
Kamar yang gelap perlahan mulai terang karena sinar mentari mulai menerobos masuk lewat jendela kaca yang tidak tertutup korden. Geral mengerjap pelan karena silau itu sampai di kelopak mata. Tangannya terasa kebas, seperti menahan beban berat.
"Pantas saja tanganku kebas! jadi sejak semalam Shasa tidur di lenganku!" gumam Geral seraya menggeser tangannya dari kepala Shasa.
Geral terkejut ketika punggung tangannya menyentuh leher Shasa. Sekali lagi, ia menyentuh leher dan pindah ke kening Shasa. Panas, ya itulah yang terasa di tubuh Shasa saat ini. Geral segera duduk dan mencoba membangunkan istrinya itu.
"Sha, Shasa!" beberapa kali Geral menepuk pipi Shasa, jujur saja, ia khawatir dengan kondisi Shasa saat ini.
"Ge, dingin, Ge!" rintih Shasa dengan kelopak mata yang terpejam.
Geral menepuk keningnya setelah menyadari jika ia dan Shasa tidur tanpa busana. Tubuh polos itu hanya tertutup selimut tebal. Pandangan Geral menyapu keadaan yang ada di sekitar ranjang. Berantakan. Banyak tissu berserakan di lantai hingga bercak darah di sprei.
"Sha, bangunlah! pakailah bajumu dulu, setelah itu aku akan memanggil dokter ke sini," ucap Geral seraya menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya dan Shasa.
"Aku lemes, Ge! aku gak punya tenaga lagi! kamu lupa jika aku belum makan sejak kemarin malam?" ucap Shasa dengan suara yang sangat lirih.
Rasa bersalah mulai bersarang di hati Geral. Ia begitu menikmati malam pertamanya hingga lupa jika belum makan. Entah berapa kali Geral mengajak Shasa bermain-main di atas ranjang. Mereka berdua tidur lewat dini hari, itu pun karena lelah.
Geral segera turun dari ranjang, ia mencari pakaian santai di dalam almari sebelum membantu Shasa membersihkan diri di kamar mandi. Namun, sebelum itu, ia memungut sampah tissu yang berserakan di lantai, ia bisa melihat tissu dengan noda merah yang membuatnya tersenyum penuh arti.
"Ayo aku bantu berdiri!" ucap Geral setelah berdiri di sisi tubuh Shasa.
Geral harus menahan hasratnya sekuat tenaga ketika melihat tubuh molek sang istri. Tubuh mulus dengan beberapa tanda merah di bagian tertentu. Geral membantu Shasa berdiri. Namun, tubuh itu kembali ambruk di atas ranjang karena terasa sangat lemah.
"Ge, aku tidak bisa berdiri!" rintih Shasa dengan mata yang terlihat sayu.
__ADS_1
Geral prihatin melihat kondisi Shasa saat ini. Tanpa banyak bicara, Geral segera mengangkat tubuh lemah itu menuju kamar mandi. Geral menurunkan tubuh Shasa di atas closet, ia memutar kran shower air hangat untuk membersihkan tubuh itu agar terlihat lebih segar. Geral segera keluar dari kamar mandi, ia mengambil pakaian untuk Shasa dan setelah itu ia kembali lagi untuk membantu Shasa memakai pakaiannya.
"Berbaringlah di sofa terlebih dahulu, aku akan membersihkan ranjang kita," ucap Geral setelah menurunkan tubuh Shasa di sofa.
"terima kasih," ucap Shasa dengan suara yang lirih.
Geral berkacak pinggang ketika melihat kondisi ranjang. Ia bingung harus dari mana dulu membersihkannya karena selama ini ia tidak pernah merapikan kamarnya sendiri. Pada akhirnya, Geral memilih untuk meminta bantuan ART yang bekerja di rumahnya, membuang rasa malu dan gengsi.
"tunggu sebentar! aku akan mengambilkan sarapan untukmu!" ucap Geral sebelum meninggalkan Shasa di dalam kamar.
Suasana di rumah terasa sunyi sepi. Geral tidak menemukan di mana keberadaan bu Juleha saat ini, padahal biasanya di jam-jam seperti ini, seharusnya masih di rumah.
