
Malam yang dingin telah berlalu. Langit yang gelap perlahan pudar kala sang mentari menampakkan kilaunya di cakrawala timur—bersiap narsis untuk menampakkan senyum terindah yang menghangatkan.
Jendela kamar berwarna putih itupun akhirnya terbuka lebar kala sang pemilik kamar mendorongnya. Bu Juleha menarik napasnya dalam untuk menghirup udara sejuk di pagi hari. Matanya terpejam karena menikmati suasana pagi yang menyegarkan.
"Akang, kita sarapan di luar saja yuk!" ucap bu Juleha tanpa membalikkan tubuhnya. Beliau meletakkan kedua tangannya di bingkai jendela, tubuhnya pun sedikit membungkuk.
"Akang mah terserah ayang aja!" jawab pak Rojali yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin meja rias, "kalau begitu mari berangkat sekarang, setelah itu Akang mau berangkat ke kandang," ucap pak Rojali saat menatap sang istri sekilas.
Bu Juleha mematut diri di depan cermin, merapikan rambut yang sudah berubah menjadi warna hitam lagi. Beliau mengganti rambut merah maroon nya sebelum pernikahan Geral dulu.
"Ayo, Kang!" ucap bu Juleha seraya meraih dompet yang tergeletak di nakas, "nanti antar saya ke rumah produksi, ya, Kang!" ucap bu Juleha sambil menarik handel pintu.
Langkah demi langkah telah dilalui sepasang suami istri tersebut hingga mereka berdua sampai di ruang tamu. Bu Juleha memutar kunci tersebut sebelum menarik handel pintu.
"Astagfirullahhaladzim!" teriak bu Juleha karena terkejut melihat tubuh wanita terhuyung ke belakang. Benturan keras pun tidak bisa dihindari lagi.
"Aww!" teriak wanita yang terlentang di dekat kaki bu Juleha yang tak lain adalah Shasa.
Bu Juleha semakin terkejut setelah membuka pintu di sebelah kanan karena ada sosok pria yang tak lain adalah putranya sendiri. Keadaan Geral pun tidak jauh berbeda dengan Shasa. Keduanya sama-sama terlentang di lantai.
"Ya Ampun! Astaga! Kalian berdua ini kenapa tidur di depan pintu? Rumah kalian kebanjiran atau bagaimana?" Bu Juleha berkacak pinggang sambil menatap anak dan menantunya yang duduk sambil mengusap kepala masing-masing.
Shasa segera bangkit dari tempatnya saat ini. Ia sendiri terkejut karena ternyata suami yang ditinggalkannya tadi malam menyusulnya ke rumah ini.
__ADS_1
"Mami ... Izinkan Shasa tinggal di sini sementara, Mi!" ucap Shasa setelah menatap Geral sekilas.
"Tunggu ... tunggu! Kalian ini kenapa? Mami masih bingung, sebenarnya ada apa, sih?" Bu Juleha menatap wajah sendu sang menantu dan setelah itu beralih menatap Geral yang masih duduk di lantai.
Pak Rojali hanya diam saja. Beliau hanya mengamati apa yang ada di hadapannya saat ini karena beliau pun tidak mau terlalu ikut campur rumah tangga anak sambungnya itu.
"Mi, Gerak nakal, Mi! Dia datang ke tempat wanita lain dan mendapat pelayanan memuaskan!" ucap Shasa. Ia mulai terisak kala mengingat pesan dari Mawar di ponsel sang suami.
Bu Juleha menaikkan satu alisnya setelah mendengar aduan dari sang menantu. Beliau menatap Geral penuh arti untuk mendapat jawaban dari putranya itu. Namun, hanya gelengan kepala beberapa kali yang menjadi jawaban Geral.
"Tenang ... sekarang tenangkan dulu emosimu, Sayang!" Bu Juleha merengkuh tubuh Shasa dalam dekapannya. Beliau mengusap rambut berantakan itu beberapa kali.
Geral beranjak dari tempatnya. Ia berdiri di sisi pak Rojali dengan pandangan yang tak lepas dari tubuh bergetar yang ada dalam dekapan bu Juleha. Sekelebat idepun muncul dalam kepalanya.
