Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Ancaman bunuh diri!


__ADS_3

Shasa mengerutkan kening ketika melihat foto seorang pria yang ada di HP ayahnya. Ia bingung harus percaya atau tidak karena foto tersebut di ambil dari samping dan ngeblur.


"Mama sangat berharap kamu mau menerima lamaran ini, Sha! kali ini saja ... Mama ingin kamu nurut sama Mama!" ucap bu Kokom seraya menatap Shasa penuh harap.


"Ma! ini tuh jaman modern. Masa iya masih ada perjodohan seperti itu! macam cerita di novel aja!" protes Shasa.


"Semua ini demi kebaikanmu, Sha! kamu mau ya, ya ... ya ....!" bu Kokom sangat berharap Shasa bersedia.


"Gak mau ah, Ma! Shasa belum kenal sama pria itu! jangan-jangan dia penjahat, penipu dan yang lebih parah dia seorang mafia yang nyambi jadi CEO! omo ... omo ....!" cerocos Shasa saat menerka pekerjaan pria bernama Geral itu. Ia terbayang-bayang tokoh yang biasa ia tulis di dalam novelnya.


"Aaw!" teriak Shasa ketika merasakan cubitan di lengannya. Ia segera mengalihkan pandangan ke samping dan menatap Yulia dengan ekspresi tak suka.


"Realistis dong! jangan samakan dunia nyata dan dunia halu!" protes Yulia ketika Shasa bersiap melayangkan ujaran kebencian kepadanya.


Shasa bersikukuh menolak lamaran dari sahabat bu Kokom. Ia tidak mau menikah terlebih dahulu karena ingin mengejar mimpinya walaupun semua itu mustahil.


"Ayo lah, Sha! jangan begini! Mama melakukan semua ini demi kebaikanmu! Mama tidak rela jika kamu di hina tetangga karena menolak lamaran Burhan!" raut keputusasaan terlihat jelas di wajah bu Kokom.


"anaknya tante Juleha tuh, benar-benar seperti impian kamu! dia jauh lebih baik dari Burhan!" Bu Kokom mencoba untuk memprovokasi Shasa.


Shasa mengalihkan pandangan ke arah Yulia, "apa benar yang diucapkan oleh Mama, Kak? apa benar dia keturunan orang luar negeri?" tanya Shasa kepada Yulia karena saat dirinya pergi, Yulia lah yang ada di rumah.


"Aku tidak tau, Sha!" Yulia menggelengkan kepalanya, "Kebetulan tadi siang aku di ajak Ayu Ghibah outdoor di warung basonya Kang Sahid!" ujar Yulia.


Shasa berdecak kesal setelah mendengar jawaban dari kakaknya itu. Yulia sering menghabiskan waktu bersama Ayu—seorang janda bolong yang menjadi idaman para pria di kampung.


"Heran deh aku! kok ada ya jenis-jenis Ghibah di dunia kakak! ghibah online, ghibah offline dan ghibah outdoor!" gerutu Shasa seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.

__ADS_1


"Bodo amat!" jawab Yulia dengan entengnya.


"lagian ya, Kak! sistem ghibah tuh gak bisa dipercaya! kalau kita ghibahin orang, suatu saat waktu kita gak ikut ghibah pasti kita yang di ghibahin!" gerutu Shasa saat melihat sikap kakaknya.


"Sudah ... sudah ... sudah!" ujar bu Kokom, "kalian gak usah debat perkara ghibah!" lerai bu Kokom.


"Jadi bagaimana, Sha? kamu mau 'kan?" sekali lagi bu Kokom membujuk Shasa.


"Gak mau, Ma! Shasa kan belum kenal! kalau kenalan dulu sih gak papa, nanti kalau cocok lanjut!" ucap Shasa.


Bu Kokom menepuk jidatnya setelah mendengar jawaban dari Shasa. Beliau benar-benar bingung saat ini karena sudah menyanggupi permintaan bu Juleha tadi siang, "anu, Sha! emmm ... masalahnya, itu ... Mama ... emm ... Mama sudah menerima lamaran itu! Mama juga sudah setuju kalau acara lamarannya diselenggarakan akhir bulan ini!" ucap bu Kokom dengan diiringi senyum tipis.


"Hah! apa-apaan Mama ini!" Shasa terkesiap setelah mendengar pengakuan bu Kokom.


Shasa menatap bu Kokom dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan. Ia tidak menyangka bahwa kisah yang ada di dalam novel-novel ternyata ada di dunia nyata dan ia sendiri yang merasakan.


