Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Mawar yang merasahkan!


__ADS_3

Kekhawatiran, kecurigaan dan keresahan telah membaur menjadi satu. Hiduppun merasa tidak tenang karena pikiran buruk selalu menghantui. Semua prasangka negatif semestinya harus segera dihempaskan dari pikiran sebelum menjadi racun yang menggerogoti hati.


Ya, semua itu lah yang saat ini sedang dirasakan oleh Shasa. Tiga hari telah berlalu begitu saja—meninggalkan sebuah nama yang membekas dalam angan. Mawar. Itulah nama seseorang yang sedang menghantui pikiran Shasa akhir-akhir ini.


"Kamu tidak usah curiga atau mikir yang negatif, Sha! Aku tidak akan melakukan apapun yang menyakitimu. Sudahlah ... doakan saja usahaku akan berhasil."


Itulah jawaban dari Geral saat Shasa bertanya perihal Mawar dan alasan kenapa saat mengangkat telfon selalu menjauh darinya. Tentu saja jawaban itu bukanlah yang diinginkan oleh Shasa karena terlalu ambigu. Bertanya tentang kecurigaan yang lain atau lebih tepatnya tentang sumber kekayaan sang suamipun, Shasa tidak punya nyali. Ia takut Geral akan marah dan melakukan sesuatu yang tidak pernah ia duga.


"Kenapa sampai jam segini Geral belum pulang, sih?" gumam Shasa setelah sadar dari lamunannya.


Penunjuk waktupun sudah berada di angka sepuluh malam. Namun, putra semata wayang bu Juleha itu belum pulang sejak pamit keluar tadi sore. Shasa mulai gusar tatkala pikiran buruk kembali hadir dalam kepalanya.


"Jangan-jangan dia bertemu Mawar!" gumam Shasa seraya menutup jendela kamar. Angin malam yang berhembus mesra sepertinya berhasil membuat tubuh Shasa meremang.


Tiga puluh menit kemudian ... Pintu kamar terbuka lebar. Shasa mengalihkan pandangan dari laptop yang masih menyala. Ia menatap sosok yang berdiri di tengah pintu. Shasa segera beranjak dari tempatnya ketika melihat sang suami berjalan sempoyongan masuk ke dalam kamar.


"Kamu mabuk?" tanya Shasa setelah Geral duduk di tepi ranjang. Aroma alkohol merasuk ke dalam indera penciuman.


"Iya, sedikit. Aku masih sadar kok, Sha!" jawab Geral seraya menatap Shasa sekilas, "aku tadi bertemu teman SMA jadi aku singgah sebentar di rumahnya," ucap Geral saat merebahkan diri di ranjang.


"Aku mau tidur dulu, Sha! Aku lemes banget, capek!" keluh Geral seraya menarik guling yang ada di sisinya.


Shasa tertegun melihat keadaan suaminya saat ini. Tidak biasanya Geral pulang dalam keadaan loyo dan tidak sadarkan diri. Geral sendiri mengakui jika sering mengkonsumsi minuman beralkohol, itu pun terjadi beberapa kali saja dalam satu bulan saat berkumpul dengan teman-teman yang dulu pernah Shasa temui.


Selimut tebal itu pun akhirnya ditarik Shasa untuk menutupi tubuh sang suami, kemudian ia kembali duduk di depan meja rias karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan malam ini. Semua itu tidak jauh dari naskah novel yang membuat nama pena nya mulai dikenal banyak orang. Shaset.


Tepat pukul dua belas malam, Shasa telah menyelesaikan semua tulisannya. Ia meregangkan tubuh sebelum menutup laptopnya. Rasa lelah membuatnya ingin menyusul Geral yang sudah terbang ke alam mimpi yang indah.


"Siapa yang mengirim pesan di jam malam seperti ini?" gumam Shasa saat mendengar ponsel Geral berbunyi, sebuah tanda ada pesan yang masuk.

__ADS_1


Rasa penasaran membuat Shasa turun kembali dari ranjang. Ia berjalan memutari ranjang king size itu untuk membuktikan rasa penasarannya. Tangan itu mulai menyentuh layar ponsel yang masih menyala.


"Mawar?" gumam Shasa ketika melihat nama keramat yang memenuhi pikirannya akhir-akhir ini.


Shasa menatap Geral sekilas sebelum membuka pesan tersebut. Satu persatu angka yang pernah diberitahukan Geral saat itu akhirnya berhasil membuka kunci layar.


