Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
kapan kalian program hamil?


__ADS_3

"Geral! Ge!" teriak bu Juleha setelah mengetuk pintu kamar Geral beberapa kali. Amarah yang besar terlukis jelas di wajah ibu satu anak itu.


Bu Juleha baru pulang dua hari yang lalu dari liburan di Bali. Pagi ini beliau harus ke rumah produksi cilok untuk menggantikan Geral. Tadi malam Shasa memberi kabar jika Geral tidak enak badan. Namun, sepertinya ada hal lain yang membuat bu Juleha harus membangunkan putranya seperi saat ini.


"Duh! padahal hampir jam sepuluh pagi tapi kenapa mereka berdua belum bangun juga, sih!" gerutu bu Juleha saat menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan.


Tok ... tok ... tok ... tok ....


"Shasa ... Geral ... Shaaa ... Geral!" teriak bu Juleha lagi. Beliau rasanya tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Geral secepatnya.


Setelah berdiri dan mengetuk pintu terus menerus, akhirnya, pintu kamar tersebut terbuka. Geral menyembulkan kepalanya, beberapa kali ia mengerjapkan mata sebelum menyadari jika ada bu Juleha di hadapannya.


"Mami ingin bicara! Cepat bersihkan dirimu dan temui Mami di balkon!" ujar bu Juleha sebelum berlalu dari hadapannya.


Setelah bu Juleha berlalu dari depan kamarnya, Geral menutup pintu kamarnya kembali. Ia berjalan menuju kamar mandi seraya melepas kaos dan boxer yang menutupi tubuhnya.


"Ada apa, Ge?" tanya Shasa setelah Geral mengunci pintu kamar mandi. Shasa berdiri di bawah guyuran Shower yang mengalir deras.


"Katanya Mami ingin bicara dengan kita," jawab Geral setelah duduk di atas closet yang tertutup, "Ayo kita lanjutkan lagi!" ucap Geral setelah menepuk pahanya, sebuah kode kepada Shasa agar melakukan sesuatu hal.


Permainan yang sempat tertunda karena teriakan bu Juleha, akhirnya kembali berlanjut. Suara-suara erangan manja saling bersahutan kala puncak sebuah rasa itu hadir menggetarkan jiwa. Keduanya saling berpelukan untuk menikmati sisa-sisa getaran yang masih ada.


"Lebih baik kita mandi sekarang! daripada digedor Mami lagi," ucap Geral setelah mengecup bibir sang istri.

__ADS_1


Shasa terkekeh setelah mendengar ucapan Geral, ia segera turun dari tempatnya berpacu dan berjalan menuju shower yang masih menyala. Mereka berduapun buru-buru membersihkan diri.


"Ya ampun! Aku gak sempat mengeringkan rambut!" Shasa bergumam saat menyisir rambutnya.


Setelah bersiap beberapa menit, akhirnya sepasang suami istri itu keluar dari kamar. Mereka berjalan menuju balkon untuk menemui bu Juleha, mungkin istri pak Rojali itu semakin kesal karena menunggu terlalu lama.


"Oh, jadi kalian tadi belum selesai tanam bibit!" ujar bu Juleha setelah anak dan menantunya duduk di kursi yang ada di sisi kira dan kanannya.


Shasa menjadi kikuk setelah mendengar ucapan sang mertua. Rambutnya yang basah seakan menjadi jawaban atas penyataan bu Juleha. Ia hanya tersenyum manis untuk menutupi rasa malunya.


"Jadi, apa yang membuat Mami marah? apa pak Rojali tidak membahagiakan Mami? apa beliau mulai bersikap kurang ajar sama Mami?" cecar Geral hingga membuat bu Juleha berdecak.


"Kenapa Eren bisa bekerja di rumah produksi? Apa kamu sudah gak waras, Ge? Menerima wanita itu lagi dan membiarkan dia berkeliaran di sekitarmu?" tanya bu Juleha yang membuat Geral menatap Shasa.


Shasa hanya mengedikkan bahunya, sebuah kode jika dia tidak mau ikut campur masalah ini. Toh, Geral menerima mantan kekasihnya itu tanpa berunding terlebih dahulu.


"Geral hanya ingin tahu, apa tujuan Eren datang mendekat ke keluarga kita lagi, Mi," jawab Geral dengan santai.


"Kamu ini sudah gila, Ge! Bagaimana kalau dia mengganggu rumah tangga kalian? Mami tidak mau berurusan dengan wanita itu lagi!" ujar bu Juleha dengan pandangan yang tak lepas dari wajah sang putra.


Tadi pagi bu Juleha shock karena melihat kehadiran Eren di rumah produksi. Beliau sempat tidak percaya jika mantan calon menantunya itu bekerja di tempat usaha Geral. Namun, setelah Novi menjelaskan kapan dan apa saja yang dikerjakan Eren di sana bu Juleha mulai percaya jika yang beliau lihat benar-benar Eren. Jujur saja, bu Juleha sangatlah membenci Eren karena semua hal yang audah ia lalukan kepada putranya beberapa waktu lalu.


"Mami harap ucapanmu bisa dipercaya! Ingat ya, Ge! Mami tidak akan tinggal diam jika sampai kamu menyakiti Shasa atau kamu sampai berani bermain-main dengan Eren lagi!" Bu Juleha akhirnya mengancam putranya sendiri.

__ADS_1


Obrolan terus berlanjut, mereka bertiga membahas segala hal yang belum diketahui oleh bu Juleha. Namun, pembahasan itu tidak berlangsung lama karena bu Juleha mengalihkan topik pembahasan dengan hal lain.


"Apa kalian belum ada rencana program hamil?" tanya bu Juleha sambil menatap anak dan menantunya bergantian.


"nanti lah, Mi! Geral masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan Shasa," jawab Geral setelah menatap sang istri.


Bu Juleha harus mengakhiri pembahasannya karena mendapat telfon dari pak Rojali. Beliau beranjak dari tempat duduknya setelah pamit hanya dengan sebuah isyarat.


Shasa menghela napasnya setelah mendengar pertanyaan dari bu Juleha. Ia sendiri belum ada pikiran ke sana karena mempunyai anak harus mempunyai mental yang kuat dan hal-hal yang lain.


"Ge, bagaimana menurutmu? Apakah kita harus ke dokter untuk program hamil?" tanya Shasa setelah terdiam beberapa saat.


"Gak usah, Sha! nanti saja ke dokter, setelah satu tahun menikah dan kamu belum hamil," jawab Geral santai, ia menyandarkan tubuhnya di kursi.


Mungkin apa yang diucapkan Geral ada benarnya, mereka butuh waktu berdua agar bisa merasakan perasaan apa yang ada dalam hati masing-masing. Perasaan aneh terkadang masih menyelimuti hati dan pikiran Shasa akhir-akhir ini.


"Kita tidak udah ke dokter Sha, lebih baik kita bikin sesering mungkin! Nanti pasti bisa cepat jadi adonan geral juniornya!" ujar Geral hingga membuat Shasa membelalakkan mata.


...🌹Selamat membaca🌹...


βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–


Hallo, Zheyenk... aku ada rekomendasi karya keren dari author Haoyi dengan judul The Day I Become a God. Kuy buruan kepoin karya keren ini biar gak penasaran dong😎😎

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2