Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Waspada untuk yang berpuasa!


__ADS_3

Detik demi detik terus berlalu. Langit pun telah berubah warna menjadi gelap. Bintang bertaburan menghiasi langit yang gelap karena sang dewi malam menghilang dari peraduan. Suara adzan isyak telah terdengar beberapa menit yang lalu.


"kamu baik-baik ya di rumah mertua," pesan bu Kokom setelah Shasa mencium punggung tangan beliau.


"Pasti Ma," jawab Shasa seraya tersenyum manis.


Yulia sedang tidak ada di rumah saat ini, sejak sore ia berangkat menuju kediaman mertuanya karena di sana ada acara keluarga.


"Hati-hati, Nak! tidak usah ngebut, kalau lelah istirahat dulu!" ucap pak Cipto setelah Geral berpamitan.


Sepasang suami istri itu masuk ke dalam mobil, Shasa melambaikan tangan sebelum mobil yang dikendarai Geral melenggang. Setitik rasa sedih menyelinap di hatinya karena setelah ini akan berjauhan kembali dengan keluarganya. Mungkin rasa rindu kembali menggebu setelah ini.


"Kita langsung pulang atau kamu mau jalan-jalan dulu?" tanya Geral seraya menatap Shasa sekilas.


"Langsung pulang saja, Ge! kasian nanti Mami nungguin kita," ucap Shasa sambil memasang sabuk pengamannya.


Shasa bersedia ikut pulang ke Cibiru setelah Geral berusaha keras membujuknya tadi pagi. Awalnya Shasa ingin tinggal di rumah orang tuanya beberapa hari ke depan. Namun, ia pun tidak tega jika melihat Geral bolak-balik di jalan hanya untuk menjemputnya. Alhasil, Shasa memutuskan untuk ikut pulang ke Cibiru malam ini juga. Oleh-oleh untuk bu Juleha pun sudah siap di bagasi.


"Sha, cewek yang tadi sore datang ke warung siapa sih?" tanya Geral ketika teringat wanita aneh yang datang ke warung mertuanya.


"Oh, itu si dempul Luna! memangnya kenapa?" Shasa menatap Geral dengan sejuta rasa penasaran.


"Gak papa, sih! cuma aneh aja, kenapa dia sepertinya gak suka sama kamu?" Geral pun semakin penasaran.


"Emang gak suka! dia emang biang kerok yang membuat aku dikucilkan teman-teman. Intinya sih karena dia iri aja," jawab Shasa dengan pandangan lurus ke depan.


"udahlah! mending bahas yang lain! aku malas banget bahas si Culun!" ujar Shasa seraya menatap Geral sekilas.


Keheningan mulai terasa di dalam mobil, tidak ada pembahasan apapun lagi setelah Shasa menyatakan keberatan untuk membahas Luna. Suara dengkuran halus mulai terdengar di sana, hal itu membuat Geral berdecak kesal.

__ADS_1


"Dasar kebo! bisa-bisanya dia tidur pulas seperti itu!" ujar Geral saat mengalihkan pandangan ke depan.


Waktu terus berputar tanpa kenal lelah, detik demi detikpun telah berlalu tanpa henti. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya, mobil yang dikendarai Geral sampai di halaman rumah. Sebelum keluar dari mobil, Geral meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Ia harus mengeluarkan koper Shasa terlebih dahulu sebelum membangunkan Shasa.


"Sha! bangun!" ucap Geral setelah membuka pintu yang ada di sisi Shasa.


Shasa mengusap bibirnya setelah bangun dari tidur nyenyaknya. Ia mengedarkan pandangan untuk melihat situasi yang ada disekitar, "wah! tiba-tiba udah sampai aja nih!" gumam Shasa seraya menatap Geral penuh arti.


"Ayo turun!" Geral mengulurkan tangannya untuk membantu Shasa.


"Biar aku yang membawa kopernya!" ucap Shasa ketika melihat Geral meraih gagang koper miliknya.


"kamu bawa ini saja!" ucap Geral setelah mengambil paper bag yang berisi oleh-oleh untuk bu Juleha.


