
"kamu itu jahat tau gak sih!" Shasa memaki Geral setelah masuk ke dalam mobil.
Hari ini Shasa benar-benar kesal melihat sikap Geral kepadanya. Semua itu karena Geral membiarkan dirinya ditertawakan semua pegawai yang ada di bagian produksi. Bagaimana mereka tidak tertawa, keadaan Shasa saat ini benar-benar buruk dan kotor. Pakaiannya kotor karena noda tepung dan di wajahnya pun banyak tepung yang mengering, terutama di pipi.
Shasa semakin kesal karena Geral hanya diam saja, bahkan suaminya itu tidak mau menatapnya walau hanya sebentar saja. Shasa segera mengalihkan pandangan ke arah lain agar rasa kesal itu segera hilang. Ia bersandar di pintu mobil seraya menutup kelopak mata. Mungkin dengan begini rasa kesal perlahan hilang.
Suasana di dalam mobil terasa sunyi sepi, hal itu membuat Geral mengalihkan pandangan ke samping untuk melihat apa yang sedang dilakukan istrinya saat ini. Geral menghela napasnya setelah melihat Shasa tertidur pulas dengan bibir bawah yang sedikit terbuka. Terbesit rasa kasihan ketika melihat wajah lelah sang istri. Namun, ego dan pikirannya menutupi semua itu, hingga rasa kasihan itu terkikis dari hatinya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mobil yang dikendarai Geral sampai di halaman rumah. Ia segera turun dari mobil dan berjalan memutari mobil itu. Ia membukakan pintu mobil untuk Shasa.
"Sha, bangunlah! kita sudah sampai!" Geral menundukkan tubuhnya, ia menepuk lengan Shasa sampai istrinya itu membuka kelopak matanya.
"turunlah!" Geral memundurkan tubuhnya, memberi jalan untuk Shasa.
Melihat wajah Geral yang menyebalkan membuat Shasa semakin kesal. Ia keluar dari mobil tanpa sepatah kata pun. Pergi meninggalkan Geral begitu saja tanpa pamit atau berterima kasih.
Shasa mengayun langkah menuju rumah—rumah yang sepi walau hari masih siang. Bu Juleha sepertinya tidak ada di rumah karena jika bu Juleha ada di rumah, suara lagu-lagu dangdut pasti terdengar di rumah ini.
"aku harus membersihkan diri dulu sebelum tidur siang," gumam Shasa setelah masuk ke dalam kamar. Shasa mengambil pakaian ganti di almari sebelum masuk kamar mandi.
Beberapa puluh menit kemudian, akhirnya Shasa keluar dari kamar mandi. Handuk putih terlilit di kepalanya, membungkus rambut panjang yang basah. Shasa duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambut sebelum istirahat.
ceklek.
"Sha, apa mami tadi pamit kepadamu?" tanya Geral setelah masuk ke dalam kamar. Ia menghempaskan diri di atas ranjang seraya menatap Shasa.
"Enggak!" jawab Shasa tanpa mengalihkan pandangan ke arah Geral. Bisa dikatakan jika Shasa saat ini sedang mogok bicara dengan Geral.
Melihat respon Shasa yang terkesan cuek, membuat Geral semakin gemas dan ingin mengerjai nya. Ia mulai menyusun rencana untuk membuat Shasa lebih kesal lagi di hari esok.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Shasa selesai mengeringkan rambutnya tepat di saat Geral masuk ke dalam kamar mandi. Shasa menghempaskan diri di atas ranjang karena tidak bisa lagi menahan rasa kantuk. Tubuhnya terasa sangat lelah karena untuk pertama kali nya ia memproduksi makanan dalam jumlah banyak.
Shasa meraih guling empuk yang biasa dipakai Geral saat tidur. Shasa mendekap guling itu hingga kelopak matanya tertutup rapat. Mimpi yang indah telah hadir untuk memanjakan tubuh lelah itu.
...🌹🌹🌹🌹...
Cacing-cacing tengah meronta karena tidak dapat asupan. Demo besar terjadi di wilayah perut seorang wanita yang sedang terlelap. Terlalu asyik berkelana di alam mimpi membuat Shasa lupa waktu. Suara demonstrasi para cacing yang menginginkan haknya membuat Shasa membuka kelopak mata.
"Jam berapa ini?" gumam Shasa saat melihat suasana kamar yang gelap.
Bunyi perut yang keroncongan membuat Shasa segera duduk di ranjang—mengumpulkan separuh jiwa yang belum kembali seutuhnya. Shasa meraih ponselnya untuk melihat waktu yang ada di sana.
