
Malam telah datang membawa kegelapan. Langit yang biru berubah menjadi gelap tanpa cahaya rembulan. Angin malam bahkan enggan menari di udara untuk menyambut waktu yang sudah berubah.
Kamar bernuansa putih yang biasa dipenuhi gelak tawa renyah Shasa, kini terasa sunyi sepi. Geral pun sampai heran melihat sang istri hanya diam saja sejak ia pulang tadi siang. Sikap yang ditunjukkan Shasa saat ini benar-benar membuat Geral diliputi rasa penasaran.
Segera Geral meletakkan ponselnya di atas sofa, pandangannya kini beralih ke ranjang, di mana ada Shasa yang termenung. Melihat situasi itu, membuat Geral beranjak dari sofa, ia tidak tahan lagi jika melihat Shasa mogok bicara seperti ini.
"Ada apa?" tanya Geral setelah duduk di tepi ranjang. Ia menatap wajah tanpa polesan make-up itu dengan intens.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Geral lagi hingga membuat Shasa mengalihkan pandangan ke arahnya.
Salah tingkah, itulah yang dirasakan Geral saat ini. Ia mengamati penampilannya sendiri saat Shasa menatapnya dengan tatapan yang aneh, "Kamu ini kenapa, sih, Sha?" tanya Geral.
Helaian napas berat terdengar di sana. Shasa mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mungkin inilah waktu yang tepat untuk bertanya sesuatu hal yang meresahkan pikirannya beberapa waktu ini.
"Ge, pasangan suami istri itu sebaiknya saling terbuka, tidak ada yang ditutupi apalagi sampai dirahasiakan," ucap Shasa dengan manik hitam yang tak lepas dari wajah tampan di hadapannya.
"Memang apa yang sudah aku lakukan, Sha? Aku tidak merahasiakan apapun darimu," sergah Geral seraya mengubah posisi duduknya, kali ini ia menghadap langsung ke arah Shasa.
"Kamu yakin?" tanya Shasa yang mendapat anggukan pelan dari Geral sebagai jawaban.
Shasa mengalihkan pandangan ke arah lain. Jujur saja rasanya ia ingin menggigit lengan sang suami. Bagaimana bisa dia bersandiwara seperti saat ini, padahal sudah jelas jika ada sesuatu yang disembunyikan.
Pada akhirnya, Shasa mengeluarkan semua isi hatinya. Ia menceritakan apa saja yang dirasakannya saat ini. Mulai dari menerka tentang pekerjaan sang suami hingga praduga seorang penipu.
__ADS_1
"Jadi, kamu tidak percaya padaku, Sha?" Geral menatap dalam manik hitam sang istri.
"Apakah aku seperti seorang penipu?" Sekali lagi, Geral bertanya kepada Shasa.
"entahlah, Ge! Aku tidak tahu," jawab Shasa dengan kepala yang tertunduk.
Geral meraih kedua telapak tangan nan lembut itu. Kecupan penuh rasa mendarat di sana. Seulas senyum mengembang dari kedua sudut bibir itu. Geral tidak habis pikir saja, ternyata sang istri mempunyai pikiran negatif tentangnya.
"Sekarang lebih baik kamu istirahat, besok ikutlah aku. Kamu pasti akan menemukan jawabannya," ucap Geral dengan pandangan yang tak lepas dari manik hitam yang terlihat sendu itu.
Lagi dan lagi, Shasa harus bersabar menunggu hari esok. Suaminya itu benar-benar penuh kejutan. Bisakah malam ini ia tidur tanpa menerka sesuatu yang menjadi jawaban di hari esok? Sungguh, hati semakin kacau karena hal itu.
...π π π π ...
"loh, kok belum ganti baju?" tanya Geral setelah keluar dari kamar mandi. Ia melihat Shasa duduk di depan meja rias. Bathrobe putih pun masih membalut tubuhnya.
"Aku bingung harus pakai baju apa! Aku takut salah kostum," ucap Shasa seraya menatap Geral.
Tanpa banyak bicara lagi, Geral membuka almari. Kedua bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri untuk mencari pakaian yang cocok dipakai sang istri. Sebuah span hitam selutut, kemeja tanpa lengan berwarna peach serta blazer bermotif bunga sakura telah dipilih Geral untuk di pakai sang istri.
"Kenapa pakai semi formal?" tanya Shasa setelah menerima satu stel pakaian dari Geral.
"Biar kita serasi," jawab Geral tanpa mengalihkan pandangan dari almari untuk mencari pakaiannya sendiri.
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu selama enam puluh menit untuk bersiap. Kini, sepasang suami istri itu keluar dari kamar. Mereka menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu.
"Bu Narti, kalau ada yang mencari saya, tolong bilang saja kalau saya ke GMP," pesan Geral sebelum berangkat bersama Shasa.
"Siyap, Den!" jawab bu Narti sambil mengancungkan jempolnya.
Pagi ini Shasa masih seperti tadi malam. Ia lebih banyak diam karena masih bingung apa sebenarnya yang akan ditunjukkan Geral kepadanya. Mobil putih itu pun melaju membelah jalanan kota dan suasana di dalam mobil itu sepi, hanya suara musik yang terdengar di sana.
Setelah membelah jalan selama empat puluh lima menit, mobil putih itupun akhinya memasuki kawasan industri, ada beberapa pabrik yang berdiri di sana. Melihat pemandangan yang ada disekitar, membuat Shasa teringat pria bernama Daniel. Sikap konyol yang dulu pernah ia jalani membuat kedua sudut bibir itu tertarik ke dalam.
"Ck! memalukan!" Shasa bergumam hingga membuat Geral menaikkan satu alisnya.
"Siapa yang memalukan, Sha?" selidik Geral setelah menatap sang istri sekilas.
Shasa tertegun mendengar pertanyaan dari sang suami. Apa yang diucapkannya ternyata didengar langsung oleh Geral, "Oh, itu tadi ada orang pipis di balik pohon," kilah Shasa. Ia harus berbohong agar Geral tidak bertanya lebih lanjut.
Geral kembali fokus ke depan. Pembahasan tidak berlanjut dan keduanya sama-sama terdiam. Shasa mengalihkan pandangannya saat Geral memutar setir mobil ke kiri. Mobil itu berhenti sejenak sampai pintu gerbang berwarna hijau yang ada di depan terbuka lebar.
"CV GMP food." Shasa membaca tulisan yang ada di bagian atas gedung besar yang tidak jauh dari tempat Geral menghentikan mobil.
πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka πβ₯οΈπΉ
...π·π·π·π·...
__ADS_1