Tangan itu bergerak lincah menekan aplikasi hijau. Irama jantung itu semakin berdegup kencang setelah berhasil membuka aplikasi tersebut. Ini adalah yang pertama kalinya untuk Shasa membuka ponsel sang suami.


Mawar🌹


Beb, terima kasih sudah memakai jasaku❤️


^^^Aku suka pelayanan di tempatmu👍^^^


Wow, jadi pengen dipakai lagi🤭


^^^Next time😎^^^


Bulir air mata luruh begitu saja setelah membaca pesan terakhir yang dikirim oleh kontak bernama Mawar itu. Kecewa, marah dan sedih membaur menjadi satu karena hal yang belum pasti kebenarannya. Shasa meletakkan ponsel Geral di atas nakas, ia mengusap pipinya yang basah sambil berjalan ke tempat almari berada.


"Ternyata dia ke tempat Mawar! Apa mungkin dia mabuk bersama Mawar? Apa-apaan Geral ini!" gerutu Shasa sambil mengeluarkan tas besar dari Almari.


"Aku tidak mau di sini! Aku harus pergi!" ujar


seraya memasukkan beberapa pakai ke dalam tas tersebut.


Braak!


Shasa menutup pintu kamarnya dengan keras. Ia mengayun langkah dalam rumah yang temaram. Satu persatu anak tangga telah dilalui hingga berada di lantai satu. Langkah itu pun harus terhenti di depan laci yang ada di ruang keluarga untuk mencari kunci motor matic.

__ADS_1


"Lebih baik aku ke rumah Mami! Mami harus tau kalau Geral nakal!" gerutu Shasa saat membuka pintu samping yang terhubung ke garasi.


Setelah berusaha keras mengeluarkan motor dari garasi, akhirnya Shasa berhasil keluar. Ia mendorong motor itu hingga keluar dari gerbang. Hawa dingin yang merasuk ke dalam tubuh yang terbalut jaket tebal berwarna putih itupun tidak mengurungkan niatnya untuk pergi.


Gelapnya malam yang sunyi sepi tak dihiraukan lagi kala hati sudah terbakar amarah. Setelah menyusuri jalanan yang sepi akhirnya Shasa sampai di depan rumah pak Rojali. Ia membuka gerbang yang kebetulan tidak dikunci itu.


"Ini sudah larut malam! Bagaimana caranya aku membangunkan Mami?" gumam Shasa setelah berdiri di depan pintu berwarna coklat itu.


Helaian napas berat terdengar di sana. Shasa bingung harus bagaimana. Pada akhirnya, ia memutuskan duduk bersandar di pintu itu sambil menunggu pagi. Ya, Shasa nekat menunggu mertuanya bangun.


***


Geral mengerjapkan mata kala tangannya meraba bantal yang ada di sisinya kosong, tidak berpenghuni. Ia mengernyitkan keningnya karena tidak menemukan guling bernyawa yang biasa menemaninya kala tidur.


"Sha ... Shasa!" teriak Geral setelah duduk bersandar di ranjang. Ia memijat keningnya karena masih terasa berat.


Geral turun dari ranjang, ia mencari Shasa ke kamar mandi dan ke balkon kamar dan hasilnya nihil. Geral pun tidak menemukan ponsel Shasa di kamar, hal itu membuat hatinya menjadi resah.


"Kamu kemana, sih, Sha?" Geral bermonolog seraya duduk di ranjang. Ia meraih ponselnya yang ada di atas nakas.


Geral menaikkan satu alisnya setelah membuka layar ponsel yang terkunci itu karena langsung muncul pesannya bersama Mawar. Ia membuka pesan terakhir yang di kirim Mawar beberapa jam yang lalu.


"Apa mungkin Shasa pergi karena membaca pesan ini?" Lagi dan lagi Geral bermonolog.


"Jadi, dia pergi ke rumah Mami," gumam Geral setelah mengecek lokasi ponsel sang istri yang sudah terhubung dengan GPS ponselnya.


Semenjak Shasa pernah kabur dari rumah, Geral diam-diam menyambungkan GPS ponselnya dengan ponsel Shasa. Jadi, Ia bisa memantau kemanapun istrinya itu pergi.


"Aku harus menyusulnya sekarang!" ujar Geral seraya bangkit dari tepi ranjang.

__ADS_1


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️🌹


...🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2