Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Mendadak melow


__ADS_3

Hari-hari penuh warna telah dilalui pasangan suami istri yang sedang di mabuk cinta. Gelora asmara menggebu dalam jiwa. Sudah tiga hari tiga malam sepasang pengantin yang tidak baru lagi itu menghabiskan waktunya di villa yang ada di daerah Lembang.


Makan malam telah usai sejak beberapa puluh menit yang lalu. Shasa dan Geral memutuskan untuk bersantai di balkon lantai dua yang menghadap ke arah depan, mereka bisa melihat kolam ikan di bawah sana dan halaman luas villa tersebut. Keduanya asyik bercengkrama tanpa menyentuh ponsel sedikitpun.


"Sha, Aku punya tantang untukmu!" ujar Geral setelah terdiam beberapa menit, "Aku akan memberimu hadiah delapan juta cash saat ini juga jika kamu berhasil!" Geral menatap Shasa dengan bibir yang mengulas senyum smirk.


"Hmmm ... boleh juga nih hadiahnya! Cepat katakan apa tantangannya!" Shasa sangat antusias karena memikirkan hadiah yang dijanjikan oleh Geral.


Shasa terlihat tidak sabar menunggu jawaban dari sang suami, ia semakin mendekatkan tubuhnya di sisi Geral. Hingga beberapa detik kemudian, barulah Geral mengucapkan tantangan konyol untuknya.


"Aku akan memberimu uang sebanyak delapan juta rupiah kalau kamu mau emm ... mencium pantatku sebanyak tiga kali!" ujar Geral seraya menatap Shasa.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, tiba-tiba saja, Shasa menggigit lengan Geral dengan keras. Hal itu membuat sang empu berteriak kesakitan. Geral terhenyak dari tempatnya sambil mengusap lengannya. Ia melihat ada bekas gigi sang istri di sana.


"Sha! kamu kesurupan siluman buaya, ya!" sarkas Geral seraya menatap sang istri yang sedang tergelak.


"Habis kamu ngawur! Siapa coba yang mau nyium pantat! Dih ... jorok!" Shasa berdecak kesal melihat kelakuan konyol sang suami.


"Loh kenapa? pantatku bersih dan mulus! apanya yang jorok?" Geral berkacak pinggang dengan pandangan yang tak lepas dari Shasa.


"Mau mulus atau enggak! aku gak mau! Gak dapat delapan juta juga gak masalah!" Shasa melengos ke arah lain setelah menjawab pertanyaan Geral.


"Aku juga punya tantangan! Aku bakal kasih kamu uang sepuluh juta jika kamu bisa melakukan tantanganku!" Shasa beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menuju pagar pembatas balkon.


Geral menyusul Shasa yang sedang bersandar di pagar balkon. Ia penasaran apa kiranya tantangan dari sang istri hingga berani memberikan hadiah sebanyak itu.

__ADS_1


"Katakan apa tantangannya?" tanya Geral karena melihat Shasa hanya mengulum senyum.


"Tantangannya gampang! kamu harus berlari mengelilingi taman itu sambil menggendongku sebanyak dua puluh kali," ucap Shasa sambil menunjuk halaman depan Villa yang sangat luas itu, "Bagaimana?" Shasa tersenyum smirk ke arah Geral.


"Gak dapat sepuluh juta pun aku gak masalah! gila kali lari keliling taman yang luas itu sambil gendong kamu!" jawab Geral tanpa berpikir panjang, "Bisa encok punggung beta!" Geral berdecak sambil menatap sang istri.


"Yeee! masih muda tapi encok? Anda kurang olahraga, Pak!" sarkas Shasa dengan satu sudut bibir yang tertarik ke dalam, ia sedang meremehkan sang suami.


Baru saja Geral membuka bibirnya untuk membalas ejekan sang istri, ponselnya yang ada di meja berdering. Ia segera mengayun langkah menuju tempat asal.


Setelah melihat siapa yang menghubunginya, Geral pindah ke tempat lain atau lebih tempatnya masuk ke dalam living room. Ia meninggalkan Shasa seorang diri di balkon dengan sejuta rasa penasaran yang ada.


