
Satu minggu telah berlalu begitu saja sejak terpilihnya Burhan menjadi kepala desa. Janur kuning melengkung di depan warung bu Kokom, tanda sebuah pernikahan sedang berlangsung.
Tempat akad nikah telah di dekorasi dengan indah, pengantin wanita sedang dirias di dalam kamar. Waktu akad nikah pun kurang satu jam lagi. Semua kerabat dekat ataupun jauh sudah hadir untuk menyaksikan ijab kabul putri bungsu pak Cipto.
Kebaya putih tulang serta jarik batik parang berwarna putih hitam terbalut indah di tubuh Shasa. Sebuah siger serta bunga melati menghiasi kepalanya. Sungguh, siapapun akan terpana dengan hasil riasan MUA kondang di kota ini.
"Ya Gusti ... anak Mama kenapa bisa cantik begini?" ujar bu Kokom setelah masuk ke kamar Shasa. Kamar itu telah didekorasi layaknya kamar pengantin. Beberapa tangkai bunga sedap malam sengaja ditaruh di dalam vas yang terletak di sudut ruangan.
Bu Kokom kagum dengan wajah cantik putri bungsunya saat ini. Kebaya modern dengan bagian dada rendah terlihat pas ditubuh Shasa. Satu set kebaya ini adalah pemberian dari bu Juleha saat lamaran dulu.
"Ma, Shasa gugup, Ma!" ucap Shasa setelah MUA tersebut menyelesaikan tugasnya.
"semua pengantin pasti gugup atuh!" jawab bu Kokom seraya menatap penampilan putrinya dari atas sampai bawah.
"Ceu ... pengantin pria nya sudah datang!" ucap adik bungsu bu Kokom saat masuk ke dalam kamar Shasa.
deg. Jantung Shasa rasanya berhenti berdetak. Ia tidak pernah menyangka jika sebentar lagi statusnya ganti sebagai seorang istri. Shasa benar-benar gelisah, entah karena takut, bahagia ataukah sedih. Bukankah semua itu pasti dialami semua calon pengantin?
__ADS_1
Geral tampil gagah dengan tuxedo putih tulang seperti Shasa. Pagi ini ia terlihat lebih tampan dari biasanya karena potongan rambutnya terlihat lebih rapi. Ia dipersilahkan duduk di tempat ijab kabul karena pak penghulu pun sudah hadir di sana.
Semua mata tertuju pada sosok cantik yang sedang berjalan dari dalam rumah. Begitu pun dengan Geral, ia sampai tak berkedip ketika melihat penampilan Shasa pagi ini. Jujur saja, ia kagum dengan kecantikan calon istrinya itu.
"Berhubung pengantin pria dan wanita nya sudah siap, mari kita mulai saja akad nikahnya," ucap pak penghulu seraya menatap pak Cipto dan beberapa saksi dari pihak Geral, "sepertinya pengantin pria nya sudah tidak sabar setelah melihat kecantikan pengantin wanita!" seloroh pak Penghulu tersebut hingga membuat semua tamu yang hadir tergelak.
Wajah sepasang pengantin itu bersemu merah karena malu setelah mendengar pak Penghulu tersebut berseloroh. Apalagi Geral. Rasanya ia tak punya muka lagi setelah kepergok pak penghulu tersebut.
"Saudara Geral! apakah anda sudah siap melaksanakan ijab kabul?" tanya pak Penghulu seraya menatap Geral dengan intens.
"Saya sudah siap, Pak!" ucap Geral dengan yakin.
"Saya terima nikah dan kawinnya Maisha Setyorini binti Sucipto dengan mas kawin tersebut, tunai," ujar Geral dengan suara yang lantang dan fasih.
"bagaimana para saksi?" tanya pak penghulu tersebut seraya menatap satu persatu saksi yang hadir di sana.
"Sah!" ucap serentak semua saksi yang hadir di sana.
__ADS_1
Kata syukur terucap dari bibir kedua keluarga yang kini sudah bersatu itu. Bu Kokom dan bu Juleha saling berpelukan dengan mata yang berembun. Keduanya sangat bahagia karena pada akhirnya hubungan mereka semakin dekat.
"Kom, akhirnya kita menjadi besan! aku gak nyangka jika anakku menjadi menantumu!" ucap bu Juleha saat mengurai tubuhnya dari tubuh bu Kokom.
"iya, Jul ... aku tidak menyangka jika jalan yang ditakdirkan Sang Kuasa telah membuat kita semakin dekat," bu Kokom menyeka sisa air matanya.
Penghulu tersebut membacakan doa untuk sepasang pengantin yang sudah sah menjadi suami istri. Semua orang menengadahkan tangannya dan mengucapkan kata 'amin' saat doa-doa mulai terdengar di sana.
"mulai sekarang kalian dinyatakan sah sebagai suami istri. Baik secara hukum ataupun agama!" ujar pak penghulu sebelum menyerahkan surat nikah kepada kedua mempelai.
Shasa meraih tangan Geral seperti yang diperintahkan pak Penghulu. Ia mengecup punggung tangan tersebut beberapa detik dan setelah itu, Geral mendaratkan sebuah kecupan di kening Shasa. Hatinya berdesir karena Geral adalah pria yang pertama kali mengecup keningnya.
"Kenapa aku nerves begini!" gumam Shasa dalam hati setelah Geral melepaskan kecupannya.
Acara ijab kabul telah selesai. Setelah menikmati hidangan yang sudah disediakan. Penghulu tersebut pamit pulang karena ada jadwal lagi setelah ini. Semua orang pun bercengkrama di dalam ruangan tersebut setelah menikmati hidangan yang ada.
"oh ya, besok resepsinya dari pagi sampai malam loh. Jadi, siapkan dirimu, Sha!" ucap bu Juleha seraya menatap Shasa.
__ADS_1
🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍🌹
...🌷🌷🌷🌷🌷...