Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Novel Online!


__ADS_3

Memiliki keluarga bahagia adalah impian semua orang. Seperti keluarga pak Cipto dan bu Kokom, meski tak bergelimang harta tapi kehangatan selalu terasa dalam keluarga tersebut. Terkadang perdebatan di antara Yulia dan Shasa menjadi warna dalam keluarga kecil itu.


Seperti pagi ini, setelah drama wortel, Burhan dan TKW, semua kembali ke aktifitas masing-masing. Pak Cipto pergi membuka bengkel tambal ban nya, bu Kokom mengaduk adonan bakwan sedangkan Yulia menata dagangan di warung. Lalu di mana kah Shasa saat ini? tentu saja dia ada di depan kamar mandi—bernyanyi sambil mengucek pakaian kotor yang sudah direndam di bak besar.


So love me like you do, lo-lo-love me like you do


Love me like you do, lo-lo-love me like you do


Touch me like you do, to-to-touch me like you do


What are you waiting for?


Shasa bebas mengeluarkan suara karena rumahnya jauh dari tetangga tapi dekat dengan bahu jalan raya. Suaranya yang tak seberapa merdu itu bisa membuat gendang telinga menjadi bermasalah, oleh sebab itu jika Shasa sedang mencuci, semua anggota keluarganya keluar dari rumah demi keamanan bersama.


"oke! tugas negara telah selesai!" ujar Shasa setelah membilas semua cuciannya.


Shasa membuka tutup pengering yang ada di mesin cuci. Satu persatu pakaian yang basah telah dimasukkan Shasa ke dalam pengering. Entah mengapa, meskipun mempunyai mesin cuci di rumah, bu Kokom melarang Shasa menggiling cucian dengan mesin cuci. Alasannya sedikit tak masuk akal—kurang bersih, begitu tutur bu Kokom saat pertama kali membeli mesin cuci.


Satu persatu tugas Shasa telah selesai. Kini akhirnya ia bisa duduk santai di ruang keluarga. Beberapa toples camilan sudah disiapkan Shasa sebagai teman menghayal nya setelah ini.


"oke, waktunya kejar deadline!" ucap Shasa setelah layar laptop itu menyala.


Hampir enam bulan Shasa terjun ke dalam dunia novel online. Setelah banyak membaca novel cetak yang biasa dibeli Shasa di loakan alias novel second, akhirnya Shasa mencoba untuk membaca di aplikasi novel online. Dulu ia hanya menjadi pembaca saja tapi pada akhirnya ia mencoba menulis dan akhirnya ketagihan.


Jangan tanya berapa penghasilan Shasa selama ini, tentu saja kehaluannya belum mendapatkan hasil. Meski begitu semangatnya tak pernah pudar, ia tetap menyalurkan khayalannya lewat sebuah tulisan.


"Sha, lihatlah aku bawa apa!" tiba-tiba Yulia muncul dari ruang tamu seraya membawa kotak yang dibungkus dengan kresek hitam.

__ADS_1


"Wah ...paketnya sudah datang!" mata Shasa berbinar setelah melihat kotak yang ada di tangan Yulia.


Kedua bersaudara itu membuka paket yang baru saja datang itu. Yulia sangat antusias ketika paket skincare terkenal sudah berjajar rapi di meja yang ada di ruang keluarga.


"Sha, kita cobain maskernya yuk!" ajak Yulia setelah membuka bungkus masker wajah yang sedang viral.


"tapi aku belum selesai ngetik, Kak!" ujar Shasa.


"udahlah! nanti aja ngetiknya! ingat ... kecantikan wajah itu nomor satu! kamu mau wajahmu gelap seperti pantat panci!" cerocos Yulia tanpa menatap Shasa, ia sibuk membaca cara pemakaian masker wajah itu.


Tanpa berpikir lebih lama lagi, akhirnya Shasa berdiri dan mengikuti Yulia masuk ke dalam kamar. Keduanya bekerja sama mengoles masker tersebut bergantian di wajah masing-masing.


