
"Ge, pelan-pelan saja!" ujar shasa saat Geral mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata.
Mobil putih itu melaju kencang dalam gelapnya pagi buta. Sang mentari bahkan belum bersiap menampakkan diri. Kabut putih pun masih menyelimuti kawasan Lembang.
"Aku buru-buru, Sha!" ucap Geral tanpa mengalihkan pandangannya.
Shasa terlihat tegang karena takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Jalanan masih sepi, kuda besi masih beristirahat tenang di tempatnya. Karena rasa takut yang berlebihan, Shasa memutuskan untuk menutup mata, ia lebih baik tidak melihat apapun saat ini.
Detik demi detik terus berlalu. Mobil yang dikendarai Geral akhirnya sampai di halaman rumah setelah membelah jalanan selama enam puluh menit. Ia segera keluar dari mobil untuk membantu Shasa mengeluarkan koper dan beberapa barang lainnya.
Kedua sejoli itu masuk ke dalam kamar dengan membawa barang-barang mereka. Tanpa banyak bicara, Geral segera mengganti pakaiannya. Ia menatap satu persatu pakaian yang tertata rapi di sana.
"Ge, kamu ini mau kemana, sih?" tanya Shasa. Ia heran saja melihat suaminya yang tidak tenang.
"Aku tidak bisa menjelaskan sekarang, Sha!" ucap Geral sambil memakai kaos hitam beserta jaketnya.
Persiapan kilat telat selesai. Geral menghampiri Shasa yang sedang duduk di tepi ranjang sebelum berangkat. Ia mengecup kening itu beberapa detik.
"Aku berangkat dulu, Sha! Doakan hari ini aku berhasil," ucap Geral dengan kedua tangan yang menangkup wajah sang istri.
Shasa hanya bisa menghela napasnya. Ia menatap kepergian sang suami dengan perasaan yang tidak karuan—khawatir, sedih, takut dan banyak rasa lagi yang membuatnya semakin resah. Shasa segera beranjak dari tempat duduknya untuk mengantar Geral sampai di teras rumah.
__ADS_1
"Jangan kemana-mana sebelum aku pulang!" ucap Geral saat menghentikan langkahnya di teras rumah, "oh, ya, kalau ada dua pria bertubuh kekar datang mencariku, katakan saja jika aku menunggu di lokasi," ucapnya lagi.
Shasa hanya bisa mengangguk sebelum Geral mengayun langkah menuju garasi. Kali ini ia berangkat dengan mobil jeep yang ada di garasi. Pandangan Shasa pun tak beralih hingga jeep hitam itu hilang dari pandangan.
"duh! gimana sih ini!" keluh Shasa sambil memandang langit gelap yang mulai pudar.
Hampir sepuluh menit Shasa berdiam diri di teras rumah. Akhirnya, ia memutuskan masuk ke dalam karena suasana di sekitar masih sunyi sepi. Namun, baru saja ia menutup pintu, suara ketukan terdengar beberapa kali.
"Maaf mau mencari siapa?" tanya Shasa setelah melihat kehadiran dua pria bertubuh kekar berdiri di depan pintu.
"Kami mencari pak Geral," jawab salah satu pria tersebut.
Shasa mengamati kedua pria yang ada di hadapannya. Secara penampilan pria tersebut seperti seorang preman. Rambut gondrong, tubuh kekar serta wajah yang terlihat garang.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu, Nyonya," jawab pria gondrong berjaket kulit.
Helaian napas berat terdengar kembali di sana kala pria tersebut menghilang dari pandangan. Shasa segera menutup pintu dan tak lupa untuk menguncinya. Ia mengayun langkah menuju kamarnya.
"Siapa pria menyeramkan itu?" gumam Shasa setelah sampai di dalam kamar. Ia merebahkan diri di ranjang. Tatapannya tertuju pada langit-langit kamar yang terlihat indah.
"Apa mungkin Geral anggota preman ataupun mafia? apa dia termasuk bagian dari sindikat barang-barang terlarang?" Shasa mencoba menerka siapa sejatinya sang suami.
__ADS_1
Shasa menatap cincin yang berkilau di jari manisnya—cincin yang diberikan Geral sebagai hadiah ulang tahunnya beberapa hari yang lalu. Ia bisa memastikan jika cincin ini pasti harganya mahal.
"Dari mana dia mendapatkan uang?" Shasa bermonolog dengan pandangan yang tak lepas dari cincin itu.
Memori otaknya kembali memutar satu persatu kejadian beberapa waktu yang lalu. Shasa teringat kata-kata yang dulu pernah diucapkan oleh Luna, mungkinkah Geral seorang penipu seperti yang sedang marak terjadi? atau mungkin dia seorang mafia perdagangan organ tubuh manusia?
"Ahhh! Pusing dah kepalaku!" jerit Shasa seraya mencengkram rambutnya.
Shasa meraih ponselnya, ia membuka aplikasi kalkulator untuk menghitung uang yang sudah dikeluarkan Geral untuknya. Lantas, ia pun mencoba meraba pendapatan Geral dari hasil rumah produksi cilok setiap bulannya.
"Uang yang dikeluarkan Geral sangat banyak, mana mungkin semua itu murni penghasilan dari cilok!" gumamnya lagi.
"Lalu bagaimana biaya renovasi rumah orangtuaku? liburan di villa beberapa hari, belum lagi belanja setiap bulan di mall?" Kedua bola mata itu berputar ke kiri dan kanan sambil memikirkan titik terang untuk semua ini.
Shasa sangat resah pagi ini. Masalah yang sempat muncul beberapa bulan yang lalu, kini kembali menghantui. Ia benar-benar kesal karena tidak mengetahui seluk beluk sang suami. Bertanya secara detail pun ia tidak punya nyali.
"Haruskah aku bertanya pada Geral?" Shasa hanya bisa bergumam pada dirinya sendiri.
Untuk saat ini, yang bisa Shasa lakukan hanya berdoa. Ia sangat berharap sang suami akan pulang dengan selamat. Ia tidak mau jika terjadi sesuatu kepada sang suami. Bingung. Itulah yang dirasakan Shasa saat ini, bahkan, ia membiarkan karyanya mangkrak begitu saja karena tidak bisa berpikir jernih.
"Lebih baik aku tidur dulu, nanti aku pikirkan lagi bagaimana jalan keluarnya," ucap Shasa sambil membenarkan posisi bantalnya.
__ADS_1
🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍 Geral kemana yak?,🌹
...🌷🌷🌷🌷...