
Satu minggu kemudian ....
Hari bahagia yang ditunggu bu Juleha akhirnya telah tiba. Beberapa puluh menit lagi beliau akan sah menjadi istri pak Rojali. Restu Geral yang sempat membuat beliau galau akhirnya bisa beliau dapatkan. Tentu saja semua itu berkat bantuan menantu tercinta—Maisha.
Keluarga pak Cipto pun telah tiba sejak kemarin malam. Hal itu membuat Shasa bahagia, karena bisa melepas rindu dengan keluarga. Kehadiran keluarganya di rumah besar tersebut membuat Shasa tersenyum lepas.
Ruang tamu yang luas itu sudah sudah didekorasi dengan indah. Tempat ijab kabul pun telah siap di sana. Satu persatu tamu undangan yang tak lain adalah para tetangga dan kerabat bu Juleha mulai hadir memenuhi ruang tamu tersebut. Tidak lama setelah itu, rombongan keluarga pak Rojali pun akhirnya datang bersamaan dengan pak penghulu.
Para tamu undangan menatap kagum saat bu Juleha keluar dari ruang keluarga. Kerja keras MUA profesional membuahkan hasil yang memuaskan karena berhasil menyamarkan kerutan di wajah bu Juleha. Kini, wanita yang telah melahirkan Geral itu terlihat cantik dengan balutan kebaya putih. Ijab kabul pun akhirnya segera dilaksanakan karena setelah ini pak penghulu masih ada jadwal.
"Bagaimana para saksi?" tanya pak penghulu setelah pak Rojali mengucapkan ijab kabul.
"Sah!" jawab serempak semua yang hadir di ruang tamu.
Keadaan ruang tamu tersebut menjadi hening kala pak penghulu mengucapkan doa untuk sepasang pengantin baru itu. Semua orang menengadahkan kedua tangannya sambil mengucap 'amin'.
Pernikahan sederhana yang berlangsung saat ini berhasil membuat perut Shasa terasa kaku. Ia harus menahan tawanya agar tidak meledak kala melihat pasangan lucu yang tak lain adalah mertuanya.
"Ge, kamu gak salim sama papi baru kah?" bisik Shasa setelah para tamu undangan bergantian mengucapkan selamat kepada sepasang pengantin baru itu.
"Jangan panggil pak Rojali dengan sebutan Papi! panggilan papi hanya berlaku untuk ayah kandungku!" protes Geral seraya menatap Shasa.
"La terus aku manggil apa? masa iya aku panggil beliau 'om'!" Shasa terlihat bingung setelah mendengar protes dari Geral.
__ADS_1
Geral tidak menanggapi ucapan Shasa. Ia malah beranjak dari tempat duduknya. Geral lebih memilih menemui para tetangga yang hadir daripada menemui ayah baru nya. Mungkin pria itu belum sepenuhnya ikhlas menerima pak Rojali sebagai ayahnya.
Pernikahan tanpa resepsi itu berjalan lancar tanpa kendala. Waktu demi waktu telah berlalu, sang raja sinar pun sudah berada di langit bagian barat. Semua tamu undangan dan kerabat bu Juleha pun sudah pulang sejak beberapa puluh menit yang lalu. Menyisakan keluarga pak Cipto saja di rumah tersebut.
"Selamat ya, Jul! aku ikut bahagia melihat kamu bahagia," ucap bu Kokom sambil menepuk paha bu Juleha.
"Terima kasih loh, Kom, karena kamu sudah hadir di pernikahanku." Bu Juleha menggenggam tangan besannya. Beliau tersenyum manis saat menatap bu Kokom.
Raut wajah bahagia terukir jelas di wajah bu Juleha. Hubungan yang selama ini ditentang putranya sendiri akhirnya sah di mata hukum dan agama. Mungkin setelah ini, bu Juleha akan pindah dari rumahnya. Beliau akan pulang ke rumah pak Rojali yang ada di komplek sebelah.