"Aku baru sadar jika wajahmu cantik juga, Sha!" ujar Yulia saat membantu Shasa mengoles masker di wajahnya.


"Dari dulu kemana aja kok baru sadar jika adikmu ini cantik jelita tiada tara!" jawab Shasa seraya menatap Yulia.


"Eh, tapi masih cantikan aku lah!" kilah Yulia yang tak mau kalah dengan Shasa.


Yulia berdiri dari ranjang. Ia berdiri di depan meja rias seraya menguncir rambut panjangnya sebelum memakai masker, tak lupa ia memakai bandana agar rambutnya tidak berterbangan saat memakai masker.


"Eh, Sha! otakmu itu jangan terlalu sering berhayal! sesekali realistis dong!" protes Yulia setelah kembali ke hadapan Shasa,


"Coba kamu pikir, di dunia nyata ini mana ada pemilik perusahaan besar yang masih muda, bujang, tampan, bule seperti kehaluanmu! yang ada tuh mereka pasti udah seumuran Ayah! contohnya si botak yang pernah nawar kamu itu!" cerocos Yulia.


Shasa membelalakkan mata setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Yulia. Bisa-bisanya kakaknya itu mengingatkan memorinya dengan si botak.


"Jangan sebut nama si botak lagi!" Shasa memperingatkan Yulia dengan mata yang terbelalak. Tangannya sibuk mengoles masker di wajah cantik Yulia.

__ADS_1


Setelah selesai memakai masker di wajah masing-masing, keduanya merebahkan diri di atas ranjang sambil menunggu masker tersebut kering. Sepuluh detik ... satu menit dan akhirnya mereka tertidur pulas di menit kesepuluh.


Mereka semakin tidur lelap karena angin yang berhembus mesra lewat jendela kamar yang terbuka lebar. Mereka benar-benar lupa jika saat ini wajahnya dipenuhi masker berwarna putih.


"Astagfirullahhaladzim!" teriak bu Kokom saat masuk ke dalam kamar Yulia. Beliau terkejut karena melihat wajah putih putrinya.


"Bisa-bisanya mereka berdua enak-enakan tidur! membiarkan aku jaga warung sendirian!" ujar bu Kokom seraya menggulung lengan dasternya sebelum beraksi.


"Tolong! tolong! tolong!"


"Ada banjir ... banjir .... banjir!" teriak bu Kokom sambil menabuh bagian belakang panci dengan centong. Beliau memukul keras panci tersebut di dekat telinga Shasa dan Yulia.


"Banjir? dimana banjir? aduh Aa Christian ... tolongin aku!" teriak Shasa seraya duduk di ranjang, ia belum sepenuhnya sadar karena terkejut mendengar suara bu Kokom.


"Aduh, Ma! sakit, Ma!" ujar Shasa saat telinganya dijewer bu Kokom tanpa ampun.


"rasain tuh! sakit 'kan? ini hukuman untuk anak yang membiarkan ibunya menunggu warung sendirian!" ujar bu Kokom dengan rahang yang mengeras, beliau pun melakukan hal yang sama kepada Yulia, telinga putri sulungnya itu bernasib sama dengan Shasa.


"Aaw!" Yulia meringis kesakitan setelah matanya terbuka lebar.


"Sekarang bersihkan wajah kalian dari kapur ini! lagian kenapa kalian harus pakai kapur di wajah? wajah kalian itu udah cantik jadi gak perlu dikapur seperti ini!" protes bu Kokom tanpa melepas tangan dari telinga kedua putrinya.


"ini masker, Ma! bukan kapur!" kilah Yulia seraya berusaha membebaskan telinganya dari tangan bu Kokom.


"Mama gak mau tau! entah itu kapur, semen ataupun pasir! yang pasti sekarang kalian harus cuci muka dan jaga warung!" ujar bu Kokom setelah melepaskan kedua tangannya.


"Mama mau tidur siang!" lanjutnya sebelum berlalu pergi dari kamar Yulia.

__ADS_1


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️ 🌹


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2