
Liburan penuh warna telah usai. Hari ini semua kembali ke aktifitas masing-masing. Sepasang suami istri itu kembali dari Bogor sejak kemarin sore. Kini, keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Shasa menyelesaikan karyanya yang sempat mangkrak beberapa hari sedangkan Geral pergi sejak pagi entah kemana, yang pasti putra semata wayang bu Juleha itu hanya pamit jika ada urusan penting di luar.
Kata demi kata telah dirangkai menjadi kalimat yang indah dan puitis. Setelah Geral berangkat tadi pagi, Shasa berkutat di depan laptopnya, ia memilih ruang keluarga sebagai tempat untuk menuangkan idenya.
"OMG! kolom komentar banjir tagihan update nih! seperti dikejar rentenir dah!" gumam Shasa saat melihat kolom komentar di novelnya.
"Siapa Sha yang dikejar rentenir?" tiba-tiba bu Juleha datang dari ruang tamu. Mungkin pengantin baru itu baru pulang dari rumah produksi cilok mengurus setoran pagi.
"Emm ... enggak, Mi! bukan siapa-siapa, Mi," jawab Shasa seraya menatap bu Juleha yang duduk di sofa.
"Mami kira kamu yang dikejar rentenir! Aduh ... Mami gak kebayang dah!" Bu Juleha heboh sendiri menanggapi hal itu, "kalau uang pemberian Geral kurang dan kamu butuh apa-apa, jangan sungkan minta ke Mami, ya!" ujar bu Juleha seraya mengusap rambut Shasa yang tergerai.
"Mami ke kamar dulu ya, Sha! Mami harus siap-siap nih," pamit bu Juleha sebelum pergi.
Ya, nanti malam bu Juleha akan pindah ke rumah pak Rojali. Awalnya Geral keberatan jika Maminya itu pergi dari rumah ini tapi setelah mendengar penjelasan Shasa dan bu Juleha, akhirnya dengan berat hati Geral mengizinkan Maminya ikut bersama pak Rojali. Lagipula rumah keduanya sangat lah dekat, tidak sampai sepuluh menit pun sampai.
"Eh, kira-kira kalau udah berumur gitu, ada malam pertama gak ya?" Shasa bertanya-tanya dalam hati ketika melihat punggung bu Juleha hilang di balik pintu kamar.
Shasa kembali fokus ke layar laptopnya. Hari ini ia harus crazy up untuk menghindari demo dari reader fanatiknya. Rasanya, Shasa benar-benar crazy hari ini karena harus menyelesaikan naskah sebanyak enam ribu kata.
"Astaga! lama-lama mataku bisa copot nih!" gerutu Shasa saat kedua mata itu mulai terasa lelah.
Setelah istirahat beberapa puluh menit, Shasa kembali melanjutkan pekerjaannya. Shasa menaruh harapan yang besar di semua karyanya. Ia ingin suatu saat nanti ada produser film yang meminang karyanya untuk dijadikan film.
Waktu terus berlalu. Sang mentari mulai bergerak ke arah barat. Tepat pukul tiga sore, Geral baru pulang entah dari mana. Ia mengayun langkah menuju rumah dan menapaki satu persatu anak tangga hingga sampai di lantai dua.
__ADS_1
Geral menaikkan satu alisnya setelah membuka pintu kamar. Ia melihat Shasa tidur tengkurap dengan laptop yang masih menyala. Suara aneh yang terdengar dari laptop itu pun membuat Geral penasaran.
"Hmmm ... cukup menarik filmnya!" ucap Geral setelah mengamati adegan yang tersuguh di sana.
"Oh, jadi seperti ini yang diinginkan, Shasa! mungkin dia sering membayangkan adegan itu, sampai sering memanggil nama Christian dalam tidurnya," gumam Geral saat adegan panas di sebuah kamar bernuansa merah terputar di laptop.
Setelah selesai menonton film itu sampai akhir, Geral membereskan laptop dan segala buku catatan yang ada di sisi laptop. Ia harus berhati-hati agar tidak membuat masalah seperti sebelumnya. Kini, ranjang itu pun telah rapi, siap untuk di tempati.
