Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Jajan ala kenji rike,


__ADS_3

Suara adzan dhuhur mulai terdengar di segala penjuru. Hal itu membuat sepasang suami istri yang sedang tidur pulas itu mengerjapkan mata. Mereka berdua masih mengumpulkan separuh jiwa yang baru kembali dari alam mimpi.


"Sha, aku lapar!" keluh Geral setelah duduk bersandar di headboard ranjang, "Bangun, dong!" Geral mengusap rambut Shasa beberapa kali.


"Kamu mandi atau cuci muka dulu gih! Masa iya baru bangun udah minta makan!" ujar Shasa seraya menggeliatkan tubuhnya.


Geral akhirnya turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi seperti yang dikatakan oleh Shasa. Begitu pun dengan Shasa, setelah puas menggeliat ke kanan dan ke kiri, ia segera menyusul Geral ke kamar mandi.


Beberapa puluh menit kemudian, sepasang suami istri itu turun dari lantai dua. Mereka menuju ruang keluarga untuk menemui keluarganya yang sedang berkumpul di sana. Shasa menghempaskan diri di antar bu Kokom dan Yulia sedang Geral duduk di samping pak Cipto.


"Shasa kangen banget sama Mama!" ujar Shasa setelah memeluk tubuh bu Kokom, ia mendaratkan beberapa kecupan di pipi bu Kokom hingga membuat sang empu risih.


"Shasa! Kamu ini sudah dewasa! Masih saja seperti anak kecil!" protes bu Kokom sambil menjauhkan wajahnya dari Shasa.


"Mama!" Shasa mendengus kesal melihat respon ibu yang dirindukannya itu.


Semua orang yang ada di ruang keluarga tergelak saat melihat Shasa. Geral pun jadi tahu sisi manja sang istri bagaimana. Ia terus mengamati sikap manja sang istri saat bersama ibunya. Sungguh, apa yang dilihat Geral saat ini sangatlah berbeda dengan biasanya.


"Ma, ayo ajak anak-anak makan siang dulu! Sudah waktunya ini!" ujar pak Cipto setelah melihat penunjuk waktu yang ada di ruang keluarga.


Hari ini pak Cipto dan bu Kokom sengaja libur bekerja demi menyambut kedatangan anak dan menantunya. Mereka menutup warung dan bengkel, tidak perduli walau banyak pelanggan yang harus balik arah karena pemilik bengkel dan warung itu sedang cuti.


Berbagai macam makanan kesukaan Shasa tersaji di atas meja makan sampai Shasa bingung harus memilih yang mana. Hampir semua jenis makanan yang tersaji memenuhi piring Shasa.


"Ya ampun, Sha! kamu rakus sekali!" Yulia berseru ketika melihat porsi yang diambil Shasa.

__ADS_1


Bu Kokom menepuk keningnya saat mengalihkan pandangan ke arah Shasa. Beliau menggelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan kelakuan aneh putri bungsunya itu.


"Apakah Shasa makan sebanyak itu saat di rumahmu, Nak?" tanya bu Kokom setelah mengalihkan pandangan ke arah Geral.


Bibir itu pun tertarik ke dalam setelah mendengar pertanyaan bu Kokom. Geral menatap istrinya sekilas dan setelah itu ia kembali menatap bu Kokom. Tentunya dengan senyum yang masih mengembang.


"Kalau di rumah makannya sedikit, Ma! Emmm ... katanya dia sedang diet, Ma," jawab Geral dengan pandangan yang beralih kepada Shasa.


"Alah! Gak mungkin! Dia pasti sok jual mahal tuh!' sahut Yulia dan setelah itu ia menjulurkan lidahnya ke arah Shasa.


Shasa mengerucutkan bibirnya seraya menatap pak Cipto. Hanya Ayahnya saja yang tidak membully nya saat ini, "Ayah! bantu Shasa, dong! Mereka semua jahat!" ujar Shasa dengan manja.


Pak Cipto tergelak setelah mendengar aduan sang putri. Beliau sampai tidak berhenti tertawa karena gurauan yang terjadi di meja makan. Semua inilah yang membuat pak Cipto merindukan kedua anaknya berkumpul.


"Sudah ... sudah! Mari kita makan siang karena takutnya nanti keburu dingin makanannya," ucap pak Cipto, "silahkan makan, Nak Geral! Anggap di rumah sendiri, jangan sungkan kalau mau nambah," ucap pak Cipto seraya menatap menantunya itu.


