Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Bukan bacaan saat puasa!


__ADS_3

Langit cerah mulai pudar karena mendung telah datang. Sinar sang surya terhalang awan berwarna abu-abu. Langit mulai terlihat redup meski penunjuk waktu masih berada di angka satu. Rintik hujan mulai turun membasahi setiap yang ada diluar persembunyian.


Hujan semakin lebat tapi semua itu tak menghalangi dua mobil yang melaju kencang di jalan raya. Kedua mobil itu mulai menurunkan kecepatan tatkala masuk di salah satu daerah yang lebih asri dari tempat tinggal Shasa biasanya. Akhirnya kedua mobil itu masuk ke dalam halaman luas rumah berlantai dua yang terlihat paling megah di komplek ini.


"ayo turun!" ucap Geral seraya menatap Shasa yang sedang termangu di tempatnya.


"Shasa!" Geral menyentuh lengan lengan Shasa hingga membuat gadis itu berpaling ke arahnya.


Shasa melepas sabuk pengamannya. Ia segera turun dari mobil, pandangannya tak lepas dari rumah megah yang ada di hadapannya itu. Ia belum percaya sepenuhnya jika ini adalah tempat tinggal mertuanya.


"mari silahkan masuk!" ucap bu Juleha sebelum mengayun langkah menuju rumahnya.


Semua anggota keluarga pak Cipto mengikuti langkah Geral dan bu Juleha. Mereka berempat dan beberapa anggota keluarga besarnya yang ikut berdecak kagum setelah melihat interior yang ada di dalam rumah.


"dia kok bisa se kaya ini, ya! apa sih sebenarnya pekerjaan Geral?" gumam Shasa dalam hati setelah mengamati isi ruang tamu, "Apa benar dugaanku, kalau keluarga ini melakukan pesugihan?" lanjut Shasa dan tentunya dalam hati.


Bu Juleha terlihat bahagia ketika besannya bersedia datang ke rumah ini. Beliau sudah menyiapkan makan siang bersama untuk keluarga barunya itu. Obrolan ringan mulai terdengar di ruang tamu tersebut ketika adik bu Juleha datang dari dalam rumah.


"lebih baik kita makan siang dulu, nanti kita bisa melanjutkan lagi obrolan ini," ucap bu Juleha setelah salah satu ART nya memberitahu bahwa makan siang sudah siap di ruang makan.


Jamuan makan siang yang disiapkan bu Juleha benar-benar istimewa. Semua beliau lakukan untuk menyambut dan menghormati besannya. Kehidupan sederhana tapi kaya yang dijalani bu Juleha tidak membuat beliau membeda-bedakan status ekonomi orang lain.


Detik demi detik terus berlalu, jingga mulai datang di cakrawala barat. Keluarga pak Cipto harus pamit pulang karena waktu yang memisahkan. Bu Kokom terharu melihat ketulusan yang diberikan bu Juleha dan Geral kepada keluarganya. Tentu saja hal itu membuat bu Kokom tega jika Shasa tinggal bersama sahabatnya itu.


"Jul, Shasa ini tidak pernah masak atau pun melakukan pekerjaan dapur. Di rumah dia tugasnya hanya bersih-bersih dan cuci baju," ucap bu Kokom sebelum pamit pulang, "berhubung dia sudah menjadi menantumu, semua aku serahkan padamu. Aku titipkan putriku, ya, Jul. Aku harap kamu sabar menghadapi sikap manjanya nanti," ucap bu Kokom seraya mengusap bulir bening yang mengalir di pipi.


"kamu tenang saja, Kom! aku pasti menyayangi putrimu! tidak akan aku biarkan dia melakukan apapun di sini. Biar dia mencetak cucu saja untuk kita," ucap bu Juleha yang membuat bu Kokom tergelak.


"Ya ... ya ... kamu benar, Jul! setelah ini kita jadi nenek ya! aku harap rumah tangga anak-anak kita segera dikaruniai keturunan ya, Jul!" ucap bu Kokom sambil menepuk bahu bu Juleha.


Setelah berbincang sebelum pulang, akhirnya keluarga tersebut benar-benar bertolak dari kediaman bu Juleha. Shasa menangis ketika mobil yang ditumpangi keluarganya mulai hilang dari pandangan.


"Aduh ... menantunya Mami gak usah sedih begitu, dong!" ucap bu Juleha seraya mengusap rambut panjang Shasa, "lebih baik sekarang kamu mandi terus istirahat, kamu pasti lelah 'kan?" tanya bu Juleha seraya menatap mata sembab Shasa.