Shasa membuka kelopak mata kala merasakan ada yang menyentuh tubuhnya, "Ada apa, Ge? sejak kapan kamu pulang?" tanya Shasa dengan suara yang serak. Ia belum sepenuhnya sadar dari alam mimpi.
"Maaf, aku sudah mengganggu tidur nyenyakmu. Aku tadi hanya ingin mengubah posisimu agar lebih nyaman," sesal Geral seraya menatap Shasa.
Shasa tersenyum manis mendengar kalimat yang terucap dari bibir itu, "tidak masalah, Ge! lagian ini sudah sore 'kan? aku juga harus mandi," ucap Shasa dengan pandangan yang tak lepas dari Geral.
"Jangan mandi dulu, Sha! kita santai dulu di sini!" ucap Geral seraya menatap Shasa penuh arti.
Obrolan pun mulai terdengar di sana. Shasa kembali merebahkan tubuhnya di ranjang untuk mendengar keluh kesah Geral. Ternyata suaminya itu sedang galau karena beberapa waktu nanti akan mengantar bu Juleha pulang ke rumah pak Rojali.
"Udahlah, Ge! kamu gak usah khawatir! kamu bisa bertemu mami setiap hari 'kan?" Shasa menatap wajah yang terlihat gusar itu.
Helaian napas berat terdengar di sana. Apa yang dikatakan Shasa memanglah benar. Namun, setitik rasa tidak rela masih ada dalam hatinya. Geral sendiri terkadang cemburu saat melihat bu Juleha bergandeng mesra dengan pak Rojali, rasa dongkol selalu menjalar dalam hatinya. Bukan karena apa-apa, Geral hanya teringat papinya yang sudah meninggal dunia.
Detik demi detik telah berlalu. Langit pun berubah menjadi gelap. Sang dewi malam telah hadir menyinari hamparan gelap tanpa bintang itu. Makan malam di rumah bu Juleha sedang berlangsung. Keheningan terasa di antara keempat orang yang sedang menikmati beberapa menu yang tersedia di meja makan.
"Kamu jadi 'kan mengantar Mami?" tanya bu Juleha setelah makan malam usai.
__ADS_1
"iya, Mi!" jawab Geral tanpa menatap maminya itu.
Koper bu Juleha sudah siap di ruang tamu. Mereka berempat akhirnya berangkat menggunakan satu mobil saja. Beberapa wejangan tentang membina rumah tangga pun mulai terdengar di sana.
"Setelah ini kalian harus belajar hidup mandiri! Rumah yang biasa kita tempati sekarang adalah milik kalian berdua," ucap bu Juleha hingga membuat Shasa menoleh ke kursi penumpang di belakangnya.
"Mami kok bilangnya gitu?" protes Shasa.
"Loh memang seperti itu adanya, Sha. Kalian harus belajar mandiri tanpa Mami. Jadi, setelah ini ... kamu dan Geral harus belajar mengatasi apapun masalah yang ada di dalam rumah!" ujar bu Juleha seraya menatap Shasa.
"Ge, setelah ini, kamu dan Shasa yang mengelola keuangan di rumah. Mami percaya kamu dan Shasa pasti bisa menjalani rumah tangga yang rukun tanpa Mami harus ikut campur di dalamnya!" ucap bu Juleha dengan diiringi senyum yan sangat manis.
Obrolan itu pun harus terhenti kala mobil yang dikendarai Geral berhenti di halaman rumah pak Rojali—rumah berlantai dua dengan dominasi warna putih yang menghiasi. Geral berdiri di teras tersebut, ia sendiri masih ragu untuk ikut masuk bersama ketiga orang berjalan masuk ke rumah tersebut
"Nak, ayo masuk! kenapa masih bengong di situ?" ucap pak Rojali setelah kembali ke teras rumah untuk menemui Geral.
...🌹Selamat membaca🌹...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Hallo, Zheyenk😍 apa kabar nih? baik dong ya? oke, langsung saja, othor hanya ingin memberi kalian rekomendasi karya keren yang harus kalian baca😀penasaran kan?? cuz kepoin yuk!
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1