
"Yul! kenapa dimatiin telfonnya! Mama belum selesai bicara sama Shasa!" protes bu Kokom saat telfon yang ada di genggamannya di raih Yulia secara paksa.
"Ma, lebih baik kita tidak usah memberitahu Shasa siapa sebenarnya Geral. Mungkin Geral punya alasan kenapa dia tidak jujur kepada Shasa tentang semua pekerjaannya," ucap Yulia seraya menatap bu Kokom dan pak Cipto bergantian.
"apa jangan-jangan Shasa bersikap tidak baik kepada Geral?" tebak pak Cipto.
"mungkin saja begitu, Yah! mungkin dia mengungkapkan kepada Geral tentang impian konyolnya terus bisa jadi Geral menilai Shasa itu matre, Yah!" imbuh Yulia.
"Iya juga ya! ya udah lah Mama pasrah aja, semoga Shasa bisa bahagia hidup bersama Geral.
Obrolan keluarga kecil pak Cipto harus terhenti karena tiba-tiba terdengar pintu samping diketuk seseorang. Yulia pun bangkit dari tempat duduknya untuk melihat siapa yang datang di malam ini.
ceklek!
"Burhan!" ujar Yulia setelah melihat pak Lurah baru berdiri di depan pintu samping, "ada apa?" tanya Yulia seraya menatap Burhan dengan intens.
"Punten Teh, Saya datang kemari hanya ingin bertanya alamat rumah Shasa yang baru dimana? soalnya saya besok atau lusa mau ke Cibiru," tanya Burhan seraya tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat semua.
Yulia hanya diam seraya menatap Burhan dengan lekat. Ia sedang menimbang haruskah ia memberitahu alamat rumah Geral kepada Burhan? dan jawabannya adalah iya. Senyum smirk terbit dari bibir Yulia kala ide konyol muncul di kepala nya.
__ADS_1
"Kamu mau masuk atau nunggu di sini?" tanya Yulia setelah memikirkan sesuatu.
"Saya di sini saja, Teh! kalau masuk sungkan sama pak Cipto," ucap Burhan sebelum Yulia masuk ke dalam rumah.
Burhan tersenyum penuh kemenangan ketika usahanya mendapatkan alamat rumah Shasa berhasil. Sampai saat ini ia belum terima jika Shasa menjadi milik orang lain. Luna pun telah ditinggalkannya setelah menghadiri resepsi pernikahan Shasa kala itu.
"Ini alamat rumah suaminya Shasa," ucap Yulia setelah kembali ke pintu samping, ia menyerahkan selembar kertas berisi alamat Geral kepada Burhan.
"Terima kasih, Teh. Saya janji tidak akan macam-macam, Teh! saya hanya ingin melihat neng geulis secara langsung di sana," ucap Burhan dengan binar bahagia yang terpancar dari sorot matanya.
Setelah mendapatkan alamat rumah Shasa, Burhan pamit pulang. Pak Lurah baru itu terlihat bahagia seperti memenangkan undian sabun colek. Hal itu membuat Yulia tergelak setelah Burhan bertolak dari hadapannya.
"itu anak makin kesini makin sleot!" gumam Yulia seraya menutup pintu samping rumahnya.
"Yulia hanya ingin si Burhan melihat langsung bagaimana kondisi Shasa di sana. Biar dia bisa melupakan Shasa secepatnya, Yah!" ucap Yulia seraya menatap pak Cipto penuh arti.
"oh ... jadi begitu!" jawab pak Cipto dan Bu Kokom serempak.
...♦️♦️♦️♦️♦️...
__ADS_1
Sementara itu, di kota lain atau lebih jelasnya di tempat tinggal Geral. Sebuah mobil putih berhenti di halaman rumah tepat ketika jarum jam berada di angka sepuluh malam. Geral segera turun dari mobilnya dan ia pun bergegas masuk ke rumah. Lampu utama sudah dimatikan tanda jika bu Juleha ada di rumah. Sebenarnya Geral penasaran kemanakah ibunya seharian ini tapi ia harus mengurungkan niatnya, mungkin bu Juleha sedang istirahat di kamar.
Geral membuka pintu kamarnya. Ia melihat Shasa tidur di meja rias. Kepalanya diletakkan di meja tersebut atau lebih tepatnya di sisi laptop yang masih menyala.
"Sha ... bangun!" ucap Geral seraya menepuk lengan Shasa beberapa kali. Namun, Shasa tak kunjung membuka kelopak matanya.
Geral mengeluarkan begitu saja lembar kerja Shasa, tak lama setelah itu, Geral menekan icon trun off yang ada di menu laptop. Ia menutup laptop tersebut dan menyimpannya di laci meja.
"Sepertinya dia terlalu lelah!" gumam Geral setelah meletakkan jaketnya di sisi Shasa.
Rasa kasihan muncul dalam hati Geral, ia berusaha mengangkat tubuh Shasa untuk dipindahkan ke ranjang. Geral menatap dalam wajah tenang sang istri, hal itu membuatnya tanpa sadar mengembangkan senyumnya.
"Dasar wanita aneh! matre!" umpat Geral dengan pandangan yang tak lepas dari Shasa.
"Christian ... oh Christian ...." ucap Shasa dengan suara yang lirih, rupanya Shasa sedang mengigau. Mungkin ia sedang bermimpi tinggal bersama Christian seperti di film favoritnya.
Geral kesal karena Shasa sering menyebut nama itu. Baik saat sadar ataupun saat tidur. Ia merasa di duakan walau ia tahu bahwa Christian hanyalah seorang tokoh di salah satu film.
"awas saja kalau ada Christian di dunia nyata!" gerutu Geral setelah membaringkan tubuh Shasa di atas ranjang.
__ADS_1
🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️🌹
...🌷🌷🌷🌷🌷...