
"Makasih Kasep udah mentraktir kami semua," ucap salah satu ibu-ibu yang bersiap pergi membawa kantong berisi sosis bakar dan sejenisnya.
Shasa muak melihat beberapa ibu-ibu muda yang genit kepada Geral. Berawal dari mentraktir Silvi dan teman-teman bermainnya, semua orang malah ingin ikut makan sosis bakar gratis di lapak ini. Geral pun tidak keberatan akan hal itu. Ia justru mempersilahkan siapapun yang ingin makan gratis di lapak pak Udin ini.
Senja telah lewat sejak beberapa puluh menit yang lalu. Langit pun berubah menjadi gelap gulita tanpa adanya hiasan bintang, bahkan bulan pun enggan menampakkan keindahannya.
"Setelah ini aku mau jalan-jalan! Kamu harus mengganti waktu yang sudah aku habiskan di sini untuk melihat ibu-ibu genit tadi!" protes Shasa setelah Geral menghabiskan satu porsi sosis bakar yang baru selesai disiapkan.
"Iya ... iya! Setelah ini kita berangkat," jawab Geral dengan santainya.
Geral pun beranjak dari tempat duduknya, ia menemui pak Udin untuk membayar semua tagihan, "Totalnya brapa, Pak?" tanya Geral setelah berdiri di samping pak Udin.
"Semuanya delapan ratus tujuh puluh ribu," jawab pak Udin dengan di iringi senyum penuh kemenangan. Beliau bahagia karena barang dagangannya habis dalam kurun waktu beberapa jam saja.
Setelah pak Udin menyebutkan jumlah tagihan yang harus dibayar, Geral mengeluarkan dompetnya. Ia mengambil sembilan lembar rupiah bergambar bapak Proklamator, "kembaliannya untuk Bapak saja," ucap Geral sebelum pergi dari samping pak Udin. Ia menghampiri Shasa yang sedang mengerucutkan bibirnya karena kesal setelah melihat drama ibu-ibu yang meresahkan.
"Ayo kita pulang!" ucap Geral sebelum berjalan menuju motor yang terparkir di depan gerbang madrasah.
Shasa segera bangkit dari tempat duduknya. Ia mengekor di belakang Geral dengan langkah gontai. Entah mengapa tubuhnya tiba-tiba saja terasa lemas. Namun, di saat Shasa akan naik motor di balik tubuh sang suami, terdengar suara klakson motor beberapa kali. Shasa pun menghela napasnya kasar setelah melihat siapa yang datang.
Rupanya berita jajan gratis dari Crazy rich Cibiru telah sampai di telinga musuh bebuyutan Shasa. Buktinya ... Gadis bernama Luna itu langsung sidak ke lapak pak Udin. Tidak hanya sendiri, tapi Luna datang bersama Burhan.
"Oh, jadi ini toh, orang yang lagi trending petang ini!" cibir Luna setelah Burhan menghentikan motornya tepat di sisi motor yang ditumpangi Geral.
__ADS_1
"Heh! Orang kaya baru! Pengen disanjung banyak orang, ya, sampai bagi-bagi jajan gratis untuk semua orang!" ujar Luna seraya menatap Shasa sinis.
Jujur saja, saat ini Shasa tidak ada mood untuk meladeni Luna. Ia hanya menatap musuh bebuyutannya itu tanpa berkomentar apapun. Mungkin ini jauh lebih baik karena energinya tidak akan terkuras habis untuk hal sangat tidak penting.
Geral menautkan kedua alisnya setelah mendengar cibiran dari wanita aneh yang ada di sisi sang istri. Geral menatap tajam ke arah Burhan, entah mengapa hatinya mendadak tidak suka melihat Burhan yang sedang mencuri pandang ke arah sang istri.
"Jangan bangga dulu jadi orang kaya! Sekarang banyak loh Crazy rich yang ditangkap polisi karena penipuan!" ujar Luna dengan sudut bibir yang terangkat sebelah.
Entah mengapa kalimat yang diucapkan Luna berhasil menusuk hati Shasa. Ia resah karena hal itu. Rasa takut kembali hadir dalam hatinya. Ia menatap Geral sekilas lewat pantulan kaca spion.
"Jadi tujuanmu datang menemuiku di sini hanya untuk itu, Lun?" tanya Shasa tanpa ekspresi.
"Burhan! Bawa pergi calon istrimu ini! Aku muak mendengar suaranya!" ujar Shasa setelah mengalihkan pandangan ke arah Burhan.
