Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Bercocok tanam?


__ADS_3

Hari terus berganti mengikuti waku yang berjalan tanpa kenal lelah. Dua minggu sejak kejadian di rumah produksi telah berlalu. Kini, kondisi Shasa jauh lebih baik dari sebelumnya meskipun kulitnya belum pulih seperti dulu. Pulang ke rumah pak Cipto pun harus diundur karena Shasa tidak mau keluarganya khawatir setelah melihat keadaan kakinya. Berbagai alasan pun telah disampaikan Shasa agar orang tuanya tidak curiga.


Sepasang suami istri itu semakin mesra setelah sama-sama mengungkap perasaan satu sama lain. Mereka menjalani hari-hari penuh warna di rumah besar itu hanya berdua. Kedua ART pun jarang masuk ke rumah besar itu jika tidak ada keperluan, mereka tinggal di bagian belakang rumah tersebut.


"Ge, kapan ya jadwal kontrolku ke dokter Melia?" tanya Shasa ketika ingat jika salep untuk kakinya mulai habis.


"Masih minggu depan, Sha," jawab Geral tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Dokter Melia adalah dokter spesialis kulit terbaik di Bandung. Geral mengajak Shasa kesana setelah mendapat rekomendasi dari beberapa temannya.


Setelah mendengar jawaban dari Geral, Shasa kembali mengalihkan pandangan pada layar televisi yang sedang menayangkan film Hollywood. Manik hitam itu fokus menatap aktor-aktor keren di layar televisi sedangkan tangannya sibuk menguras isi toples yang ada di atas pangkuannya.


"Sha, kamu menghabiskan snackku!" seru Geral ketika melihat toples yang ada di pangkuan Shasa kosong tanpa sisa sedikitpun.


Shasa terkesiap ketika mendengar teguran dari Geral. Matanya terbelalak sempurna ketika menyadari bahwa isi toples itu telah berpindah ke dalam perutnya. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Shasa menyunggingkan senyum manis di hadapan Geral.


"Maaf, Ge! habis enak, sih!" ujar Shasa setelah meletakkan toples tersebut di atas meja, "nanti kita beli lagi, oke!" Shasa mengusap lengan Geral dengan lembut agar suaminya itu tidak mempermasalahkan snack itu lagi.


"Hati-hati, Sha! Mengkonsumsi kacang polong berlebihan bisa tumbuh di sini, loh!" ucap Geral seraya mengusap perut Shasa.

__ADS_1


"Ngawur! Mana ada begitu!" kilah Shasa dengan pandangan yang tak lepas dari wajah sang suami, "oh, jangan-jangan kamu dulu korban omelan para orang tua, ya! Pasti kamu percaya 'kan kalau makan semangka terus bijinya ikut tertelan, semangkanya bisa tumbuh di perut!" kelakar Shasa saat teringat kalimat yang pernah diucapkan oleh neneknya dulu.


Geral tergelak setelah mendengar Shasa berkelakar. Ia menjadi gemas karena hal itu hingga membuatnya ingin menggelitik perut rata sang istri. Suara gelak tawa keduanya pun menggema di ruang keluarga itu.


"Kalau bukan biji semangka dan kacang polong yang tumbuh di sini, lalu kira-kira apa yang tumbuh di sini?" tanya Geral seraya mengusap perut itu.


"Yang bisa tumbuh di sini tuh bayi, Ge!" ucap Shasa seraya menatap Geral penuh arti.


"Oh, bayi, ya?" Geral menatap Shasa dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, "bayi gak akan tumbuh di sini, Sha, sebelum kita menanam bibitnya! kamu lupa ya jika kita belum pernah nanam bibit bayi sejak kejadian di rumah produksi?" ucap Geral sebelum menenggelamkan wajahnya di perut itu, beberapa kali ia mengecup perut sang istri dengan penuh kasih.


Shasa membelai kepala Geral yang sedang terbaring di atas pahanya. Sekuat tenaga ia harus menahan rasa geli karena tidak mau membuat Geral kecewa karena kegiatannya harus terhenti.


"Nanti kalau ada yang datang bagaimana?" tanya Shasa seraya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.


"Tenang! pintu depan sudah dikunci, bu Narti dan yang lainnya gak mungkin masuk kesini, mereka udah pada tidur, Sha!" ucap Geral seraya mengubah posisinya menjadi duduk.


Tangan Geral pun mulai bergerak, menyentuh spot-spot tertentu padahal belum mendapat persetujuan dari Shasa. Tangan itu dengan lincahnya menari-nari di atas bukit indah yang tertutup kain berenda berwarna kuning. Sungguh, Geral sangat tertantang karena warna segar kain pembungkus itu.

__ADS_1


"Aku pasrah, aku ingin terbang ke atas awan!" ucap Shasa setelah merasakan getaran aneh di tubuhnya.


Geral tersenyum penuh kemenangan setelah mendengar jawaban itu. Tentu saja, ia segera melancarkan aksinya di ruang keluarga. Suara lenguhan manja lolos dari bibir itu kala Geral semakin menyerang titik-titik sensitif sang istri.


"Lakukan dengan hati-hati, Ge! Jangan sampai kakiku lecet!" Shasa memberikan peringatan kepada Geral sebelum melakukan hal yang lebih jauh lagi.


"Tentu, Sayang! Aku tahu itu," jawab Geral seraya membuka kaosnya.


Proses penanaman bibit akhirnya dimulai setelah melakukan pemanasan agar tubuh tidak kaku. Bercocok tanam penuh cinta dan segenap rasa yang ada telah dilakukan Geral di ladang sang istri. Beberapa Gaya telah dilakukan di atas sofa putih itu tanpa menyakiti luka yang ada di kaki Shasa.


Peluh keringat mengucur deras kala Geral terus mencangkul ladang itu dengan kekuatan penuh. Suara lenguhan itu semakin menggema kala keduanya sampai di puncak secara bersama.


"Terima kasih, Sha!" ucap Geral dengan nafas yang terengah-engah.


Tidak ada jawaban apapun dari Shasa. Wanita itu hanya bisa mengedipkan mata karena masih merasakan sisa-sisa pelepasan yang masih ada. Tubuhnya terasa remuk redam karena ketangguhan sang suami dalam permainan. Ia tersenyum tipis setelah tahu Geral sedang membersihkan ladang itu dari sisa-sisa bibit yang tumpah.


"Semoga kali ini berhasil!" ujar Geral setelah mengecup perut Shasa yang mulus dan rata itu.

__ADS_1


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


...🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2