Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Tamu tak di undang?


__ADS_3

Tiga bulan kemudian ....


"Kak, nasibku kok gini amat sih! mungkin namaku benar-benar di black list sama si Botak nih!" keluh Shasa dengan bibir yang mengerucut setelahnya.


Yulia menatap Shasa sekilas, lalu ia mengalihkan pandangan ke arah jalan raya—menatap kendaraan yang berlalu lalang. Senja terlihat indah di cakrawala barat, burung-burung mulai berterbangan mencari sarangnya sebelum langit berubah menjadi gelap.


Gurat-gurat keputusasaan terlihat jelas di wajah Shasa. Ia duduk bersandar di bangku bambu yang ada di depan warung, ia pun melakukan hal yang sama seperti Yulia, menatap lalu lalang kendaraan yang tak ada habisnya. Yulia sendiri kasihan kepada Shasa karena tak kunjung mendapat panggilan kerja dari perusahaan manapun padahal ia sudah mengirim lamaran kerja ke beberapa perusahaan bonafit.


"Selamat sore, Neng geulis!" Burhan menghentikan motor piciex nya tepat di depan Shasa. Ia menyugar rambut yang terlihat klimis itu sebelum turun dari motornya.


"Duh! bencana datang!" umpat Shasa dalam hatinya.


"Neng geulis, telfon Aa kenapa gak pernah di angkat?" tanya Burhan seraya menatap Shasa.


"aku sibuk!" jawab Shasa ketus.


"memang benar seperti itu kah, Kakak ipar?" tanya Burhan seraya mengalihkan pandangan kepada Yulia.


Sekuat tenaga Yulia menahan senyumnya karena melihat kekesalan Shasa semakin bertambah. Yulia hanya mengangguk pelan setelah mendapat kode dari Shasa.

__ADS_1


"Bagaimana kalau Aa ngajak orang tua Aa datang kesini untuk melamar Neng geulis?" tanya Burhan yang membuat kedua wanita di hadapannya membelalakkan mata, "Kalau kita segera menikah kan enak! Aa bisa ngobrol sama Neng geulis kapanpun Aa mau, Aa gak akan membiarkan Neng geulis sibuk deh!" ujar Burhan dengan percaya diri.


Shasa berdiri dari tempat duduknya, ia menatap Burhan dengan tatapan tajamnya. Ingin rasanya Shasa menendang kaki pria yang ada di hadapannya itu. Namun, ia takut akan dilaporkan ke polisi.


"Eh Bubur! kamu gak ada kerjaan lain gitu selain mengganggu ku? sampai lebaran gajah pun aku tidak akan menikah denganmu!" sarkas Shasa sebelum berlalu pergi dari hadapan Burhan,


"oh ya, kalau mau ngobrol, ngobrol aja sama kak Yulia! aku mau mandi karena mertuaku sebentar lagi akan datang!" ujar Shasa saat menghentikan langkahnya di tengah pintu.


Burhan tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat jelas di mata Yulia. Anak sulung pak Cipto itu mengernyitkan keningnya setelah melihat tingkah aneh Burhan.


"Maksud Neng geulis tadi apa ya? apa dia setuju kalau aku datang kesini bersama orangtuaku, Kak?" tanya Burhan kepada Yulia.


"Aku gak tau nih! eh maaf ya, bukannya ngusir, ini kan udah magrib ... emm mending kamu pulang dulu gih! soalanya aku mau sholat magrib!" Yulia mengusir Burhan secara halus agar segera pergi dari hadapannya.


"Wah iya nih! Masjid di ujung gang sudah adzan kak! saya pamit dulu ya!" ucap Burhan sebelum naik ke atas motor piciex nya.


Setelah Burhan pergi, Yulia tak kuat lagi untuk tidak tertawa lepas. Ia masih heran kenapa adiknya itu memiliki fans berat yang aneh seperti Burhan,


"Pantesan Shasa kesel banget sama si Burhan! ternyata dia pria yang aneh!" gumam Yulia setelah puas tertawa.

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹...


Suara bu Kokom terdengar nyaring di ruang keluarga tatkala sinetron Ikatan batin telah dimulai. Bu Kokom mendadak seperti seorang penyiar sepak bola kala sinetron itu mulai menampilkan drama kehidupan yang menguras emosi emak-emak komplek.


"Ma, sepertinya di depan ada tamu deh, coba Mama buka dulu!" ujar pak Cipto yang sedang sibuk membaca majalah otomotif milik Yulia.


"Tunggu sebentar lagi, Yah! nunggu iklan dulu lah!" ucap Bu Kokom tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi.


Benar saja, setelah iklan terputar di layar televisi tersebut, bu Kokom segera beranjak dari tempat duduknya. Beliau mengayun langkah menuju ruang tamu untuk membuka pintu samping, di mana tamu biasa masuk saat warung sudah tutup.


"Siapa atuh yang bertamu? tumben jam segini ada yang datang ke rumah!" gerutu bu Kokom setelah menatap jam dinding sekilas.


Alangkah terkejutnya bu Kokom setelah melihat siapa yang berdiri di balik pintu masuk. Bu Kokom sampai membekap mulutnya karena tidak percaya dengan kehadiran ketiga orang yang sedang mengembangkan senyumnya.


"Emm ... anu ...itu, eeeng ... Pak KADES sekeluarga ada apa ya datang ke rumah ini?" tanya bu Kokom tanpa mempersilahkan orang nomor satu di desanya untuk masuk ke dalam.


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍🌹


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2