Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Aku butuh bukti!


__ADS_3

"Sha, dengarkan dulu penjelasanku!" ujar Geral setelah masuk ke dalam rumah.


Setelah melewati proses yang panjang, akhirnya ... Geral berhasil membawa Shasa pulang kembali walau dengan drama yang masih berlanjut. Geral hanya bisa menghela napasnya melihat sikap sang istri. Ia tidak pernah menyangka jika akan seperti ini jadinya.


"Aku bisa menjelaskan semuanya, Sha!" ujar Geral saat mengikuti langkah Shasa menuju lantai dua. Satu persatu anak tangga telah mereka lalui.


Mendengar hal itu, Shasa pun menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar. Ia membalikkan tubuh agar bisa menatap wajah tampan yang membuatnya resah beberapa hari ini.


"Aku tidak butuh penjelasan! Aku hanya butuh bukti! Apa yang sudah aku baca tadi malam sudah sangat jelas, Ge! Kamu bermain-main di belakangku!" sarkas Shasa dengan tatapan yang tak lepas dari wajah tampan yang ada di hadapannya.


Geral tertegun mendengar tuduhan yang dilayangkan sang istri. Ia tidak menyangka jika pikiran Shasa sedangkal itu menilai dirinya. Geral berkacak pinggang dengan pandangan yang tak lepas dari wajah cantik sang istri.


"Oke, aku akan membuktikan besok! Kita akan bertemu Mawar besok malam!" ujar Geral dengan suara yang tegas.


"Aku butuh sekarang! Aku gak butuh besok!" sergah Shasa dengan kilatan amarah yang terlihat dari sorot matanya.


"Tidak bisa! Dia tidak ada di sini sekarang!" Geral menggeleng pelan, "Besok kita akan ke rumahnya biar kamu percaya jika aku tidak ada hubungan apapun dengan dia!" ucap Geral yang berhasil membuat Shasa membelalakkan mata.


Shasa menggeleng pelan, rasanya ia tidak percaya jika Geral sampai tahu sedetail itu tentang Mawar. Perasaan itupun semakin tak karuan. Ingin percaya tapi rasanya susah. Kecewa. Mungkin itulah rasa yang semakin tertumpuk dalam hati. Shasa menghentakkan kakinya beberapa kali sebelum meninggalkan Geral begitu saja.


"Salah lagi!" Geral membuang napasnya kasar setelah melihat sikap Shasa saat ini.


Geral mengayun langkah menuju balkon yang ada di lantai dua. Ia menghempaskan diri di sofa panjang yang ada di sana. Sebungkus rokok pun akhirnya dikeluarkan dari saku celana.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Geral pada dirinya sendiri. Ia mengeluarkan ponsel dari saku dalam jaketnya.


Kepulan asap rokok mulai mengudara di balkon itu. Tangan kiri Geral bergerak lincah di layar ponselnya. Ia terlihat sedang menghubungi seseorang, entah siapa yang sedang dihubungi suami Maisha itu.


"Jangan sampai istriku curiga!" ucap Geral saat panggilan tersebut terhubung dengan seseorang yang ada di sebrang sana, "Kamu harus bisa meyakinkan istriku!" ucapnya lagi sebelum panggilan berakhir.


Sebatang rokok telah habis. Geral beranjak dari sana karena rasa lapar mulai mendera. Mau tidak mau ia harus turun ke ruang makan. Ragu. Itulah yang dirasakan Geral saat ini, ia ragu mengajak istrinya sarapan bersama. Akhirnya, Geral memutuskan sarapan sendiri.

__ADS_1


"Bu Nar, tolong antar sarapan ke kamar, istri saya sedang merajuk," ucap Geral saat menemui ART nya di dapur.


"Baik, Den," ucap bu Narti sebelum Geral berlalu dari dapur.


Suara denting sendok dan garpu menemani Geral saat ini. Keduanya seakan menjadi melodi di tengah rasa sepi yang Geral rasakan saat ini. Sarapan tanpa orang terkasih yang selalu ada bersamanya.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Sha! Sampai kapan pun kamu adalah milikku!" ucap Geral setelah selesai sarapan.


