Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Kamu dipecat!


__ADS_3

"Aduh! Panas, Ge!" ujar Shasa dibalik tubuh sang suami.


"Sabar, Sha! Sebentar lagi kita akan sampai!" ucap Geral dengan pandangan fokus ke depan. Motor yang dikendarai Geral melaju cepat di jalanan kota.


Sepuluh menit kemudian, motor itu sampai di depan IGD rumah sakit swasta yang ada di Cibiru. Geral segera turun dan membawa Shasa masuk ke IGD untuk mendapat perawatan.


Beberapa petugas medis menghampiri bilik yang di tempati Shasa saat ini. Kaki mulus itu terlihat seperti kepiting rebus. Punggung kaki itu melepuh akibat air mendidih yang tumpah di kaki Shasa. Tentu saja, rasanya seperti terbakar, nyeri tak karuan. Kaki itu terkena air mendidih mulai dari betis hingga punggung kaki karena kebetulan pagi ini Shasa memakai celana pendek selutut.


"Saya memilih istri saya dirawat di sini saja!" ucap Geral setelah dokter menyampaikan hasil pemeriksaan, "Tolong, lakukan yang terbaik untuk istri saya. Bila perlu datangkan dokter spesialis kulit terbaik untuk membantu kesembuhan istri saya! Saya ingin kakinya kembali seperti sebelumnya!" Geral menatap dokter jaga yang ada di IGD penuh harap.


"Baiklah, kalau memang itu keputusan Bapak, silahkan registrasi rawat inap di sebelah sana," ucap dokter tersebut sambil menunjuk loket yang tidak jauh dari tempat mereka berada.


Sebenarnya, dokter tidak menyarankan Shasa dirawat inap di rumah sakit karena luka bakarnya masih berada di tahap dua, di mana tidak ada infeksi yang memerlukan tindakan medis. Mungkin, beberapa jaringan epidermis kulit ada yang rusak, dampak dari air mendidih itu.


"Ge, apa kakiku bisa sembuh?" tanya Shasa setelah Geral kembali dari mengurus pendaftaran.


"Bisa, kakimu pasti bisa pulih seperti dulu!" ucap Geral seraya menatap Shasa dengan intens. Jujur saja hatinya tidak tega melihat Shasa terus menangis tanpa bersuara karena merasakan panas dan nyeri di kakinya.


Setelah semua luka di rawat dokter IGD, Shasa segera di pindah ke ruang rawat inap yang sudah dipesan oleh Geral. Sebuah kamar VIP dengan fasilitas lengkap sengaja disewa Geral demi kenyamanan sang istri.


"Ge, Jangan kasih tau apapun ke Ayah dan Mama, ya! Aku tidak mau mereka khawatir!" ucap Shasa setelah perawat yang mengantar Shasa keluar dari ruangan.


"Kalau memang itu keputusanmu, aku akan melakukannya!" jawab Geral dengan diiringi senyum tipis.


Geral beranjak dari tempat duduknya setelah teringat jika belum memberi kabar bu Juleha. Ia membuka pintu menuju balkon untuk menelfon Maminya itu. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya panggilan tersebut terhubung. Raut wajah itu terlihat serius kala menceritakan apa yang sudah menimpa sang istri.

__ADS_1


"Mami ke rumah sakit aja, biar Geral yang mengurus Eren!" ucap Geral sebelum mengakhiri panggilannya.


...♦️♦️♦️♦️...


Sementara itu, di rumah produksi ... Eren ditahan oleh Novi dan beberapa orang lainnya setelah membersihkan kekacauan yang baru saja terjadi. Eren tertunduk di bangku panjang yang ada di sudut ruangan. Ia tengah menyesali perbuatan yang tidak sengaja ia lakukan.


"Ya Tuhan ... kenapa semua ini harus terjadi?" gumam Eren dalam hatinya.


Apa yang sudah terjadi bukanlah hal yang disengaja oleh Eren. Semua terjadi mendadak karena kain yang dipakai Eren mengangkat gagang panci tersebut bergeser dan tangannya merasakan panas yang luar biasa. Tentu saja, ia reflek melepaskan gagang panci tersebut karena rasa panas yang terasa di beberapa jarinya.


"Pasti setelah ini Geral sangat murka kepadaku!" gumamnya lagi. Eren benar-benar takut saat membayangkan kemarahan Geral nanti.