"Ayo, Ma! Semua barang-barang kita sudah masuk mobil," ucap pak Cipto setelah menemui bu Kokom di ruang keluarga.
Sore ini, keluarga pak Cipto harus kembali pulang. Mereka tidak bisa berlama-lama di rumah ini karena banyak pekerjaan menumpuk di bengkel. Setelah pamit kepada semua yang ada di rumah ini, akhirnya, mobil yang ditumpangi pak Cipto sekeluarga melenggang dari halaman luas tersebut.
"Hati-hati, Yah, Ma!" teriak Shasa sambil melambaikan tangan.
Tentu saja Shasa terkejut setelah mendengar perintah sang suami, ia bingung karena sebelumnya Geral tidak merencanakan apapun, "Memang mau kemana, Ge?" tanya Shasa.
"Bogor!" jawab Geral sebelum berlalu meninggalkan Shasa di teras rumah.
Bu Juleha dan pak Rojali saling pandang setelah mendengar ucapan Geral. Namun, bu Juleha tak mau ambil pusing, beliau hanya berpikir jika Geral sedang ingin berlibur bersama istrinya. Toh, setelah ini beliau pun aku akan menikmati masa-masa indah pengantin baru bersama pak Rojali.
"Ayang ... sekarang kita istirahat, yuk! biarkan anak-anak pergi liburan!" bisik pak Rojali seraya menaik-turunkan satu alisnya.
__ADS_1
"ih! Akang!" bu Juleha mencubit pinggang pak Rojali dengan wajah merona karena malu.
Tak berselang lama, saat bu Juleha berada di depan kamarnya, Geral dan Shasa pamit pergi. Geral beralasan jika ingin mengajak Shasa liburan ke Bogor kepada bu Juleha selama beberapa hari ke depan.
"Hati-hati di jalan ya! semoga kalian bahagia di sana," ucap bu Juleha seraya mengusap pipi Geral dengan penuh kasih.
"Selamat liburan untuk kalian berdua," ucap pak Rojali dengan diiringi senyum tipis di bibirnya, "Besok saya usahakan menyusul kalian liburan ke sana ya," lanjut pak Rojali.
Geral memutar bola matanya jengah setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh ayah barunya itu. Tentu saja, ia tidak suka jika pak Rojali sampai menyusulnya ke Bogor.
"Lebih baik di rumah saja! tidak usah nyusul ke Bogor daripada nanti encok!" ketus Geral sebelum berlalu. Ia meninggalkan Shasa yang masih diam di tempatnya.
"Maafkan Geral ya, Pak, Pi, eh Yah!" Shasa jadi serba salah ingin memanggil pak Rojali dengan sebutan apa.
"Panggil Ayah saja, Menantu geulis!" ujar pak Rojali seraya menatap Shasa.
Shasa menyunggingkan senyumnya setelah mendengar jawaban pak Rojali. Namun, tidak lama setelah itu, Shasa segera berlalu dari hadapan mertuanya setelah mendengar teriakan Geral yang menggema di lantai satu.
"Kang, maafkan sikap Geral, ya!" ucap bu Juleha seraya mengusap lengan suaminya itu.
"Ayang tidak usah khawatir! Akang mah udah paham, Geral belum bisa menerima kehadiran Akang, dia mungkin cemburu," jawab pak Rojali, "Akang pasti bisa meluluhkan hati Geral, jadi ... Ayang tenang saja!" Pak Rojali meyakinkan istrinya agar tidak memikirkan sikap putranya lagi.
Pak Rojali mengajak bu Juleha masuk ke dalam kamar dengan dalih ingin beristirahat. Rona merah bersemu di pipi bu Juleha setelah mendengar permintaan sang suami.
__ADS_1
"Ayang, bagaimana kalau setelah ini kita emm itu—membuatkan Geral adik?" Pak Rojali mengerlingkan matanya seperti om-om genit yang mencari mangsa.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️ Yang punya bunga, kopi dan vote boleh dong di kasihkan ke Bu Juleha yang jadi pengantin baru😀🌹...