Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Balada di pagi hari!


__ADS_3

Bunga-bunga cinta bermekar indah seiring dengan mekarnya senyum ceria sang mentari. Rasa bahagia menyelimuti sosok wanita yang sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Senyum itu seakan tak pernah pudar dari wajah cantiknya.


"Jadi seperti ini rasanya cinta yang terbalas! Sungguh, rasanya melebihi jatuh cinta dengan Christian," gumam Shasa dengan suara yang lirih. Tatapan matanya tak lepas dari pria yang sedang tidur pulas di tempat tidur penunggu pasien.


Penunjuk waktu berada di angka delapan pagi tapi Shasa tidak mau membangunkan sosok pria yang terlelap dalam tidurnya. Rasa lapar pun mulai melanda perutnya. Mungkin saat ini para cacing itu sedang demo karena tidak mendapat asupan apapun sejak tadi malam.


Makanan dari rumah sakitpun sudah ada sejak satu jam yang lalu. Masih utuh dan tertutup rapat karena belum tersentuh sedikitpun. Demontrasi para cacing itu membuat Shasa berdecak kesal karena mau tidak mau ia harus mengakhiri kegiatannya—mengamati wajah tampan sang suami. Perlahan ia mengatur posisi untuk berdiri dari ranjang.


"Aaww!" Shasa meringis kesakitan tatkala kakinya berpijak di lantai. Rasa nyeri dan perih membaur menjadi satu. Ia memejamkan mata karena hal itu.


"Mau kemana?" Geral terhenyak dari tempatnya setelah mendengar suara Shasa. Ia segera turun dari ranjang dan menghampiri Shasa.


"Aku lapar, Ge," ucap Shasa setelah duduk di atas hospital bed.


"Kalau lapar harusnya kamu membangunkan aku, Sha!" ujar Geral setelah mengambil makanan yang ada di meja.


"Aku tidak tega, Ge! kamu tidurnya pules banget!" ujar Shasa seraya menatap Geral dengan intens.


Geral membantu Shasa membuka satu persatu mangkuk yang tertutup plastik wrap itu. Meski belum mencuci muka dan gosok gigi, Geral tetap menemani Shasa sarapan bahkan ia membantu Shasa mengupas pisang yang ada di nampan.

__ADS_1


"Aku mandi dulu, Sha! Kalau butuh apa-apa tunggu aku saja!" ujar Geral sebelum beranjak dari bed Shasa.


Shasa tersenyum manis sambil mengacungkan jempolnya. Ia menatap punggung Geral yang hilang di balik pintu kamar mandi. Senyum itu semakin merekah kala ungkapan cinta yang diucapkan tadi malam menari-nari dalam pikirannya.


"Ya ampun! aku seperti orang gila! dari tadi senyum-senyum terus!" Shasa menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia seperti ABG yang sedang jatuh cinta.


Beberapa puluh menit kemudian, Geral keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya. Geral menaikkan satu alisnya kala melihat Shasa sedang bermain HP sambil senyum-senyum sendiri.


"Kenapa senyum-senyum gitu? lagi chattingan sama siapa sih?" selidik Geral sambil ketika sampai di sisi bed sang istri.


"Ih apaan, sih! aku lagi liat postingan di IG!" Shasa tidak terima dituduh chattingan dengan orang lain.


"Kamu penggemar pria cantik ini, Sha?" tanya Geral setelah selesai melihat video tersebut.


"Sembarangan! mereka itu gak cantik! mereka gantengnya paripurna sepanjang masa! kamu sih gak tau berapa duit yang harus dikeluarkan mereka saat oplas!" cerocos Shasa karena tidak terima idolanya dikatakan cantik.


"Ya ... ya ... ya ... Terserah kamu saja!" ujar Geral saat menyerahkan ponsel itu lagi kepada Shasa.


...♦️♦️♦️♦️...

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain ... atau lebih tepatnya di kediaman pak Rojali. Sepasang pengantin baru itu sedang menghabiskan waktu di kamar walau matahari sudah naik ke peraduan. Pak Rojali sedang ingin bermanja-manja dengan bu Juleha hari ini.


"Ayang! hari ini jangan kemana-mana, ya!" rengek pak Rojali seraya mengurai tubuhnya dari sang istri.


"Aduh, Akang! saya harus ke rumah sakit atuh! Saya harus lihat keadaan menantu geulis!" ujar bu Juleha.


"Nanti sore saja, ya, Akang antar kesana! Kita kesana bareng-bareng nengok eneng geulis!" Pak Rojali mencoba merayu bu Juleha, "sekarang temenin Akang dulu di rumah! Akang masih kangen ... pengen seperti tadi malam!" ujar pak Rojali sambil menaik turunkan alisnya penuh arti.


"Ya Ampun, Akang! apa tidak encok kalau terus-terusan minta itu?" Bu Juleha menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan kekuatan sang suami, padahal usianya tidak muda lagi.


Sebelumnya, bu Juleha tidak pernah membayangkan jika pak Rojali akan ngebut meminta jatahnya. Dalam pikiran beliau pria seumuran pak Rojali tidak mungkin sering melakukan hubungan tersebut. Namun, kenyataannya bu Juleha sampai kuwalahan menghadapi serangan bertubi-tubi dari sang suami.


"Ayang ... apa Ayang lupa, benda pusaka ini tidak pernah terpakai berpuluh-puluh tahun! Jadi, wajar saja jika saat ini senjata kebanggaanku ini terus mencari mangsanya!" ujar pak Rojali dengan bangganya. Beliau seakan ingin membuktikan kepada bu Juleha jika masih perkasa walau usianya tidak muda lagi.


Bu Juleha hanya menelan ludah ketika mendengar ucapan sang suami. Beliau benar-benar tidak menyangka jika pernikahan ini membuat beliau sering terkurung di kamar.


"Sepertinya, aku harus rajin ke bidan! Aku tidak boleh sampai lalai KB! Wah ... bisa gawat kalau sampai aku hamil lagi!" batin bu Juleha dengan pandangan yang tak lepas dari pak Rojali.


🌹Selamat membaca, semoga suka 😍♥️ Wah wah wah ... pak rojali tua-tua keladi nih😂Oh ya, sekedar mengabarkan, othor mohon maaf jika setelah ini update kurang teratur dan mungkin hanya satu bab saja🙏Harap maklum, othor ini seorang emak-emak yang riweh menjelang hari raya😂harus nyiapin nastar DKK😂Tapi ... othor gemol ini akan mengusahakan up semaksimal mungkin tapi bila tidak bisa memenuhi, mohon maap ya guys😍

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2