Shasa mengalihkan pandangannya ke arah pak Cipto yang tak bersuara sedikitpun. Beliau termenung tanpa menatap siapapun yang ada di ruang keluarga, "Ayah juga mengetahui rencana ini kah? ayah setuju?" tanya Shasa dengan pandangan yang tak lepas dari pak Cipto.


Pak Cipto mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan putrinya itu. Beliau menatap Shasa sekilas dengan iringan senyum tipis. Melihat hal itu, membuat Shasa ingin menangis saja.


"Nak, Ayah dan Mama melakukan semua ini karena kami ingin kamu bahagia. Ayah tidak mau jika kamu terus di bully Luna dan digunjingkan orang-orang di luar sana ... kita bukanlah orang berduit, kita hanya orang biasa, Nak!" akhirnya pak Cipto mengeluarkan pendapatnya ketika melihat kesedihan yang terpancar dari wajah sang putri.


Bu Kokom menangis setelah mendengar ucapan serius suaminya itu. Beliau meraung-raung hingga membuat Shasa dan Yulia menjadi heran. Apakah Mamanya sehat? ya begitulah pertanyaan yang terlintas dalam pikiran kakak beradik itu.


"Hua ... hua ... hua ...." bu Kokom semakin meraung ketika melihat kedua putrinya hanya diam dan menatapnya heran.


"lebih baik Mama bunuh diri saja kalau kamu menolak lamaran bu Juleha! Mama tidak sanggup menanggung malu untuk yang kedua kalinya, Sha!" ujar bu Kokom di sela-sela tangisnya.

__ADS_1


Bu Kokom beranjak dari kursi yang ada di ruang keluarga, beliau lari ke dalam kamar tapi sebelum itu beliau ke dapur terlebih dahulu untuk mengambil sesuatu.


"Biar Ayah yang menenangkan Mama!" Pak Cipto mencegah Shasa dan Yulia yang berusaha mengejar bu Kokom.


Shasa terlihat panik setelah mendengar ancaman bu Kokom, ia mondar-mandir di depan kamar orang tua nya dengan pikiran yang tak karuan. Sedih, tentu saja sedih. Ia tidak bisa membayangkan jika Mama nya benar-benar nekat bunuh diri. Sungguh miris!


Sementara itu Pak Cipto tertegun setelah masuk ke dalam kamar. Beliau melihat istrinya duduk di tepi ranjang dengan suara tangis yang masih menggelegar, "Ma, kenapa pakai kepikiran bunuh diri segala!" tegur pak Cipto dengan ekspresi wajah yang tidak bisa diartikan.


Bu Kokom memberikan kode kepada suaminya agar mendekat ke tempatnya. Bu Kokom meletakkan jari telunjuknya di bibir saat pak Cipto duduk di sampingnya.


"Mama hanya pura-pura! Ini Mama lakukan agar Shasa mau menerima lamaran dari Juleha! ayah harus bantu Mama akting, ya!" bisik bu Kokom yang membuat pak Cipto menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Lepaskan, Yah! lepaskan! jangan halangi Mama! Mama tidak sanggup menahan malu dan melihat Shasa digunjingkan tetangga! lepaskan ...." teriak bu Kokom sambil merebahkan diri di atas ranjang. Bu Kokom menahan tawanya karena melakukan hal konyol ini.


"Jangan, Ma! Jangan! anak-anak masih membutuhkan Mama! tolong buang silet nya, Ma!" teriak pak Cipto yang tak kalah dramatis. Pria paruh baya itu rela berbuat konyol demi kebahagiaan sang istri.


Drama di antara bu Kokom terus berlanjut. Semakin lama drama yang mereka mainkan semakin serius. Sepasang suami istri tersebut sempat resah karena tak mendengar suara siapapun di luar kamar. Namun, beberapa menit kemudian, sepasang suami istri itu mengembangkan senyumnya kala mendengar suara Shasa yang bergetar saat mengetuk pintu kamar.


"Ma ... Mama! jangan seperti ini lah, Ma! Shasa tuh sayang banget sama Mama! Oke deh, Shasa akan berbakti kepada Mama! Shasa akan mengikuti saran Mama!" ujar Shasa sambil terisak di depan kamar orang tua nya.


"Shasa mau menerima lamaran dari tante Juleha!" akhirnya Shasa memilih pasrah karena tidak mau terjadi apapun kepada bu Kokom.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️ othor sangat berterima kasih jika ada yang bersedia memberikan vote, gift, like dan komentar🌹


...FB: Titik Pujiningdyah || IG: @tie_tik...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2