"Hah! sudah jam enam petang!" Shasa membelalakkan matanya, ia bergegas turun dari ranjang. Sebelum keluar dari kamar Shasa masuk ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian, menantu Bu Juleha itu telah selesai bersiap. Wajah cantik yang sudah dipoles make-up tipis serta pakaian rapi menemani Shasa yang sudah siap turun ke lantai satu untuk makan malam. Langkah demi langkah telah Shasa lalui hingga sampai di dapur. Ia tidak menemukan bu Juleha ataupun Geral di rumah.
"bu Narti," sapa Shasa saat melihat ART bu Juleha tersebut sedang berkutat di dapur.
"Emm ... suami dan mertua saya kemana ya?" tanya Shasa malu-malu.
"Nyonya besar belum pulang sejak pagi kalau den Geral keluar sejak jam lima tadi, Non. Terus tadi den Geral nitip pesan, kalau Nona Shasa disuruh makan malam dulu karena Den Geral pulang malam." Bu Narti menjelaskan pesan yang di sampaikan Geral tadi sore sebelum keluar rumah.
Shasa mangut-mangut tanda mengerti, ia mengembangkan senyum sebelum berlalu dari dapur dan menuju ruang makan. Menikmati makan malam bersama rasa sepi yang menelusup hati. Shasa mengedarkan pandangan sambil mengunyah makanannya. Ia membayangkan hari-hari sepi yang dijalani setelah ini.
"jadi kangen Mama," gumam Shasa seraya mengaduk makanan yang ada di piring.
Setelah menyelesaikan makan malam, Shasa bergegas ke kamar. Ia ingin menelfon keluarga yang sangat dirindukan itu. Rasa rindu yang hadir karena rasa sepi yang menyelimuti.
"Hallo Kakak ...." ujar Shasa setelah panggilan video tersebut tersambung dengan Yulia.
__ADS_1
"Hay! apa kabar? kakak kangen banget sama kamu!" teriak Yulia di sebrang sana.
Shasa tersenyum bahagia kala bu Kokom dan pak Cipto ikut nimbrung di samping Yulia. Rasa rindu itu sedikit terobati kala melihat semua anggota keluarganya. Obrolan terus berlanjut dan Shasa pun teringat jika ada sesuatu yang harus ditanyakan.
"Ma! kenapa Mama gak bilang sih kalau Geral itu jualan cilok?" tanya Shasa dengan ekspresi wajah yang berubah menjadi cemberut.
"Loh dia bukan pedagang loh, Sha! dia kan pemilik usahanya. Dia juga punya banyak gerobak 'kan?" tanya bu Kokom seraya menatap wajah Shasa di layar ponsel Yulia.
"Tapi dia bukan CEO seperti yang Shasa inginkan, Ma!" jawab Shasa dengan bibir yang mengerucut sempurna.
"Ayah ... kenapa gak cerita ke Shasa sih sebelumnya!" Kali ini Shasa menatap pak Cipto.
"loh! Shasa dulu kan cuma bilang kalau ingin punya suami CEO, terus waktu itu Ayah kan udah tanya, CEO itu apa?" sangkal pak Cipto dengan tenang, "terus neng geulis kan bilang ke Ayah kalau CEO itu pemilik usaha. Jadi, Ayah dan Mama tidak salah dong!" jawab pak Cipto dengan entengnya.
Shasa menepuk keningnya setelah mendengar penjelasan dari ayahnya. Memori tentang impian suami seorang CEO yang pernah disampaikan olehnya ternyata salah kaprah. Ya, orang tuanya memang tidak salah, yang salah adalah dirinya sendiri karena mempunyai mimpi yang terlalu tinggi dan susah untuk digapai.
"Lagian Geral kan bukan hanya jualan Cilok tapi dia juga punya ...." Belum sempat bu Kokom melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja panggilan itu berakhir sepihak.
Shasa meletakkan ponselnya begitu saja, ia memijat keningnya karena memikirkan hal ini. Tidak ada yang perlu disesali karena semua sudah terlanjur terjadi. Kali ini ia harus menerima jalan yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta.
"Jadi, suamiku CEO cilok?" Shasa meyakinkan dirinya sendiri.
🌹Terima sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍🌹
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Hallo semua ... othor mau ngasih tau nih, ada karya keren yang harus kalian intip. Kuy kepoin dan ikuti terus kisahnya😍
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...