Siluet jingga terlukis dengan indahnya di cakrawala barat. Semilir angin di sore hari menemani kebahagian sepasang suami istri yang sedang menghabiskan waktu berkeliling kampung. Motor matic pak Cipto menjadi saksi kebahagiaan Shasa saat ini.


"Ge, coba lihat di sana!" ucap Shasa sambil menunjuk arah taman bermain.


"Kita pernah main ayunan di sana waktu itu," ucap Shasa saat motor yang dikendarai Geral melewati taman bermain.


"Hmmm ... itu saat kamu pergi dari rumah!" ujar Geral setelah mengalihkan pandangan ke samping untuk sekilas.


Geral mengarahkan stang motor ke kiri. Mereka masuk gang untuk mencari penjual makanan yang biasa buka lapak tidak jauh dari gedung Madrasah. Sore ini tiba-tiba saja Shasa ingin membeli sosis bakar yang biasa ada di sana.

__ADS_1


"Itu bukan lapaknya, Sha?" tanya Geral setelah dekat dengan gerobak yang sedang di kelilingi para bocah yang sedang bermain.


Geral menghentikan motor tidak jauh dari gerobak sosis bakar tersebut. Ia turun dari motor dan mengekor dibelakang Shasa untuk memilih jajanan kaki lima. Rupanya, di gerobak itu tidak hanya tersedia sosis bakar, beberapa frozen food sebangsa sosis pun ada di sana.


"Pak, minta piringnya, saya mau memilih sosis!" ucap Shasa seraya membungkukkan tubuhnya agar bisa menatap pedagang sosis tersebut.


"Ge, kamu mau yang mana?" tanya Shasa tanpa menatap Geral.


Hampir semua jenis dipesan oleh Geral, nyatanya satu piring tidak cukup untuk menampung pesanan mereka. Beberapa bocah yang sedang antri di sana pun menatap heran sepasang suami istri itu.


"Teh ... Jajannya banyak sekali atuh!" celetuk salah satu gadis kecil yang berdiri di samping Shasa.


"Iya, nih! Teteh lagi pengen jajan!" jawab Shasa seraya tersenyum, "Kamu Silvi anaknya Ceu Ella ya?" tanya Shasa setelah mengamati wajah manis gadis kecil tersebut.


"Sipp!! Teteh benar!" Gadis kecil tersebut mengacungkan jempolnya seraya tersenyum manis, "Teh, kata Bunda dan teman-temannya, Teteh sekarang jadi orang kaya ya, Teh? Jadi kenji rike gitu ya, Teh?" tanya Silvi dengan polosnya.


Shasa tertegun mendengar pertanyaan putri ceu Ella itu. Bagaimana bisa gadis kecil berusia sepuluh tahun itu bertanya seperti itu. Mungkinkah yang dikatakan Yulia memang benar—Jika dirinya menjadi trending topik? Entahlah, yang pasti Shasa tidak bahagia jika Geral disebut seorang Crazy rich. Memang benar, jika dulu cita-citanya adalah menjadi istri seorang CEO atau menjadi Nyonya muda di keluarga konglomerat. Namun, setelah hidup bersama Geral selama beberapa bulan ini, ia tidak mempermasalahkan hal itu lagi, ia menerima jika suaminya hanya pemilik usaha cilok atau Geral biasa menyebut dirinya sebagai seorang CEO cilok.


"Bukan, Sayang! Suami Teteh bukan Crazy rich!" Shasa menggelengkan kepalanya pelan.


"Teteh bohong, ya! Cie ... Teh Shasa malu-malu! Suami Teh Shasa mah kasep pisan! Ayah Saya mah lewat!" ujar Silvi dengan polosnya.


Geral mengulum senyum mendengar perbincangan sang istri dengan anak tetangganya itu. Geral tidak ambil pusing meskipun Shasa tidak mengakuinya sebagai orang kaya. Geral suka melihat istrinya lebih apa adanya seperti saat ini dibandingkan saat awal menikah. Geral membungkukkan tubuh di hadapan gadis kecil itu lalu ia jongkok sambil mengusap lengan Silvi.


"Berhubung kamu sudah mengakui ketampanan saya, maka ... kamu boleh jajan gratis di sini! Bila perlu panggil teman-temanmu kemari! Saya yang akan mentraktir, oke?" ucap Geral yang berhasil membuat Shasa membelalakkan mata.

__ADS_1


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️ Kuy yang mau ditraktir Geral, segera datang kesini!😍🌹


...🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2