Eren menegakkan kepalanya kala melihat sepasang kaki berdiri di hadapannya. Pria yang sejak tadi ada dalam pikirannya akhirnya telah tiba. Eren menelan ludah kala tatapan matanya bersirobok dengan mata yang memancarkan kilatan amarah itu.


"Seharusnya dari awal aku tidak membiarkan kamu masuk ke dalam lingkungan ku lagi!" ujarnya lagi,


"jadi, ini tujuanmu bekerja di tempatku? kamu sengaja ingin menyakiti istriku, hmm?" Suara Geral menggelegar di sana hingga membuat semua pekerjanya bergidik ngeri.


"Tidak, Ge! Sungguh, aku tidak punya niat seperti itu!" kilah Eren seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Aku benar-benar tidak sengaja, Ge! Aku tidak berniat melukai istrimu! Aku tadi hanya ...." Akhirnya, Eren menjelaskan apa yang sudah ia alami bersama Shasa tadi.


Geral meraih tangan Eren, ia menarik mantan kekasihnya itu keluar dari rumah produksi. Mungkin ia akan membawa Eren ke kantor polisi agar mantannya itu mempertanggungjawabkan perbuatannya.


"Ge, aku mau dibawa kemana?" tanya Eren setelah berhenti di teras.

__ADS_1


"Kantor polisi!" ucap Geral tanpa membalikkan tubuhnya.


Eren membelalakkan mata setelah mendengar jawaban Geral. Sungguh, ia tidak pernah memiliki niat untuk mencelakai Shasa. Semua yang terjadi murni kecelakaan saja. Air mata pun tidak bisa terbendung lagi, lolos begitu saja dari pelupuk mata itu.


"Ge! aku mohon, jangan laporkan aku ke polisi!" ujar Eren sambil meraih pergelangan tangan Geral.


"Hidupku sudah hancur, Ge! Tolong kasihani aku!" ucap Eren di sela-sela tangisnya.


"Aku mengakui kalau aku sering kali mencari perhatianmu. Semua itu kulakukan karena aku masih memiliki rasa kepadamu, Ge!" Eren berharap Geral membalikkan tubuh untuk menatapnya.


"Sungguh, aku tidak berniat untuk menyakiti istrimu, Ge! aku benar-benar tidak sengaja!" ujar Eren lagi. Ia benar-benar berharap Geral luluh dan membebaskannya.


Geral membalikkan tubuhnya, ia menatap intens wajah mantan kekasihnya itu. Wajah yang sangat berbeda saat bersamanya dulu. Geral pun mulai bimbang dengan keputusannya saat ini, ada rasa iba yang hadir dalam hatinya ketika melihat sorot mata itu.


"Aku mohon, Ge, jangan laporkan aku ke polisi! Hidupku sudah hancur, Ge. Aku janji akan menjauh dari hidupmu, asal jangan bawa aku ke kantor polisi! Sekarang aku menjadi tulang punggung keluarga, Ge! Tolong kasihani aku!" Shasa menundukkan kepalanya, ia sangat berharap Geral akan membebaskannya.


Geral masih bungkam, ia mencoba mencerna apa yang diucapkan oleh Eren. Setelah mendengar penjelasan itu, ia tidak tega jika harus membawa Eren ke kantor polisi. Mungkin, jalur hukum terlalu berat untuk menghukum Eren saat ini.


"Baiklah! aku tidak akan melaporkanmu ke polisi! Tapi mulai hari ini kamu dipecat! Pergilah dari sini! Jangan menampakkan diri di dekat keluargaku lagi!" ujar Geral dengan tatapan tajamnya. Ia mengeluarkan dompet dari saku celananya, dan beberapa lembar rupiahpun berhasil keluar dari sana.


"Ini gajimu selama bekerja di sini! Kita sudah tidak ada urusan lagi! Pergilah!" ujar Geral setelah memberi Eren beberapa lembar rupiah.


Eren menerima uang tersebut karena ia membutuhkannya untuk biaya hidup. Tanpa sepatah katapun ia pergi dari hadapan Geral. Ia bersyukur karena Geral masih memiliki rasa iba dalam hatinya.


...🌹Selamat Membaca🌹...

__ADS_1


__ADS_2