Suasana temaram di ruang tamu menandakan jika bu Juleha sudah istirahat di kamar. Geral dan Shasa menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua. Wajah lelah terlukis jelas di wajah tampan Geral.


"Huh! akhirnya ketemu kasur!" ujar Geral setelah sampai di kamar, ia menghempas diri di atas ranjang.


"Ge! buruan ke kamar mandi dulu!" Shasa menarik jaket yang dipakai Geral.


"emang mau ngapain?" tanya Geral setelah memiringkan tubuhnya dengan kepala yang ditopang dengan tangan.


Shasa berdecak setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Geral. Ia berlalu begitu saja dari hadapan Geral, mengayun langkah menuju almari untuk mencari pakaian ganti.


Brak!


Pintu kamar mandi tertutup keras setelah Shasa masuk ke dalam. Suara gemericik air terdengar di kamar mandi tersebut. Meski hampir tengah malam, Shasa tetap mandi setelah melakukan perjalanan jauh.


"Sha! buruan keluar!" ujar Geral setelah mengetuk pintu beberapa kali, "aku kebelet nih!" lanjut Geral.

__ADS_1


"Tunggu sebentar!" teriak Shasa.


Hasrat ingin buang air kecil benar-benar tidak bisa ditahan lagi. Tanpa permisi, Geral menerobos masuk begitu saja. Matanya terbelalak tatkala melihat pemandangan indah yang tak jauh darinya.


"Geral! ih!" teriak Shasa ketika melihat keberadaan Geral di dalam kamar mandi. Ia segera meraih handuk untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang menggantung tanpa penutup.


Rasa ingin buang air kecil akhirnya bercampur menjadi satu dengan hasrat yang lain. Geral segera menuntaskan rasa yang sudah ada di pucuk monas sebelum menuntaskan hasrat yang lain.


Setelah melihat apa yang dilakukan Geral saat ini. Shasa segera memakai pakaiannya. Ia buru-buru keluar sebelum Geral menerkamnya di kamar mandi. Rasa malu tentu saja masih ada walaupun Shasa pernah menikmati sebuah rasa saat berada di bawah kungkungan sang suami.


"Jangan-jangan setelah ini, Geral mau ngajak bikin dedek bayi lagi!" gumam Shasa saat menuang hand&body di telapak tangannya.


Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka lebar. Geral keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang basah. Handuk putih melingkar di pinggangnya. Shasa beranjak dari depan meja riasnya dan bersiap merebahkan diri di atas ranjang.


"Geral!" teriak Shasa ketika tubuhnya terangkat. Ia tidak bisa memberontak karena kalah tenaga dengan sang suami.


"Bikin cucu untuk mami, yuk!" ucap Geral setelah merebahkan Shasa di ranjang.


Shasa mengalihkan pandangan ke arah lain karena malu untuk menjawab secara langsung. Rona merah bersemu di kedua pipi itu saat Geral mulai melakukan serangan-serangan lembut di tubuh yang terbalut piyama itu.


Kedua bibir itu saling bertautan. Saling memberikan rasa satu sama lain hingga terdengar suara decapan. Sebuah jejak merah terukir indah di leher yang mulus itu. Suara lenguhan manja mulai terdengar dalam kamar yang masih terang.


"Tamu bulananmu sudah pulang 'kan?" Geral memastikan terlebih dahulu bahwa gua garba milik sang istri aman tanpa kendala.


Geral segera melakukan aksinya setelah mendapat kepastian dari Shasa. Malam panjang sepertinya akan dilalui sepasang pengantin baru itu setelah menunda aktifitas ranjang selama beberapa minggu.


Gelora cinta yang menggebu berhasil membakar keduanya. Geral berhasil membuat Shasa berada di puncak nirwana berkali-kali. Ketangguhan dalam permainan tidak bisa diragukan lagi. Keduanya saling bekerja untuk menuntaskan sebuah rasa yang berada di puncaknya.


"Terima kasih, Sayang!" ucap Geral setelah menumpahkan bibit unggulnya di dalam gua garba Shasa.

__ADS_1


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini semoga suka❤️😍🌹


__ADS_2