Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Nafkah!


__ADS_3

Dering ponsel berkali-kali membuat Shasa terpaksa membuka kelopak matanya. Tanpa melihat nama yang ada di layar ponsel, Shasa segera menggeser icon hijau. Sekuat tenaga ia berusaha menahan rasa kantuk yang tak tertahankan.


"Hallo ...." sapa Shasa dengan suara yang lirih dan serak.


"kamu belum bangun, Sha?" tanya seseorang yang ada di sebrang sana.


Shasa menaikkan satu alisnya ketika mendengar suara yang familiar di telinga. Ia segera mengalihkan pandangan ke samping untuk memastikan keberadaan Geral. Kosong, tempat yang ada di sisinya tidak berpenghuni.


"Sha ... Shasa!"


Shasa terkesiap setelah mendengar suara Geral yang memanggil namanya. Ia kembali mendekatkan ponsel itu di telinga untuk mendengar suara sang suami yang sudah pergi meninggalkannya di kamar seorang diri.


"Ge, kamu di mana?" tanya Shasa seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"aku di rumah produksi! aku sengaja tidak membangunkanmu, Sha," ucap Geral, "kita beralih ke panggilan video saja!" lanjut Geral hingga membuat Shasa menjauhkan ponselnya, ia segera menggeser icon video yang ada di layar ponselnya.


"jadi, kamu baru bangun?" tanya Geral saat panggilan video tersebut terhubung.


"Iya!" jawab Shasa seraya menatap wajah yang ada di layar ponsel itu, "lagian kenapa kamu gak ngebangunin aku, sih?" tanya Shasa.


"Aku tadi buru-buru, aku tidak tega membangunkanmu, Sha!" jawab Geral, "Ya sudah sekarang buruan mandi terus sarapan!" ucap Geral dengan diiringi senyum yang sangat manis.


Tidak lama setelah itu, panggilan video akhirnya berakhir. Shasa memakai piyamanya sebelum turun dari ranjang, bersiap menuju kamar mandi. Namun, ia harus mengurungkan niatnya karena melihat segepok uang di atas nakas beserta selembar kertas yang ada di atas uang tersebut.


Ini uang jajan untukmu, pakailah sesuka hatimu. Ini bukan uang kebutuhan rumah tapi uang untuk kebutuhanmu.


Suamimu yang paling tampan

__ADS_1


Geraldi


Shasa mengerucutkan bibirnya setelah membaca surat yang ditulis oleh Geral. Bukan seperti ini yang Shasa harapkan, ia ingin Geral memberikan nafkah untuknya secara langsung, karena jika seperti ini caranya, ia jadi teringat wanita panggilan—selesai berhubungan langsung bayar.


"Dasar suami gak ada akhlaq!" gerutu Shasa. Ia meraih uang itu karena penasaran. Akhirnya, Shasa menghitung uang tersebut dan matanya pun terbelalak setelah mengetahui jumlahnya.


"Hah! lima juta!" gumam Shasa sambil menggenggam uang tersebut.


Lima juta bagi Shasa adalah uang yang sangat banyak jika untuk sekedar jajan. Uang pemberian dari bu Juleha kemarin pun masih tersimpan rapi di dalam dompetnya. Jika uang ini harus masuk ke dalam dompetnya juga, maka ... bisa dipastikan dompet berwarna hitam itu akan mengalami sesak napas akut.


"aku harus beli dompet yang lebih besar, nih!" gumam Shasa seraya menatap uang yang ada di dalam genggamannya.


Shasa meraih ponselnya untuk mengirim pesan kepada Geral. Ia harus pamit sebelum keluar dari rumah—begitu pesan yang pernah disampaikan bu Kokom dulu. Jari jemari itu bergerak lincah di atas layar HP tersebut. Pesan pun sudah terkirim, tinggal menunggu jawaban dari Geral.


Tidak lama setelah itu, Shasa kembali menatap layar HP nya setelah ada notifikasi pesan yang masuk. Ia mengerucutkan bibirnya lagi setelah membaca pesan tersebut.


Jangan pergi kemana-mana sebelum aku pulang! aku akan mengantarmu nanti.


