Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Jangan biarkan dia pergi!


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu begitu saja. Hari-hari bahagia telah dilewati Shasa dan Geral. Mereka menikmati saat-saat berdua dengan melakukan segala hal yang mampu membuat mereka tersenyum. Terkadang kesalahpahaman terjadi di antara keduanya tapi semua itu tidak bertahan lama karena salah satu dari mereka ada yang mengalah.


Kabut putih masih menyelimuti daerah tempat tinggal Geral. Namun, semua itu tidak menghalangi sepasang suami istri yang sedang bersiap berangkat ke rumah produksi cilok. Kali ini mereka berdua memilih naik motor, berbonceng mesra layaknya pasangan muda lainnya.


"Dingin, ya, Ge!" ucap Shasa saat motor yang dikendarai Geral mulai melaju di jalanan komplek. Hal itu membuat Shasa semakin mengeratkan pelukannya.


"Pasti kamu tadi pagi gak mandi, ya?" tebak Geral seraya menatap Shasa sekilas dari kaca spions.


"ih! sembarangan!" Shasa tidak terima disangka tidak mandi oleh Geral, ia mencubit perut itu karena gemas.


"Aduh!" lenguh Geral ketika merasakan sakit di perutnya.


Gelak tawa mengiringi perjalanan mereka hingga sampai di halaman rumah produksi. Keduanya turun dari motor dan mengayun langkah menuju teras. Seperti biasa, segala kesibukan bersama para kang cilok sebentar lagi akan di mulai. Apalagi saat ini gerobak cilok Geral tambah lima karena ada beberapa orang yang ingin bergabung dengannya.


"Kang Pardi ini jualan di mana, Ge? sepertinya, kang Pardi setiap hari ambil ciloknya banyak banget," tanya Shasa saat membaca buku setoran.


"Jualan di depan SMPN Cibiru, Sha," jawab Geral tanpa menatap Shasa. Ia sedang sibuk mengurus paket cilok.


"Oh ya, Ge! Jangan lupa minggu depan kita harus ke rumah Mama, sekalian bawa paket ciloknya juga ya," ucap Shasa, ia hanya ingin mengingatkan perihal penting yang sudah dibahas beberapa hari yang lalu.


Shasa berencana ingin membuka cabang cilok di tempat tinggalnya dulu. Ia sudah menghubungi keluarganya dan mereka tidak keberatan. Namun, sepertinya Geral ragu dengan keputusan Shasa kali ini karena jarak yang lumayan jauh. Geral hanya tidak mau jika rasa ciloknya berbeda karena terlalu lama berada dalam freezer.


"Kamu yakin mau buka cabang di sana? kamu gak malu kalau teman-temanmu tahu, jika suamimu ini CEO cilok? bukan CEO perusahaan besar seperti yang sudah kamu bayangkan dulu?" Kelakar Geral dengan diiringi senyum tipis. Ia sengaja menggoda Shasa dengan mengatakan hal itu.


"Geral! ih! kenapa pakai ngungkit hal itu lagi, sih!" protes Shasa dengan pipi yang bersemu merah karena malu.

__ADS_1


Setelah tahu apa pekerjaan Geral yang sebenarnya, Shasa mencoba menghapus mimpinya—Memiliki suami seorang CEO seperti tokoh dalam novel yang ia tulis. Ia menerima Geral dengan lapang dada meski suaminya itu seorang CEO cilok, begitu yang sering diucapkan Geral saat menggoda Shasa.


Gelak tawa Geral pun terdengar di teras rumah itu kala melihat Shasa mengerucutkan bibirnya karena kesal. Menggoda Shasa seakan menjadi kebiasaan baru Geral saat ini. Tidak lama setelah itu, satu persatu kang cilok mulai berdatangan untuk mengambil dagangan.


"Wah ... makin hari Neng Shasa makin cantik pisan! Bagi resepnya dong Neng, biar istri saya bisa cantik seperti Neng Shasa!" puji salah satu kang cilok yang bernama Budi.


"Gampang itu, Bud! kasih masker tepung tapioka saja biar makin putih!" sahut Geral tanpa mengalihkan pandangan dari buku besarnya.


Shasa hanya tersenyum mendengar jawaban Geral. Ia sudah terbiasa dengan candaan para kang cilok di pagi hari. Hampir setiap hari Shasa ikut bersama Geral ke tempat ini. Alasan yang paling utama adalah untuk menjaga suaminya dari Eren. Wanita itu seperti ular yang sedang mengintai mangsanya. Shasa belum percaya sepenuhnya kepada Eren, jika dia tidak ada maksud untuk mendekati Geral, karena Shasa melihat sendiri jika wanita itu sering mencari perhatian kepada sang suami.