"Geral! ajak istrimu ke kamar! perlakukan dia dengan baik! awas saja kalau sampai dia menangis gara-gara kelakuanmu!" bu Juleha mengancam Geral.


"Mami ini kenapa sih?" Geral heran melihat ibunya itu, "ayo Sha! kita istirahat!" ucap Geral seraya meraih pergelangan tangan Shasa.

__ADS_1


"Nah, gitu dong romantis!" ujar bu Juleha ketika melihat Geral menggandeng tangan Shasa menuju kamar, "jangan lupa baca bismillah ya, kalau mau mencetak cucu untuk Mami!" teriak bu Juleha dengan diiringi gelak tawa yang renyah.


***


Shasa mengedarkan pandangan untuk menyapu kamar Geral. Kamar yang luas, lebih tepatnya dua kali lipat dari ukuran kamarnya dulu. Ranjang king size, almari pakaian sangat besar, meja rias hingga sofa panjang beserta TV pun ada di dalam kamar itu. Shasa tersenyum tipis melihat kamar yang sangat nyaman ini, kamar yang biasa ia deskripsikan dalam karyanya kini bisa ia rasakan secara nyata.


"Sha, simpan barang-barang mu di almari ini!" ucap Geral saat membuka salah satu pintu almari.


Shasa mengernyitkan keningnya ketika melihat isi lemari tersebut. Banyak pakaian wanita tersimpan di sana. Ia bisa melihat beberapa midi dress tergantung di almari yang di tunjukkan oleh Geral.


"pakaian siapa yang tersimpan di situ? apa itu pakaian wanita yang bernama Eren?" tanya Shasa seraya mendekat ke tempat Geral saat ini


"sembarang! untuk apa aku menyimpan pakaian Eren di sini!" Elak Geral seraya berkacak pinggang, "ini adalah pakaian yang sudah disiapkan mami untukmu!" ucap Geral dengan pandangan yang tak lepas dari Shasa.


"wah! mertuaku baik banget sih! pengen ku tium aja!" ucap Shasa dengan binar bahagia yang terlihat dari sorot matanya.


"Nah, kalau itu mending kamu wakilkan saja ke anaknya! sini cium aku! anggap saja aku ini mami!" ucap Geral penuh arti.


"diih! mesum!" Shasa bergidik melihat tingkah konyol Geral saat ini, "aku mau mandi, di mana kamar mandi nya?" tanya Shasa seraya menatap Geral.


Shasa segera berlalu pergi ketika Geral menunjuk pintu yang tertutup di sudut kamar. Shasa masuk ke dalam kamar mandi itu dan tak lupa mengunci pintu. Ia takut jika Geral tiba-tiba masuk dan menerkamnya di kamar mandi.


"pakailah dress berwarna merah itu, Sha!" ucap Geral ketika melihat Shasa memilih dress yang tergantung di almari.


"kamu yakin?" tanya Shasa seraya menempelkan dress tersebut di tubuhnya.


Geral turun dari ranjang setelah mengacungkan jempolnya ke arah Shasa. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri karena petang telah datang. Beberapa menit kemudian, Geral keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang nya.


"Geral! jangan ganti di sini!" teriak Shasa ketika melihat Geral bersiap melepas handuknya.


"kenapa?" Geral mengernyitkan keningnya.


"aku malu!" ujar Shasa setelah meletakkan hairdryer, "biar aku keluar dulu!" ucap Shasa seraya berdiri dari kursi yang ada di depan meja rias.


Langkah Shasa harus terhenti karena pergelangan tangannya dicekal oleh Geral. Persekian detik kemudian, Shasa menatap wajah basah suaminya yang terlihat sangat menggoda itu.


"sampai kapan kamu terus menghindariku? kamu tidak takut dosa karena menolak suamimu sendiri?" tanya Geral dengan pandangan yang tak lepas dari Shasa, "bukankah orang tua kita menginginkan kehadiran seorang cucu?" tanya Geral ketika tubuhnya sudah berhadapan dengan Shasa.

__ADS_1


"Ge ... dalam sebuah hubungan yang bahagia harus ada cinta yang menyelimuti, lalu bagaimana aku bisa bahagia kalau kita belum mempunyai cinta?" tanya Shasa seraya menatap manik hitam yang yang terpaku ke arahnya.


