
Senyum secerah mentari terlihat jelas di wajah bu Kokom. Tatapannya tak beralih dari gelang emas yang melingkar di pergelangan tangannya. Binar bahagia terlihat jelas dari sorot mata indah bu Kokom.
"Ma, kira-kira jawaban Shasa nanti bagaimana ya?" pak Cipto terlihat gusar setelah menatap sang istri sekilas.
"Shasa pasti mau lah, Yah! secara Geral kan suami yang diidamkan Shasa selama ini. Dia tampan, wajahnya seperti orang luar negeri terus dia kan punya usaha sendiri," ujar bu Kokom tanpa mengalihkan pandangan dari gelang emas di tangannya, "apa kemarin katanya Shasa? AO? EO? apa sih, Yah?" bu Kokom tampak berpikir untuk mengingat kata yang pernah di ucapkan Shasa.
"apa ya, Ma? eeemm ... itu loh! anu ...." pak Cipto pun ikut berpikir, "CEO!" ujar pak Cipto dengan antusias setelah mengingat kriteria suami idaman Shasa.
"Nah, si Geral kan punya usaha sendiri, Yah! jadi, sesuai kan sama keinginan anak kita?" jawab bu Kokom, "Shasa kemarin kan bilang kalau CEO itu bisa dikatakan pemilik perusahaan, nah ... sama saja 'kan, Yah?" bu Kokom meyakinkan suaminya.
Beberapa puluh menit yang lalu, sebelum bu Juleha pamit pulang. Beliau menyampaikan niatnya untuk menjodohkan putranya dengan Shasa. Ibu satu anak itu terlihat sangat yakin jika Shasa adalah wanita terbaik untuk putranya meski beliau belum tahu bagaimana bentuk, rupa dan karakter Shasa yang sesungguhnya. Perjodohan macam apa ini?!
Awalnya bu Kokom dan pak Cipto ragu untuk menerima tawaran perjodohan tersebut. Namun, setelah mengetahui sedikit cerita tentang pekerjaan dan kesungguhan bu Juleha, akhirnya bu Kokom menerima begitu saja tawaran itu tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Shasa. Keputusan bu Kokom semakin bulat tatkala bu Juleha memberikan salah satu gelang emasnya yang lebar beserta surat keasliannya sebagai tanda keseriusan beliau.
"lagian Yah, kalau kita tidak menemukan jodoh untuk Shasa secepatnya, kita bisa malu besar loh, Yah! anak kita sudah menolak lamaran dari pak Lurah! jelas orang-orang penasaran dengan pasangan anak kita nanti!" keluh bu Kokom seraya menatap pak Cipto.
Pak Cipto hanya mengangguk pelan ketika memikirkan ucapan istrinya itu. Ada benarnya juga jika Shasa segera dinikahkan saja agar tidak dijadikan bahan di Majelis Ghibah Online.
"Ya sudah terserah Mama saja. Nanti Mama atur sendiri kalau Shasa menolak lamaran itu!" pak Cipto hanya bisa pasrah dengan keadaan yang sedang terjadi saat ini.
Bu Kokom tak henti tersenyum ketika melihat kilau permata yang ada di pergelangan tangannya. Beliau baru tahu kalau sebenarnya bu Juleha termasuk golongan rakyat ekonomi menengah ke atas. Pantas saja penampilan sangat berbeda dari yang dulu. Sebagian rambutnya di warna merah maroon, memakai perhiasan emas yang berlebihan serta memakai bulu mata anti tsunami.
"Leha ... leha ... aku ikut bahagia melihat kehidupanmu saat ini, " gumam bu Kokom sambil menatap gelang pemberian bu Juleha.
__ADS_1
...💠💠💠💠...
Semua mata tertuju pada layar televisi yang ada di ruang keluarga kala sinetron ikatan batin mulai menyuguhkan drama mendebarkan. Keempat anggota keluarga itu tak ada yang bersuara, semua menantikan adegan yang akan terjadi selanjutnya.
"Yaaa!" teriak keempat orang itu saat adegan yang muncul tidak sesuai dengan ekspektasi. Mereka semua kecewa karena pemeran utamanya mengalami kecelakaan.