Detik demi detik terus berlalu. Urusan di pagi hari bersama para kang cilok akhirnya selesai. Semua paket cilok yang disiapkan telah habis di bawa pergi bersama gerobaknya. Kini, sepasang suami istri itu duduk santai sambil menikmati camilan yang sudah disiapkan di atas meja.


"Ge, doakan karya-karyaku dipinang penerbit, ya!" ucap Shasa tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop, "katanya doa suami kan manjur," lanjut Shasa.


"hmmm ... aku selalu mendoakanmu, Sha! Kenapa kamu gak nerbitin sendiri aja! nanti aku kasih untuk biayanya," usul Geral dengan pandangan yang tak lepas dari Shasa.


"Oh, gitu! Ya sudah kamu harus berjuang lebih keras lagi karena untuk merasakan hasil maksimal, perjuanganmu pun harus maksimal!" tutur Geral sambil menepuk paha sang istri.


Shasa menutup laptopnya karena ide-ide yang sudah tersusun mendadak kabur entah kemana. Shasa sangat bahagia karena Geral tidak pernah melarang ataupun protes dengan hobi halu nya itu. Namun, Shasa pun harus selalu ingat dengan tugasnya sebagai seorang istri meski harus dikejar update setiap harinya.


Obrolan seputar dunia novel online pun akhirnya menjadi bahan perbincangan sepasang suami istri itu. Shasa menceritakan apa saja yang sudah ia alami selama menulis novel online. Namun, tidak lama setelah itu, obrolan harus terhenti ketika Eren muncul di ambang pintu.


"Ge, tolong dong! kompor di tempatku agak macet!" ujar Eren seraya menatap Geral penuh arti.


"Tinggal kamu bersihkan tungkunya dengan kuas pasti bisa. Mungkin tungkunya kotor karena tidak pernah kamu bersihkan!" ujar Geral seraya menatap Eren sekilas. Jujur saja ia malas mengobrol dengan mantannya itu.

__ADS_1


Eren terus merengek agar Geral mau membantunya. Hal itu membuat Shasa menjadi kesal dan risih mendengar suara manja mantan kekasih suaminya itu.


"Biar aku saja yang melihat, Ge!" Shasa beranjak dari tempatnya karena tidak tahan melihat sikap Eren, "ayo!" ujar Shasa setelah berdiri di sisi Eren.


Shasa melihat jelas gurat kekecewaan yang terlukis di wajah Eren. Mungkinkah Eren memiliki rencana lain untuk mendekati Geral? begitulah yang ada dalam pikiran Shasa.


Shasa mendengus kesal setelah melihat keadaan tempat produksi yang dipakai Eren. Kotor dan berantakan. Shasa mengamati kompor yang dimaksud oleh Eren dan benar apa yang dikatakan oleh Geral, jika tungku kompor tersebut kotor.


"Turunkan pancinya! Terus bersihkan itu tungkunya!" ujar Shasa seraya menatap Eren, "Itu ada kuas di rak!" Shasa menunjuk rak yang tak jauh dari tempat Eren berada.


Eren mendengus kesal mendengar perintah Shasa. Ia tidak suka melihat Shasa menyuruhnya untuk melakukan semua hal yang baru saja diucapkan itu. Bagaimana mungkin ia kuat mengangkat panci besar yang berisi air mendidih itu seorang diri.


"Bantuin napa! aku mana kuat ngangkat panci sebesar itu! mana airnya mendidih lagi! panas tau!" protes Eren.


Shasa menghela napasnya, beberapa kali ia memutar bola matanya kerena kesal dengan Eren. Kali ini mau tidak mau ia harus membantu Eren mengangkat panci berisi air mendidih agar wanita itu segera membersihkan kompornya.


Kedua wanita itu akhirnya bekerja sama mengangkat panci besar tersebut. Mereka berdua berhati-hati saat membawa air mendidih itu menjauh dari kompor. Namun, entah apa sebabnya, tiba-tiba saja Eren melepaskan tangannya dari gagang panci tersebut. Air mendidih itu akhirnya tumpah dilantai dan mengenai kaki Shasa.


Suara teriakan Shasa menggema di sana karena kakinya seperti terbakar api. Kaki itu menjadi merah seketika karena tersiram air mendidih dan cilok yang tumpah karena kecerobohan Eren. Semua orang panik melihat Shasa menangis kesakitan.


"Shasa! Astaga!" teriak Geral setelah melihat kekacauan yang sedang terjadi, "Nov! Tahan wanita ini! Jangan sampai dia pergi sebelum aku kembali dari rumah sakit!" ujar Geral seraya menunjuk Eren dengan jari telunjuknya.


...🌹Selamat membaca🌹...


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

__ADS_1


Hallo, Zheyenk😍 Aku mau ngasih rekomendasi karya keren nih untuk kalian, Yuk kepoin karya dari Penulis Rathcheh dengan judul Petaka karena Perjodohan. Buruan kepoin kuy🌹



__ADS_2