"Dalam melakukan hubungan suami istri, kita tidak hanya membutuhkan cinta, napsu dan kemauan pun bisa membuat bahagia," ucap Geral dengan suara yang lirih,


Shasa mencoba menyelami manik hitam yang ada di hadapannya. Hati dan pikirannya sedang tidak sejalan saat ini. Rasa takut akan dosa karena menolak permintaan suami telah menguasai hatinya. Shasa mencoba mengikuti kemana kah waktu akan membawanya setelah ini. Ia hanya pasrah ketika Geral mulai menggelitik tengkuknya.


Rangkaian kata manis yang diucapkan Geral sepertinya membuahkan hasil. Geral seakan mendapat lampu hijau dari Shasa setelah melihat istrinya itu hanya diam. Perlahan Geral mulai mendaratkan sebuah kecupan mesra di bibir tipis merah muda itu.


Getaran-getaran asmara yang ditimbulkan oleh Geral berhasil membuat Shasa terbuai. Tangan itu telah membuat Shasa pasrah dan tak berdaya. Tangan yang lincah menari-nari di bagian tertentu tubuh itu membuat sang pemilik tidak sadar bahwa dress merah telah lepas dari tubuhnya.


Geral mengangkat tubuh mulus yang tertutup dua kain kain berenda ke atas ranjang. Ia merebahkan tubuh itu dengan lembut dan pelan. Tatapan matanya berhasil membuat Shasa menjadi tak berdaya. Ia hanya mampu melenguh saat pertama kali merasakan bagian-bagian tubuhnya yang disentuh oleh Geral.


"kamu siap?" tanya Geral setelah melepas kain terakhir yang menutupi tubuh mulus itu. Geral tak berkedip menatap keindahan yang ada di hadapannya. Ia seperti menemukan sebongkah berlian yang belum terjamah oleh siapapun. Ya, Geral yakin jika istrinya itu masih suci.


"berjanjilah, jika kamu tidak akan pernah meninggalkan aku, Geral!" ucap Shasa dengan suara yang lirih. Ia menatap penuh harap kepada pria yang sah menjadi suaminya itu.


"Apapun yang terjadi aku akan memperjuangkanmu! aku akan menggenggam apa yang sudah menjadi milikku!" ucap Geral sebelum berdiri dari ranjang dan melepas handuk putihnya.


Shasa membelalakkan mata ketika melihat senjata laras panjang yang membuatnya penasaran sejak kemarin. Nyalinya mendadak menciut karena kata-kata yang diucapkan Yulia terngiang di telinga.


"Geral, aku takut! rasanya pasti sakit seperti yang diceritakan kakakku!" ucap Shasa dengan polosnya.


"Tenanglah! aku akan melakukannya dengan lembut! memang rasanya sakit tapi semua itu tak berlangsung lama," ucap Geral seraya memposisikan diri di antar kedua kaki istrinya.


Bulir air mata luruh seketika kala rasa perih mulai melanda. Geral melakukannya sangat lembut. Ia harus sabar dan hati-hati saat membelah durian yang kulitnya masih utuh.


"Stop! stop! stop!" ujar Shasa karena tidak tahan lagi menahan rasa sakit itu, "bisakah kita menundanya dulu? kita ke dokter saja, agar dibius terlebih dahulu!" ucap Shasa seraya mengusap air matanya.


"Sayang, tahan sebentar ya! ini hampir masuk!" ucap Geral dengan menahan tawanya karena lucu melihat ide konyol sang istri.


Geral kembali menyentuh titik-titik sensitif yang ada ditubuh Shasa. Lenguhan kembali terdengar kala getaran itu kembali hadir. Tentu saja Geral tak menyia-nyiakan hal itu, ia kembali melancarkan aksinya dan sedikit memaksa agar misinya segera berhasil.


"Aaw sakit!" ujar Shasa saat senjata karas panjang itu berhasil masuk sepenuhnya.


Kedua insan itu akhirnya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh suami istri. Menuntaskan sesuatu yang menggetarkan jiwa. Sebuah penyatuan atas dasar saling menginginkan tanpa cinta yang melandasi. Mungkin dengan melewati malam penuh warna ini cinta akan hadir di antara keduanya. Bukankah melakukan hubungan suami istri adalah hal yang wajar dilakukan oleh pengantin baru?


🌹Selamat membaca, Zheyenk😂maap ya harus nulis bab ini🙏🌹

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2