Waktu terus berputar tanpa kenal lelah. Matahari sudah berada di langit bagian barat. Angin berhembus mesra tuk menemani cuaca panas yang sedang melanda. Namun, semua itu tidak bisa membuat semangat dua sejoli yang sedang berjalan mengelilingi mall itu padam begitu saja.


"Kamu yakin ini membeli dompet ini?" tanya Geral setelah Shasa menunjukkan dompet pilihannya.


"Iya, ini bagus dan harganya lumayan murah, cocok lah!" jawab Shasa seraya membolak-balikkan dompet pilihannya itu.


Geral meraih dompet yang ada dalam genggaman Shasa, lalu ia meletakkan dompet tersebut kembali di tempatnya. Tanpa banyak bicara, Geral menuntun Shasa ke tempat yang lain—di mana tempat barang-barang bermerk dengan kualitas bagus. Geral sendiri yang memilihkan dompet untuk Shasa, pilihannya jatuh pada warna cokelat.


"Kamu suka yang ini?" tanya Geral seraya menyerahkan dompet tersebut kepada Shasa.

__ADS_1


"Ge! ini terlalu mahal! aku gak suka!" bisik Shasa setelah melihat harga yang tertera di sana.


"Kita beli yang di sana saja lah!" Shasa menunjuk tempat sebelumnya.


Geral berjalan menuju kasir tanpa banyak bertanya lagi. Ia meninggalkan Shasa yang sedang sibuk memilih dompet lain yang sesuai dengan isi dompetnya saat ini.


"ayo pulang! ini dompetmu!" ucap Geral saat menepuk bahu Shasa. Ia menyerahkan paper bag yang ada di genggamannya kepada Shasa.


"Geral!" Shasa mengerucutkan bibirnya saat menerima paper bag itu.


Mereka berdua pada akhirnya keluar dari toko tersebut, melanjutkan jalan-jalan ke tempat lain untuk membeli apapun yang diinginkan Shasa saat ini. Dugaan Geral tentang Shasa ternyata tidak sepenuhnya benar. Sebelum berangkat Geral menebak apa saja yang akan diborong sang istri tapi pada kenyataannya, saat ini dirinya sedang mengikuti Shasa masuk ke toko buku. Geral tidak protes sedikitpun mengikuti Shasa memilih buku yang dia inginkan.


"Ge, menurutmu kisah poligami bagus gak untuk dibaca?" tanya Shasa setelah mengambil novel best seller tentang poligami.


"Aku tidak tahu, Sha! Aku tidak suka kisah cinta segitiga atau poligami dan apapun itu yang berbagi cinta," jawab Geral seraya menatap Shasa.


"Suami idaman!" Shasa tersenyum manis seraya mengusap rahang Geral dengan lembut.


Detik demi detik telah berlalu. Hampir satu jam Shasa mencari novel yang dia inginkan dan kini Geral pun berdiri di depan kasir untuk membayar sepuluh novel pilihan sang istri.


"Ge, seharusnya kamu tidak usah membayar yang aku beli! aku kan udah kamu kasih uang, jadi biarkan aku menggunakan uang pemberianmu tadi!" protes Shasa setelah keluar dari toko buku.


"Pakailah uangmu saat kamu belanja sendiri, jika kamu belanja bersamaku, aku yang akan membayarnya," ucap Geral seraya menatap Shasa sekilas dengan senyum tipis yang mengembang di bibirnya.


Tentu saja, jawaban Geral membuat Shasa tersenyum penuh arti. Ia bahagia sekaligus khawatir—takut semua ini hanya manis di awal saja. Namun, Shasa pun tidak mau ambil pusing. Ia ingin menikmati saat-saat indah bersama sang suami tanpa memikirkan apa yang terjadi di masa yang akan datang.


"Terima kasih, Ge!" ucap Shasa dengan diiringi senyum manis. Ia bergelanyut manja di lengan Geral selama berjalan menyusuri mall tersebut.

__ADS_1


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️ maap ye upnya telat🙏harap maklum kalau hari minggu othor suka mlehoy😂BTW jangan lupa siapkan vote kalian besok untuk Mas geral dan mbak Shasa yak😍 lope you , Zheyenk😘


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2