"Bu Narti, tolong bantu saya membersihkan kamar, sekalian sprei nya di ganti ya, Bu!" ucap Geral setelah menemui salah satu ART nya di dapur, "Mami kemana, Bu?" tanya Geral sebelum bu Narti pergi dari dapur.
"Nyonya besar pergi sejak pagi, Den! beliau pergi sebelum sarapan," ucap bu Narti sebelum berlalu pergi dari hadapan Geral.
Kamar yang berantakan kini terlihat lebih rapi setelah bu Narti membersihkan dengan beberapa alat kebersihan. Ranjang itu tidak lagi seperti kapal yang terguncang badai.
"Saya permisi dulu ya, Den!" pamit bu Narti setelah menyelesaikan tugasnya, beliau harus menahan tawa melihat wajah Geral yang merona karena malu.
"terima kasih, Bu. Oh ya bu, bisa minta tolong sekali lagi, bu?" tanya Geral sebelum bu Narti keluar dari kamar.
"Tolong, katakan ke pak Tarjo agar menjemput dokter Anis atau siapalah yang tinggal di komplek ini. Istri saya demam," ucap Geral seraya menatap bu Narti.
"baik, Den! saya ke depan dulu kalau begitu," ucap bu Narti sebelum berlalu pergi.
__ADS_1
Pandangan Geral beralih kepada Shasa, rasa bersalah semakin menelusup ke dalam hatinya kala merasakan jika tubuh istrinya itu semakin panas. Geral sendiri bingung harus bagaimana menghadapi situasi seperti saat ini.
"Sha, ayo kita sarapan!" Geral membantu Shasa duduk bersandar di sofa.
Shasa hanya diam sambil menatap piring yang ada di pangkuannya. Tiba-tiba saja rasa rindu kepada keluarganya hadir dan membuatnya semakin sedih. Dulu saat Sakit begini, Shasa pasti bersikap manja yang membuat ketiga keluarganya bingung.
Geral segera meraih piring yang ada di pangkuan Shasa, ia tidak tahan melihat Shasa hanya diam sambil mengaduk nasi tersebut, "biar aku saja yang menyuapimu!" ucap Geral.
Detik demi detik terus berlalu, sarapan bersama telah usai. akhirnya, salah satu dokter praktek di dekat tempat tinggal Geral pun masuk ke dalam kamar. Beliau mulai memeriksa keadaan Shasa dengan menggunakan stetoskop nya.
"Suhu tubuhnya mencapai tiga puluh sembilan derajat. Mungkin nona terlalu lelah dan dehidrasi, bisa juga karena masuk angin," ucap dokter tersebut seraya mengulum senyum, "nanti akan saya berikan obatnya. Jika setelah minum obat panasnya belum turun, lebih naik di bawa ke rumah sakit saja," lanjut dokter tersebut dengan diiringi senyum penuh arti.
Geral mengantar dokter tersebut hingga keluar dari rumah setelah selesai memeriksa Shasa dan memberikan selembar resep obat kepada Geral. Dokter tersebut akhirnya pergi bersama supir yang menjemputnya.
Setelah kepergian dokter tersebut, Geral melihat bu Juleha berjalan dari pintu gerbang. Geral sangat penasaran dari mana kah ibunya itu. Wajah bahagia terlihat jelas dari ekspresi yang ditunjukkan bu Juleha.
"Mami dari mana?" tanya Geral dengan raut wajah penasaran.
"oh dari jalan-jalan pagi bersama bu RT," ucap bu Juleha tanpa menatap Geral.
Tentu saja Geral tidak percaya, tidak mungkin bu Juleha tampil rapi dan cantik seperti saat ini jika berkumpul dengan para tetangga. Geral curiga jika Mami nya sarapan bersama juragan sapi yang terkenal di komplek sebelah.
"Jangan-jangan Mami keluar dengan pak Rojali, ya?!" sarkas Geral hingga membuat bu Juleha tersenyum penuh arti.
...🌹selamat membaca🌹...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...