Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Pulang Kampung,


__ADS_3

Dua bulan kemudian ....


Segala persiapan telah selesai dilakukan. Beberapa barang bawaan telah masuk ke dalam bagasi mobil. Satu koper besar dan oleh-oleh untuk keluarga pak Cipto pun berjajar rapi di sana. Pagi ini, Geral dan Shasa akan berangkat ke rumah pak Cipto karena keadaan kaki Shasa sudah pulih meskipun bekasnya masih ada.


"Tidak ada yang ketinggalan 'kan Sha?" tanya Geral setelah masuk ke dalam mobil.


"Sepertinya, semua sudah masuk mobil, Ge!" Shasa memutar bola matanya sambil mengingat barang-barang yang sudah disiapkan sejak tadi malam.


Mobil putih itu akhirnya melenggang dari halaman luas itu. Jalanan masih sepi dan berkabut. Mereka berdua sengaja berangkat pagi-pagi agar terhindar dari macet karena saat ini adalah akhir pekan. Mungkin, sepasang suami istri itu akan tinggal di rumah pak Cipto selama satu minggu.


"Aku tuh kangen banget sama Mama, Ayah dan kak Yulia, Ge! Hmmm ... aku tidak sabar pengen meluk mereka!" gumam Shasa tanpa menatap Geral.


Senyum merekah seakan tak pernah pudar dari wajah itu. Rasa rindu yang membuncah di dalam dada sebentar lagi akan terobati. Lebih dari tiga bulan Shasa tidak mengirup udara kampung kelahirannya itu.


"Kangen keluarga atau kangen Pak KADES?" celetuk Geral seraya menatap Shasa sekilas.


Senyum yang indah itu hilang begitu saja setelah mendengar ucapan sang suami. Shasa mendengus kesal karena Geral menyebut si Bubur yang hilang entah kemana. Pikiran Shasa tiba-tiba saja tertuju pada Luna karena sudah lama ia tidak memantau media sosial milik musuh bebuyutannya itu.


"What? serius nih?" Shasa terkejut ketika melihat postingan Luna. Dalam postingan tersebut ada foto Luna dan Burhan yang sedang tukar cincin dengan caption yang membuat Shasa shock.


Terima kasih Aa atas semua ini ... Neng tidak sabar menunggu hari-hari bahagia kita❤️


"Jadi mereka bakal menikah?" Shasa bermonolog.


"Siapa sih, Sha?" Geral pun ikut penasaran apa kiranya yang membuat istrinya bersikap seperti itu.


"Si Bubur sama Si Luna mau nikah!" ujar Shasa tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

__ADS_1


"Baguslah! Tidak ada yang salah 'kan? Mereka sama-sama single jadi wajar lah kalau menikah," jawab Geral tanpa menatap Shasa. Ia sibuk dengan jalanan yang ada di hadapannya.


Shasa hanya diam, ia sibuk membuka profil Luna karena jiwa keponya mulai meronta. Bisa-bisanya ia ketinggalan informasi penting ini. Berita tentang Luna selalu menarik perhatian Shasa. Entah mengapa, Shasa begitu penasaran siapa kiranya pria yang menjadi suami musuh bebuyutannya itu, mengingat selera Luna sangatlah tinggi.


"Tapi si Bubur kok gak pernah posting foto mereka, ya?" gumam Shasa lagi setelah membuka akun media sosial Burhan.


Geral menatap sekilas ke arah Shasa. Jujur saja, ia tidak suka jika Shasa mencari tahu kehidupan orang lain apalagi akun pria lain yang ia buka. Ada rasa tidak terima walau ia tahu bahwa Shasa tidak mungkin mencintai pria lain selain dirinya.


"Udah lah, Sha! Ngapain sih pakai kepo urusan orang lain! Lagian mereka kan bukan keluarga kita!" Gerutu Geral dengan pandangan fokus ke depan.


Bukannya berhenti stalking, Shasa semakin menyunggingkan senyumnya. Ia suka jika Geral memperlihatkan sisi cemburunya seperti ini. Rasanya, Shasa ingin menggigit bibir yang sedang mengerucut itu.


"Kamu cemburu 'kan!!" sarkas Shasa seraya menaik-turunkan satu alisnya.


