Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Lamaran dari Burhan,


__ADS_3

"Shasa! cepat keluar! di ruang tamu ada Burhan dan orang tuanya!" ujar bu Kokom dengan suara yang lirih saat masuk ke dalam kamar Yulia, di mana ada Shasa yang sedang membantu Yulia packing barang yang dijual Yulia melalui online.


"Apa!" kakak beradik itu terkejut bukan main setelah mendengar kabar dari bu Kokom.


Shasa masih shock karena berita yang disampaikan oleh bu Kokom. Ia duduk bersandar dengan pikiran yang melayang-layang membayangkan lamaran dari Burhan. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali ketika impiannya selama ini harus hancur karena ulah konyol putra pak KADES itu.


"Gak! aku gak mau! semua ini tidak boleh terjadi!" gumam Shasa saat menggelengkan kepalanya.


Shasa segera keluar dari kamar kakaknya, ia menyusul bu Kokom yang sudah kembali ke ruang tamu setelah menyuruh Yulia membuatkan minum. Shasa membelalakkan mata setelah melihat keluarga orang nomor satu di desanya berada di ruang tamu.


"Si Burhan benar-benar gila!" gerutu Shasa dalam hatinya. Ia tidak menyangka jika Burhan benar-benar mengajak orangtua nya datang kemari.


Shasa duduk di samping pak Cipto setelah menjabat tangan Pak KADES dan istrinya. Tatapan matanya tertuju pada sosok pria yang ada di samping Pak KADES. Shasa seakan ingin menerkam pria yang tersenyum tanpa dosa itu.


"Nah begini saja, Pak! mumpung ada Shasa, lebih baik bapak tanya sendiri. Kalau saya sebagai orang tua hanya bisa mengikuti keputusan anak-anak saja," ucap Pak Cipto seraya menatap Shasa dan pak KADES bergantian.


Sekali lagi Shasa tertegun setelah mendengar ucapan ayahnya. Ia bingung, apa yang sebenarnya diinginkan Burhan itu, "Sebenarnya ada apa sih, Yah?" tanya Shasa seraya menatap pak Cipto.


"Jadi begini, Nak Shasa ...." sahut Pak KADES hingga membuat Shasa mengalihkan pandangan, "kedatangan kami malam ini sebenarnya ingin melamar Nak Shasa untuk Burhan," ucap Pak KADES yang berhasil membuat mata Shasa semakin terbelalak.


"Kalian kan sudah pacaran lama, jadi alangkah baiknya jika hubungan kalian segera diresmikan saja sebelum kampanye pemilihan kepala desa bulan depan," sahut bu KADES hingga membuat jantung Shasa berhenti berdetak, ia menggeleng beberapa kali tanpa mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Jadi bagaimana? apa Nak Shasa mau menerima lamaran dari kami?" Bu KADES memastikan jawaban dari Shasa.


Shasa menarik napasnya dalam sebelum menjawab kekonyolan yang sedang terjadi saat ini, sekilas tatapannya tertuju kepada Burhan yang sedang tersenyum manis seperti raja gula.


"Maaf sebelumnya, Pak, Bu!" Shasa menangkupkan kedua tangannya di depan dada, "Saya dan Aa Burhan tidak pernah dekat apalagi sampai pacaran, jadi mohon maaf sekali, saya tidak bisa menerima lamaran dari Aa Burhan!" ucap Shasa dengan suara yang di buat selembut mungkin agar tidak menyakiti hati orangtua burhan.


"Apa!!" kedua orang tua Burhan terkejut setelah mendengar pengakuan dari Shasa. Sementara yang bersangkutan hanya tersenyum tanpa rasa berdosa sedikitpun.


Pak KADES rasanya ingin menghajar anak semata wayangnya itu. Beliau benar-benar malu setelah mendengar pengakuan dari Shasa. Bagaimana bisa putranya sendiri tega berbohong dengan mengatakan jika mempunyai hubungan asmara dengan Shasa.


"Maaf atuh, Pa ... Ma ...." ucap Burhan dengan entengnya, "Burhan terpaksa berbohong agar Papa sama Mama mau melamar Neng Geulis untuk Burhan," ucap Burhan dengan wajah tanpa dosa.