"ih! males nonton jadinya!" gerutu Yulia, ia berdecak kesal setelah sinetron itu bersambung.
Shasa memicingkan matanya ketika melihat gelang emas di pergelangan tangan bu Kokom yang tertutup blouse lengan panjang itu. Ia mengernyitkan keningnya setelah menyadari jika itu bukanlah gelang bu Kokom yang tersimpan di almari.
"Mama beli gelang baru?" tanya Shasa tiba-tiba. Hal itu membuat bu Kokom mengalihkan padangan ke arahnya.
"eh iya ya! aku baru sadar loh, Sha! kalau Mama pakai gelang yang beda!" Yulia ikut berkomentar setelah meraih tangan bu Kokom. Ia sibuk melihat keindahan gelang tersebut.
"ini gelang dikasih teman Mama waktu muda dulu," ujar bu Kokom sambil menepuk paha Shasa.
"Jangan bilang kalau gelang itu dikasih mantan pacar Mama yang bernama Rusdi!" sahut Yulia yang membuat pak Cipto segera mengalihkan pandangan ke arah istrinya.
"kok Ayah gak tahu kalau Mama punya mantan namanya Rusdi?" pak Cipto memicingkan matanya. Beliau seperti ABG yang sedang mencurigai pasangannya.
"udah stop! mending kita membahas hal yang lebih penting!" bu Kokom menatap satu persatu anggota keluarganya.
"Mama atau Ayah nih yang bicara?" tanya bu Kokom seraya menatap pak Cipto.
__ADS_1
"Mama saja lah!" pak Cipto menatap pasrah ke arah istrinya, beliau tidak sanggup mengatakan semuanya kepada Shasa.
Atmosfer udara di ruang keluarga tiba-tiba terasa menyesakkan. Perasaaan Shasa mulai tidak enak. Instingnya mengatakan jika ada sesuatu yang berhubungan dengannya apalagi setelah melihat tatapan kedua orang tuanya.
"Gelang ini pemberian dari sahabat Mama waktu Mama muda dulu, kami bekerja di tempat yang sama," ucap bu Kokom seraya menatap Yulia dan Shasa.
Kemudian, ibu dua anak itu menceritakan sekilas tentang hubungannya dengan wanita bernama Juleha itu. Bu Kokom pun menceritakan jika hari ini bertemu dengan bu Juleha di warung.
"Sha, Mama sebelumnya minta maaf nih!" ucap bu Kokom seraya menatap Shasa, "tadi Mama menerima lamaran dari tante Juleha tanpa menunggu persetujuanmu!" ucap Bu Kokom dengan diiringi senyum tipis. Tentu saja hal itu membuat Shasa dan Yulia terkejut bukan main.
"Hah!" bibir Shasa terbuka lebar setelah mendengar penuturan sang Mama, "Mama sehat kan Ma hari ini? tensi Mama aman 'kan?" tanya Shasa dengan pandangan yang tak lepas dari bu Kokom. Punggung tangannya menyentuh kening dan leher bu Kokom bergantian.
Bu Kokom akhirnya menceritakan dengan jelas semua yang diucapkan bu Juleha tadi siang. Tak lupa bu Kokom pun menceritakan tentang sosok Geral dan pekerjaannya. Binar bahagia terlihat jelas dari sorot mata bu Kokom.
"Mama yakin dengan apa yang mama ucapkan ini?" tanya Shasa, ia belum percaya dengan cerita yang disampaikan Mamanya itu.
"Iya, yakin se yakin yakinnya!" ujar bu Kokom, "kalau kamu tidak percaya, lihat saja di HP Ayahmu! tadi Ayah sempat mencuri foto pria itu!" ucap bu Kokom seraya mengalihkan pandangan ke arah pak Cipto.
Shasa menerima HP yang diserahkan oleh ayahnya. Ia membuka HP android jadul yang sudah ketinggalan jaman itu. Yulia pun tak mau ketinggalan info penting ini, ia pindah posisi, duduk di samping Shasa.
"Yaelah ... fotonya ngeblur!" gerutu Shasa saat membuka galeri ponsel itu.
🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍 Besok kan hari senin yak! jangan lupa amankan vote kalian untuk Neng Shasa ya, Zheyenk😁mawar pun tak masalah😁🌹
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...