...♦️♦️♦️♦️...


"Ge, kita gak salah rumah nih?" ucap Shasa setelah mengedarkan pandangannya.


"Rumah sendiri masa lupa!" jawab Geral setelah melepas sabuk pengamannya.


Shasa masih diam di tempatnya, ia sibuk mengamati perubahan besar rumah orangtuanya. Tata letak bengkel, warung dan rumah menjadi rapi. Ketiga bangunan itu memiliki akses masuk sendiri-sendiri, bukan seperti biasanya—warung dan rumah menjadi satu.


"Ayo turun!" kenapa bengong?" ujar Geral setelah membuka pintu mobil di sisi Shasa.


Shasa pun turun tanpa banyak protes lagi. Ia masih tercengang melihat perubahan rumah yang dulu pernah ia tempati. Shasa bingung darimana orangtuanya mendapatkan uang untuk merenovasi ketiga tempat ini sekaligus karena semua ini membutuhkan biaya yang besar.


"Shasa! Akhirnya, kamu pulang!" teriak Yulia setelah melihat kehadiran Shasa dan Geral di teras rumah.

__ADS_1


"Kakak kangen banget, Sha! Ya ampun kita udah gak ketemu lama banget loh!" ujar Yulia saat memeluk Shasa.


Yulia segera mengurai tubuh adiknya itu karena tidak mendapatkan respon apapun. Yulia mengernyitkan keningnya kala melihat Shasa hanya diam dengan tatapan mata yang menjelajah kesekeliling. Pandangan Yulia beralih ke Geral dan adik iparnya itu hanya mengedikkan bahunya.


"Kak! Apa Ayah dapat bedah rumah seperti program di TV?" tanya Shasa setelah mengamati apa yang ada di sekelilingnya.


Yulia tergelak setelah mendengar pertanyaan itu. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa adiknya itu punya pikiran ke arah sana, "Astaga! mana ada bedah rumah di sini, Sha! sudahlah, lebih baik kalian masuk dulu, gih!" ucap Yulia setelah menggeser tubuhnya agar Shasa dan Geral bisa masuk ke dalam rumah.


"Ayah dan Mama masih pergi ke pasar! Kalian istirahat saja dulu!" ucap Yulia setelah mereka sampai di ruang keluarga.


Shasa semakin tercengang kala melihat perubahan interior rumahnya. Semua sangatlah berbeda dari yang dulu. Tata letak kamar, dapur dan beberapa tempat lainnya telah berubah. Manik hitam itu pun menangkap tangga yang menjulang tinggi.


"Sejak kapan rumah kita jadi berlantai dua, Kak?" tanya Shasa penasaran.


"Kamarmu sekarang ada di lantai dua, Sha!" ucap Yulia seraya mengalihkan pandangan ke arah Shasa, "Mari kakak antar!" Yulia berjalan terlebih dahulu.


Shasa masih tidak percaya jika semua ini nyata. Meskipun rumah ini tidak semegah rumah sang suami tapi ini jauh lebih baik dari rumah yang dulu. Shasa menapaki satu persatu anak tangga mengikuti langkah Yulia.


"Ini kamarmu, Sha! kakak ke bawah dulu!" ujar Yulia setelah membuka pintu kamar tersebut.


Shasa berdecak kagum setelah melihat kamar barunya. Lebih luas dari sebelumnya. Ada kamar mandi di dalam serta ranjang queen size di sana. Barang-barang yang dulu tersimpan di kamar lamanya pun, tertata rapi di rak. Sayangnya, semua foto Christian alias Jamie Dornan tidak ada lagi di kamarnya. Sungguh, mengecewakan!


Geral menghempaskan diri di atas ranjang. Ia membiarkan Shasa mengelilingi kamar ini. Rasa lelah membuat Geral enggan untuk membahas apapun pagi ini. Ia hanya ingin tidur karena rasa kantuk kembali menyerangnya. Namun, tidak lama setelah itu, Geral harus membuka mata kembali saat Shasa pamit keluar kamar.


"Ge, aku tinggal ke bawah sebentar! Aku haus!" ujar Shasa sebelum berlalu dari kamar.


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️🌹

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2