"Apapun yang dilakukan Mamimu pasti saya akan mendukungnya!" jawab pak Rojali dengan suara yang sangat lirih.
Geral menajamkan tatapannya ke arah pak Rojali. Ia tidak suka mendengar jawaban itu karena bu Juleha pasti mendukung keputusan Shasa. Rupanya Geral harus sedikit keras kepada ayah sambungnya itu.
"Oh, jadi Bapak tidak mau membantu saya? Ok, baiklah! Jangan menyesal kalau setelah ini saya memecat bapak sebagai suami mami saya!" ucap Geral dengan diiringi senyum smirk, "Saya tidak main-main! Lihat saja jika sampai istri saya tinggal di sini, saya pastikan Mami akan meninggalkan Bapak!" Sekali lagi Geral mengancam ayah sambungnya.
Tentu saja hal itu membuat pak Rojali menelan ludah. Beliau pun tahu, Geral tidak mungkin main-main dengan ucapannya. Jujur saja, pak Rojali tidak punya nyali yang besar untuk melawan putra sambungnya itu. Pada akhirnya, beliaupun harus mencari cara agar Shasa kembali pulang bersama Geral.
"Ayang!" ucap pak Rojali setelah berdiri di samping bu Juleha yang sedang menenangkan Shasa, "Biarkan Shasa duduk dulu, Akang mau bicara sama Ayang sebentar," ucap pak Rojali dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
Bu Juleha pun mengikuti perintah dari sang suami, beliau membawa Shasa duduk ke sofa yang ada di ruang tamu dan setelah itu beliau mengikuti pak Rojali masuk ke dalam, meninggalkan Geral dan Shasa yang ada di ruang tamu.
"Ada apa, Kang?" tanya bu Juleha setelah duduk di ruang keluarga.
Pak Rojali pun memberikan pengertian kepada sang istri agar membiarkan Geral membawa Shasa pulang. Tentu saja, dengan kata-kata yang halus agar sang istri tidak emosi.
"Kita sebagai orang tua lebih baik tidak ikut campur masalah rumah tangga anak, biarkan mereka semakin berpikir dewasa dengan masalah ini. Toh, kita tidak tahu kebenarannya, Ayang! Mungkin saja Shasa hanya salah paham," ucap pak Rojali sambil menggenggam tangan bu Juleha.
"Hmmm bener juga ya, Kang." Bu Juleha mangut-mangut setelah mendengar penjelasan dari sang suami, "baiklah, kalau begitu saya akan menyuruh Geral membawa pulang istrinya," ucap bu Juleha sebelum berdiri dari tempatnya saat ini.
Setelah berunding cukup matang akhirnya pak Rojali dan bu Juleha mengayun langkah menuju ruang tamu. Shasa terlihat masih sesegukan sedangkan Geral hanya diam sambil menatap sang istri.
"Shasa, udah jangan nangis lagi, ya," ucap bu Juleha seraya mengusap lengan menantunya itu, "Kamu harus mendengarkan dulu penjelasan dari Geral, biarkan dia membuktikan kalau memang tidak ada hubungan apapun dengan wanita lain," ucap bu Juleha dengan diiringi senyum yang sangat manis.
"Tapi, Mi ... Geral udah selingkuh loh!" sangkal Shasa saat menatap bu Juleha.
"Bohong! Geral tidak selingkuh, Mi!" ujar Geral seraya menatap sang ibu. Perdebatan akhirnya terjadi di sana.
Tentu saja hal ini membuat bu Juleha menjadi bingung. Beliau menepuk keningnya melihat perdebatan di antara anak dan menantunya. Rasanya, bu Juleha ingin segera kabur dari sini. Rencana sarapan berduapun harus tertunda.
"Sudah ... sudah ... sudah! Kalian jangan berdebat lagi! Mami pusing!" ujar bu Juleha saat melerai Shasa dan Geral, "Begini saja, sekarang kalian pulang dulu, selesaikan masalah ini di rumah! Mami mau keluar sama Ayah!" bu Juleha beranjak dari tempat duduknya.
"Ge, ajak istrimu pulang dulu!" ucap Bu Juleha penuh arti.
__ADS_1
...🌷🌷🌷...