"Maaf Neng Geulis, saya tadi menemui Eneng hanya ingin memberikan undangan, tidak lebih dari itu!" ucap Burhan seraya menatap Shasa. Ia tidak sadar jika menyebut Shasa dengan panggilan 'Neng geulis' di hadapan Luna dan Geral.
"Tenang saja, aku pasti hadir di pesta pernikahan kalian!" ucap Shasa setelah menerima undangan dari Burhan, "seharusnya kamu mencari wanita yang lebih baik, Bubur! Kamu itu kepala desa di sini, jadi ... tidak pantas mempunyai istri tukang gosip seperti si Culun ini! Bisa hancur reputasimu nanti!" sarkas Shasa setelah beralih menatap Luna.
Geral segera menghidupkan mesin motor setelah mendapatkan kode dari Shasa agar segera pergi dari tempat ini. Shasa tersenyum puas saat melihat wajah merah musuh bebuyutannya itu. Ia harus pergi sebelum musuh bebuyutannya itu meledakkan kata-kata unfaedah yang membuat hati terluka.
"Dasar OKB norak!" teriak Luna kala motor yang dikendarai Geral mulai melaju. Shasa hanya menjulurkan lidah setelah mendengar umpatan dari Luna.
Geral tidak habis pikir bagaimana bisa ada spesies manusia seperti Luna. Ia heran saja kenapa tetangga istrinya itu suka julid dan tidak tahu malu, memaki Shasa di depan matanya.
__ADS_1
"Sha, kita harus datang ke pernikahan mereka! Aku penasaran bagaimana resepsi pernikahan wanita sombong itu!" ujar Geral dengan pandangan lurus ke depan. Ia fokus mengendarai motor mertuanya agar tidak oleng.
"Pasti! Aku harus tampil yang terbaik! Aku tidak mau kalah dengan si Culun!" ucap Shasa sambil mengeratkan tangannya di pinggang Geral.
Tidak sampai lima menit. Akhirnya, sepasang suami istri itu sampai di rumah. Mereka membawa beberapa bungkus sosis bakar dan beberapa jenis makanan lainnya. Ketiga anggota keluarganya pun penasaran, kemana kah Shasa dan Geral pergi.
Setelah berbasa-basi sebentar di ruang keluarga. Shasa dan Geral pamit ke kamar. Mereka menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai dua, di mana kamar mereka berada.
"Buruan ganti baju! kita berangkat sekarang!" ucap Geral setelah mengunci pintu kamar.
Shasa menghempaskan diri di atas ranjang. Ia menggeliat kan tubuh ke kiri dan ke kanan. Entah mengapa malam ini tiba-tiba saja rasa lelah menyerangnya hingga membuat malas melakukan apapun.
"Besok saja jalan-jalannya, aku lelah, Ge!" ucap Shasa dengan suara yang lirih. Ia menatap Geral yang sedang membuka koper, entah, suaminya itu sedang mencari apa.
Laptop, itulah benda yang dikeluarkan dari koper. Geral membawa laptopnya ke atas ranjang. Ia duduk bersandar di sisi Shasa. Tangannya dengan lincah bergerak di atas laptop tersebut. Sesekali Geral melirik Shasa, pria itu sepertinya tidak nyaman karena diperhatikan oleh Shasa.
"Katanya capek! Udah kamu bobo aja dulu! Jangan menungguku kerja," ucap Geral dengan tangan yang pindah di kepala Shasa. Ia mengusap rambut hitam itu dengan penuh rasa.
Shasa menutup kelopak matanya, ia harus pura-pura tidur jika ingin mengetahui apa yang akan dilakukan suaminya. Ia mengubah posisi menjadi membelakangi Geral agar suaminya itu tidak curiga.
Beberapa menit kemudian, ponsel Geral berdering. Shasa mulai memasang telinga agar bisa mendengar pembicaraan sang suami. Ia meremas guling yang ada dalam dekapannya saat mendengar obrolan sang suami yang mengusik pikirannya.
"Ya Tuhan, apa mungkin suamiku penipu! Kenapa dia membahas investasi? Tidak mungkin jika usaha cilok ada investornya," gumam Shasa dalam hati.
__ADS_1
🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka❤️😍 Maaf ya othor udah mulai sibuk prepare lebaran🙏🙏🙏Selow dulu zheyenk🤣
...🌹🌹🌹🌹...