"Ih! kamu itu ya!! Aku bahagia banget karena ini hasil kerja kerasku selama ini!" protes Shasa dengan bibir yang mengerucut, "ih nyebelin deh! ucapin selamat kek atau kasih penyemangat gitu biar mentalku gak down!" gerutu Shasa.
Geral tersenyum tipis melihat protes sang istri. Entah mengapa ia mendadak gemas melihat tingkah laku Shasa saat ini.Tanpa banyak bicara ia menangkup kedua pipi itu dan persekian detik kemudian, sebuah kecupan mesra mendarat di bibir tanpa warna tersebut.
"Maaf ya jawabanku telah membuatmu kecewa," ucap Geral seraya mengusap pipi mulus itu, "Selamat atas pencapaianmu selama ini, semoga setelah ini kamu lebih sukses di dunia halu!" Geral tersenyum manis di hadapan Shasa.
...🌹Selamat membaca🌹...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Hallo Zheyenk😍 nih, aku kasih rekomendasi karya untuk kalian😀 kalian harus kepoin nih, karena karyanya super keren loh😎
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...