"sekarang ayo kita pulang! memalukan!" ujar Bu KADES seraya meraih tasnya.


"Maaf Bu, saya hanya ingin memberitahu, jika pacarnya Aa Burhan itu bukan saya tapi si Luna!" ujar Shasa tanpa berpikir panjang.


"Bohong! Burhan gak suka sama si dempul itu, Ma! Burhan pokoknya cinta sama Neng Shasa!" rengek Burhan yang membuat wajah kedua orangtuanya merah padam karena menahan malu.


Anggota keluarga pak Cipto hanya diam sambil menatap drama keluarga pak KADES. Pak Cipto pun bingung harus bagaimana menyikapi semua ini, karena Shasa sendiri tidak mau menerima lamaran dari Burhan.


"Maaf Aa! saya sudah punya pacar dan sebentar lagi saya juga mau lamaran sama pacar saya. Kami menjalin hubungan jarak jauh, jadi Aa gak pernah tau jika saya sudah punya pasangan!" Shasa mencoba membela diri agar tidak dibenci keluarga Pak KADES, bagaimana pun juga ia masih membutuhkan tanda tangan orang tersebut suatu hari nanti.

__ADS_1


Pengakuan Shasa tidak hanya membuat keluarga Burhan terkejut tapi keluarganya sendiripun terkejut bukan main. Pak Cipto dan bu Kokom menatap tajam ke arahnya seakan ingin mendapatkan sebuah jawaban.


"kalau begitu kami pamit pulang dulu, Pak Cip! maafkan kami telah mengganggu waktu Bapak dan keluarga. Maaf atas semua kekacauan ini, anak saya memang yang salah," ucap Pak KADES saat berdiri dari tempat duduknya. Beliau menggenggam tangan Burhan dan bersiap untuk menyeret anak semata wayangnya itu keluar dari rumah ini.


"lagian kamu belagu sekali sih, Sha! sehebat apa sih pacarmu sampai kamu menolak anak saya! kalau sampai pacarmu tak lebih baik dari Burhan, maka kamu tidak akan mendapat tanda tangan suami saya saat menikah nanti!" cibir Bu KADES karena tidak terima putranya di tolak gadis seperti Shasa.


Bu Kokom pun tidak terima setelah mendengar ancaman Bu KADES. Beliau segera menggulung lengan dasternya sebelum mengeluarkan ocehan super pedas seperti seblak level setan jahanam.


"Apa maksud Bu KADES hmm? saya tidak terima ya jika anak cantik saya di hina!" ujar Bu Kokom seraya berkacak pinggang, "Anda pikir kami takut dengan ancaman tersebut!" Bu Kokom malah menantang balik istri orang nomor satu di desa ini. Keberaniannya ini benar-benar harus diacungi jempol.


"Kalau Bu KADES mengancam anak saya, lihat saja saat pemilihan kepala desa nanti saya tidak akan memilih Burhan! saya akan menyuruh semua orang mencoblos Mahmud saja!" ancaman Bu Kokom berhasil membuat Bu KADES semakin meradang. Bibirnya sudah terbuka ingin membalas ancaman bu Kokom tapi tangannya sudah ditarik suaminya.


Pak Cipto menepuk keningnya setelah menyaksikan keributan antar istri di hadapannya. Beliau hanya diam sambil menatap Bu Kokom yang sedang menggerutu meskipun ketiga tamu istimewa nya sudah pulang.


Pandangan mata pak Cipto beralih kepada Shasa yang hanya diam dengan wajah yang murung. Beliau masih belum percaya jika putrinya itu berani menolak lamaran dari Pak KADES.


"Shasa! kenapa kamu mengatakan jika sudah punya pacar! memangnya pria mana yang menjadi pacarmu?" tanya pak Cipto seraya menatap Shasa dengan intens.


"Hehe ... Shasa terpaksa berbohong, Yah!" jawab Shasa tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ia segera berdiri dari tempat duduknya sebelum bu Kokom mengeluarkan suaranya yang menggelegar.


"Shasa!" teriak bu Kokom sambil menghentakkan kaki di lantai karena kesal melihat kelakuan putri bungsunya itu.

__ADS_1


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️ 🌹


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2