...💠💠💠💠...


Sang raja sinar berada di cakrawala barat. Setelah menampakkan keangkuhannya, kini sang raja akan kembali ke singgasananya. Siluet jingga pun tergambar jelas di sana—mengiringi pergerakan sang raja kembali.


Hari ini adalah hari yang ditunggu Shasa sejak kemarin. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan seseorang bernama Mawar. Sosok yang meresahkannya beberapa hari ini.


"Ini masih lama kah?" tanya Shasa karena mobil yang dikendarai Geral tak kunjung sampai, hampir satu jam mobil itu menyusuri jalanan kota.


"Sebentar lagi," jawab Geral tanpa mengalihkan pandangan ke arah Shasa. Ia fokus dengan kemudinya.


"Kenal di mana sih dia? Kenapa jauh sekali!" gerutu Shasa dalam hatinya.


Tidak terasa mobil itu terus melaju hingga sampai di daerah Lembang saat langit mulai redup. Sang raja sinar pun hampir menghilang dari langit yang membentang luas.


"Kenapa kita menemui dia di Villa?" tanya Shasa ketika Geral mengarahkan mobilnya masuk ke gerbang salah satu villa bernama D'Green.


"Dia memang kerjanya di sini!" jawab Geral setelah menghentikan mobil di tempat parkir yang tersedia.


"Jadi, kemarin kamu mendapat pelayanan memuaskan di sini?" Shasa meyakinkan rasa penasaran yang ada di dalam dada.


"Sudahlah, buruan turun! Jangan menerka yang tidak-tidak!" ujar Geral sebelum membuka pintu mobil.


Langit benar-benar berubah menjadi gelap karena pasukan bintang sepertinya belum datang. Sang dewi malam pun masih tersembunyi di balik awan. Cuaca dingin mulai terasa saat Shasa keluar dari mobil.

__ADS_1


"Kenapa sepi sekali, Ge?" tanyanya lagi saat menyusuri taman yang temaram.


"Di sini tempat menenangkan pikiran, jadi ... wajar saja kalau sepi," jawab Geral tanpa menatap Shasa.


Setelah melewati halaman luas villa, akhirnya sepasang suami istri itu sampai di depan pintu masuk. Keduanya berdiri di sana, Geral mengetuk pintu itu beberapa kali. Namun, di saat ketukan terakhir, tiba-tiba saja semua lampu menjadi padam.


"Geral! Aku takut!" teriak Shasa. Ia reflek memeluk tubuh tegap sang suami dengan erat.


"Tenanglah, Jangan takut! Mungkin di sini sedang ada pemadaman," ucap Geral dengan tenangnya.


Shasa memejamkan matanya. Ia takut akan melihat penampakan seperti yang ada di film-film horor karena ini adalah tempat asing baginya. Shasa pun tidak protes saat Geral membawanya masuk ke dalam villa tanpa menunggu sang pemilik.


"Ge, nanti kita dikira maling kalau masuk ke tempat orang tanpa permisi," ucap Shasa tanpa melepaskan pelukannya.


"Di sini sudah terbiasa orang-orang keluar masuk," jawab Geral dengan santainya.


Langkah Shasa harus terhenti saat Geral berusaha melepaskan tangannya dari tubuh tegap itu. Tentu saja hal itu semakin membuat Shasa ketakutan. Ia takut ada sesuatu yang membuatnya terluka setelah ini, "Dalam hitungan ketiga, bukalah matamu, Sha!" ucap Geral di dekat telinga Shasa.


"Satu,"


"Dua,"


"Tiga,"


Perlahan Shasa mulai membuka kelopak matanya. Ia tidak mau terburu-buru karena takut terkejut setelah melihat apa yang ada di hadapannya. Bayang-bayang wanita cantik bertubuh sexy berhasil memenuhi pikirannya. Namun, semua bayangan itu sirna begitu saja setelah Shasa membuka matanya. Ia membekap mulutnya setelah melihat apa yang ada di hadapannya saat ini.


"Aku seperti mimpi," gumamnya sambil menepuk pipinya sendiri.


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️🌹


...🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2