Perasaan curiga kembali menyapa kala melihat Geral mengangkat telfon dengan menjauhinya. Shasa kembali menerka siapa kiranya yang menghubungi sang suami. Hati dan pikiran yang beberapa hari ini diisi dengan kebahagiaan yang tiada habisnya, kini dicampuri rasa tidak nyaman yang mengusik hati.


Suara pintu yang terbuka membuat Shasa membalikkan tubuhnya. Ia melihat Geral menghempaskan diri di sofa tersebut dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ditebak. Terlihat sekali jika ada sesuatu hal yang mengganggu pikiran.


"Sha, besok pagi-pagi kita harus pulang! Ada pekerjaan mendadak yang harus aku lakukan!" ucap Geral seraya menatap Shasa, "Sekarang ayo kita ke kamar, aku akan membantumu membereskan barang-barang kita," ucap Geral setelah terdiam beberapa menit.


Mau tidak mau, pada akhirnya, Shasa mengikuti langkah sang suami. Meski berat hati meninggalkan villa ini tapi ia harus pulang karena liburan telah usai. Banyak pekerjaan yang harus dikerjakan setelah ini.


"Ada apa sih, Ge?" tanya Shasa setelah sampai di kamar. Ia membuka koper yang sudah diletakkan Geral di atas ranjang.


"Ini urusan laki-laki, Sha ... kamu cukup berdoa saja agar semuanya lancar!" jawab Geral tanpa menatap sang istri, ia sibuk mengeluarkan beberapa pakaian yang tersimpan di almari.


"Ck! Selalu begitu!" Shasa berdecak kesal setelah mendengar jawaban itu. Ia tidak suka mendengar jawaban ambigu dari sang suami.

__ADS_1


Tiga puluh menit, waktu yang dibutuhkan sepasang suami istri itu berkemas. Geral segera menarik Shasa ke atas ranjang untuk beristirahat karena mereka akan pulang pagi-pagi sekali.


"Tidurlah, Sha! Jangan sampai bangun kesiangan," ucap Geral setelah mengecup kening sang istri.


"Good night," ucap Shasa dengan suara yang lirih.


Cukup lama Shasa memandang wajah yang jaraknya sangat dekat dengannya itu—wajah tenang yang sedang terlelap. Tangan itu pun terulur untuk menyentuh rahang yang membingkai wajah tampan hasil pahatan Sang Kuasa.


"Terkadang aku lelah menyalami telaga indahmu. Sampai saat ini, aku belum tahu seberapa dalam telaga bening yang menenangkan itu. Kamu benar-benar membuatku penasaran, Ge," gumam Shasa dalam hatinya.


Manik hitam itu tak henti menyusuri setiap pahatan sempurna yang ada di hadapannya. Rasa kantuk tak kunjung tiba karena pikiran terlalu fokus memikirkan hal-hal yang belum tentu kebenarannya. Lagi dan lagi, Shasa memilih untuk menerka daripada harus bertanya langsung tentang suatu hal mengusik hati.


"Aku sangat takut, Ge! Aku takut kamu bukan orang baik," gumam Shasa dengan suara yang sangat lirih.


"Aku khawatir kamu melakukan kejahatan demi mendapatkan uang yang banyak! Aku akan merasa bersalah karena hal itu," lanjutnya lagi.


Bulir air mata perlahan turun membasahi pipi. Tidak bisa ditahan lagi walau sudah dihadang sekuat mungkin. Entah apa kiranya yang membuat Shasa mendadak melow. Seharusnya saat ini ia sudah terbang bersama Geral menuju alam mimpi.


"Semoga kamu tidak melakukan apapun, Ge! Sungguh, aku bahagia dengan pekerjaanmu saat ini. Aku bukanlah istrimu yang dulu—matre dan bermimpi terlalu tinggi! Aku tidak perduli lagi meski kamu seorang CEO cilok!" gumam Shasa di sela-sela isakannya.


"Aku sangat mencintaimu," gumamnya seraya membenamkan wajahnya di dada bidang itu.


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️🌹


...🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2